Dalam kalender hijriah, Sya‘ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriyah, terletak di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan ini, dalam sebagian riwayat, sering kali dilupakan orang. Padahal, bulan ini mengandung keistimewaan yang tak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Nabi Muhammad saw. menegaskan keistimewaan Sya‘ban dalam sebuah hadis:
“Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadan. Ia adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan semesta alam, dan aku ingin ketika amalku diangkat, aku sedang berpuasa.”
(HR. an-Nasa’i)
Hadis ini mengandung dua pesan penting. Pertama, Sya‘ban adalah bulan yang sering dilalaikan. Kedua, justru pada bulan yang dilalaikan inilah amal-amal manusia diangkat secara tahunan kepada Allah. Dalam tradisi kenabian, Sya‘ban adalah fase persiapan spiritual yang sangat menentukan kualitas Ramadan.
Diangkatnya Amal dan Etika Persiapan
Dalam Kitab Ma Dza fi Sya’ban karangan Sayyid Muhammad al-Maliki, bahwa di bulan Sya’ban, amal seseorang diangkat kepada Allah SWT. Dalam suatu riwayat, Nabi SAW bersabda,
عَنْ أُسَامَةُ بنُ زَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنهما, قَال: قلتُ يَا رَسُولَ اللهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِن شَهْرٍ مِنَ الشُّهورِ مَا تِصُومُ شَعْبَانَ قَالَ ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفَلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ العَالَمِينَ وَأُحِبُّ أَنْ يُرفعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya, “Dari Usamah bin Zaid ra, ia berkata: aku berkata, ‘wahai Rasulullah saw, aku tidak pernah melihatmu berpuasa di suatu bulan melebihi puasamu di bulan Syaban’. Rasulullah saw berkata, ‘Itu adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang sering dilupakan manusia, padahal itu adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Tuhan semesta alam, dan aku suka amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.’” (HR. An-Nasa’i).
Konsep “diangkatnya amal” dalam hadis tersebut bukan sekadar informasi teologis, melainkan juga etika spiritual. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pengangkatan amal memiliki beberapa tingkatan: harian, mingguan, dan tahunan. Pengangkatan tahunan terjadi di bulan Sya‘ban. Artinya, Sya‘ban adalah momen evaluasi besar dalam perjalanan ibadah manusia selama setahun.
Dalam perspektif Qur’ani, ide tentang pencatatan dan pengangkatan amal sejalan dengan firman Allah:
“Dan sesungguhnya bagi kamu ada malaikat-malaikat yang mencatat, yang mulia dan mencatat (amal-amalmu).” (QS. al-Infithar: 10–11)
Puasa Sunnah Sya‘ban
Salah satu ciri paling menonjol dari praktik Nabi di bulan Sya‘ban ialah intensitas puasa sunnah. Dalam riwayat Aisyah ra., disebutkan bahwa Nabi hampir berpuasa sepanjang Sya‘ban, kecuali beberapa hari saja. Gemarnya Nabi saw dalam berpuasa di bulan ini adalah guna persiapan menghadapi bulan Ramadan dan sebagai bentuk pengagungan.
لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
Artinya, “Nabi saw tidak pernah berpuasa di suatu bulan lebih banyak dibandingkan dari bulan Sya’ban. Sesungguhnya beliau pernah berpuasa di seluruh bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari)
Puasa Sya’ban, dalam hal ini, melatih tiga hal sekaligus, yakni pengendalian diri, kemurnian niat, dan kesinambungan ibadah. Dalam perspektif tasawuf, bulan Sya’ban adalah fase takhalli—mengosongkan diri dari kebiasaan buruk—sebelum memasuki fase tahalli dan tajalli di bulan Ramadan.
Mengapa Sya‘ban Sering Kita Lewati?
Ada beberapa alasan mengapa Sya‘ban kerap terabaikan. Pertama, secara budaya, perhatian publik lebih tertuju pada Rajab (dengan berbagai tradisi) dan Ramadan (dengan atmosfer ibadah massal). Kedua, Sya‘ban tidak memiliki ritual kolektif sebesar dua bulan tersebut, sehingga ia tenggelam dalam rutinitas.
Ketiga, dalam kehidupan modern, banyak orang justru menggunakan Sya‘ban untuk “menunggu Ramadan”, bukan untuk menyiapkannya. Padahal, menunggu tanpa persiapan adalah bentuk kelalaian yang “disengaja”.
Dalam konteks pendidikan spiritual, Sya‘ban semestinya menjadi bulan persiapan, mulai penataan niat, persiapan fisik guna menyambut datangnya Ramadan. Misalnya, apa yang ingin kita perbaiki di Ramadan? Kebiasaan apa yang ingin kita tinggalkan? Relasi apa yang perlu kita benahi—dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan diri sendiri?
Di sinilah relevansi Sya‘ban bagi generasi hari ini. Semoga kita mampu menghiasi bulan Sya’ban dengan amalan yang shalih sekaligus persiapan untuk menyambut datangnya bulan Ramadan.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini