Rahmat Allah Meliputi Segala Sesuatu

Di antara sifat Allah yang paling sering dihadirkan dalam kesadaran keimanan seorang Muslim adalah rahmah—kasih sayang yang tak berbatas, tak bersyarat, dan tak terputus. Rahmat Allah tidak hanya hadir dalam momen-momen sakral ibadah, tetapi mengalir dalam seluruh denyut kehidupan manusia: dalam rezeki yang terus diberikan meski sering dilalaikan, dalam petunjuk yang datang meski kerap diabaikan, dan dalam ampunan yang terbuka meski dosa berulang dilakukan.

Rahmat Allah meliputi segala aspek kehidupan, baik dalam bentuk rezeki, petunjuk, maupun pengampunan. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-A’raf ayat 156: 

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ 

Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu (QS Al-A’raf: 156). 

Ayat ini menegaskan bahwa kasih sayang Allah SWT mencakup seluruh makhluk—baik benda hidup maupun mati, serta beriman maupun kafir—menunjukkan betapa luasnya kasih sayang-Nya. Dari ayat ini, kita memahami bahwa rahmat Allah tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Ia meliputi semua makhluk, baik di dunia maupun di akhirat. 

Semuanya Rahmat Allah SWT

Tidak ada yang tidak rahmat. Semuanya rahmat Allah SWT. Semua yang terjadi dalam kehidupan kita, apakah itu baik ataupun buruk, adalah atas kuasa dan kehendak-Nya. Jikalau kita dapat berbuat baik itu murni digerakkan oleh Allah. Sebaliknya, jika dalam satu waktu kita ditakdir berbuat keburukan, maka Allah memberi kesempatan kita untuk kembali memperbaikinya melalui taubat. 

Kesadaran ini dengan sangat halus diungkapkan oleh Ibn ‘Aṭā’illah as-Sakandarī dalam Al-Ḥikam,

إلهي كلما أخرسني لؤمي أنطقني كرمك، وكلما آيستني أوصافي أطمعتني مننك

“Wahai Tuhanku, setiap kali kehinaanku membuatku terdiam (tak berani berharap), kemurahan-Mu membuatku kembali mampu berbicara. Setiap kali sifat-sifat burukku membuatku berputus asa, anugerah-anugerah-Mu kembali menumbuhkan harapanku.”

Dalam bahasa yang sederhana, Ya Allah jika saya tidak layak mendapat rahmat-Mu, maka rahmat-Mu lah yang layak mendapatkan saya. Artinya, amal kita tidak akan sampai meraih rahmat Allah. Tapi rahmat Allah cukup untuk meraih kita. Begitupun, tatkala saya putus asa karena sifat-sifat yang buruk, maka limpahan anugerah-Mu menyalakan kembali harapanku.

Hal senada juga disampaikan al-Suyūṭī dalam al-Durr al-Mantsūr

رَحْمَتُهُ في الدُّنْيا عَلى خَلْقِهِ كُلِّهِمْ يَتَقَلَّبُونَ فِيها

Rahmat-Nya di dunia meliputi seluruh makhluk-Nya; mereka semua hidup dan bergerak dalam limpahan rahmat itu.

Gambaran tentang betapa luasnya rahmat Allah sebenarnya sudah dihadirkan Nabi ﷺ dengan cara yang sangat menyentuh dan dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Muslim dari Salman r.a.

وأخْرَجَ أحْمَدُ ومُسْلِمٌ، عَنْ سَلْمانَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قالَ: «إنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ، فَمِنها رَحْمَةٌ يَتَراحَمُ بِها الخَلْقُ، وبِها تَعْطِفُ الوُحُوشُ عَلى أوْلادِها، وأخَّرَ تِسْعَةً وتِسْعِينَ إلى يَوْمِ القِيامَةِ

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dari rahmat-rahmat itu, satu rahmat digunakan oleh seluruh makhluk untuk saling berkasih sayang. Dengan rahmat itulah seluruh makhluk saling menyayangi, dan dengannya pula binatang-binatang buas berbelas kasih kepada anak-anaknya. Adapun sembilan puluh sembilan rahmat lainnya, Allah menangguhkannya hingga Hari Kiamat.”

Pemahaman ini diperdalam oleh Fakhruddin ar-Rāzī dalam Mafātīḥ al-Ghaib dengan menukil kaum Mu’tazilah,

الرَّحْمَةُ عِبارَةٌ عَنْ إرادَةِ الخَيْرِ، ولا حَيَّ إلّا وقَدْ خَلَقَهُ اللَّهُ تَعالى لِلرَّحْمَةِ واللَّذَّةِ والخَيْرِ؛ لِأنَّهُ إنْ كانَ مُنْتَفِعًا أوْ مُتَمَكِّنًا مِنَ الِانْتِفاعِ فَهو بِرَحْمَةِ اللَّهِ مِن جِهاتٍ كَثِيرَةٍ، وإنْ حَصَلَ هُناكَ ألَمٌ فَلَهُ الأعْواضُ الكَثِيرَةُ، وهي مِن نِعْمَةِ اللَّهِ تَعالى ورَحْمَتِهِ فَلِهَذا السَّبَبِ

Kaum Mu‘tazilah berpendapat bahwa rahmat adalah ungkapan tentang kehendak untuk menghadirkan kebaikan. Tidak ada satupun makhluk hidup kecuali Allah Ta‘ala menciptakannya untuk rahmat, kenikmatan, dan kebaikan. Sebab, apabila makhluk itu memperoleh manfaat atau memiliki kemampuan untuk memperoleh manfaat, maka semua itu terjadi karena rahmat Allah dari berbagai sisi. Dan jika pada dirinya terdapat rasa sakit atau penderitaan, maka baginya disediakan banyak kompensasi (balasan pengganti), yang semuanya merupakan bagian dari nikmat dan rahmat Allah Ta‘ala. Oleh karena itulah hal tersebut terjadi.

Bahkan ketika hidup menghadirkan rasa sakit, penderitaan, dan kesempitan, ar-Rāzī menegaskan bahwa Allah tidak membiarkannya kosong tanpa makna. Selalu ada a‘wāḍ—kompensasi dan balasan pengganti—yang disiapkan Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Dan kompensasi itu sendiri adalah bagian dari nikmat dan rahmat-Nya. Dengan kata lain, penderitaan bukan berarti tanda akan absennya rahmat, melainkan sering kali bentuk rahmat yang belum kita sadari sepenuhnya.

Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini