Hakikat Ibadah Menurut Para Ulama

Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam bukunya, Rakâ’iz al-Îmân baina al-‘Aql wa al-Qalb mengutip pendapat Ja‘far ash-Shâdiq tentang hakikat ibadah, yaitu bahwa ibadah yang sesungguhnya baru dapat mewujud bila seseorang memenuhi tiga hal: Pertama, tidak menganggap apa yang berada dalam genggaman tangannya (kewenangannya) sebagai milik pribadinya, karena seorang ‘abd tidak memiliki sesuatu pun, apa yang dimilikinya adalah milik siapa yang kepadanya dia mengabdi.

Baca Juga: Moderasi Islam dalam Pemikiran Fiqh dan Tasawuf Syekh Muhammad Nawawi Banten

Kedua, menjadikan segala aktivitasnya berkisar kepada apa yang diperintahkan oleh siapa yang kepada-Nya dia beribadah atau mengabdi serta menjauhi larangan-Nya. Ketiga, tidak mendahului-Nya dalam mengambil keputusan, serta mengaitkan segala apa yang hendak dilakukannya dengan izin serta restu siapa yang kepada-Nya dia beribadah.

Ketiga unsur yang merupakan hakikat ibadah seperti dikutip oleh Muhammad al-Ghazali di atas berbeda dengan pendapat Mustafa Zed yang mengemukakan dalam bukunya, Falsafah al-‘Ibâdah fî al-Islâm, bahwa ibadah memunyai dua unsur pokok yang tanpa keduanya ibadah tidak diterima, yaitu kesempurnaan ketundukan kepada Allah dan kesempurnaan kecintaan kepada-Nya. Selanjutnya ulama itu menambahkan uraiannya dengan mengutip Ibnu Taimiyah bahwa tingkat pertama dari cinta adalah hubungan, dalam arti keterpautan hati kepada yang dicintai.

Menjadikan cinta sebagai salah satu unsur dan syarat diterimanya ibadah merupakan satu hal yang perlu diteliti dan dibuktikan dengan argumen-argumen keagamaan; kecuali bila yang dimaksud dengan ibadah adalah puncak tertinggi dari pengamalan ibadah. Ini tidak berarti bahwa ketundukan kepada Allah dan ibadah kepada-Nya tidak sah atau tidak diterima apabila tidak dibarengi dengan cinta kepada- Nya, karena—seperti tulis Ibnu Sina dalam bukunya, al-Isyârât wa al- Tanbîhât—beribadah kepada Allah dapat lahir dari tiga macam motivasi, yaitu karena dorongan takut, dorongan meraih surga, atau karena dorongan cinta kepada-Nya.

Baca Juga: Merenungi Tanda-Tanda Kebesaran Allah Swt lewat Isyarat Kauniyah

Dari ayat-ayat al-Qur’an ditemukan aneka perintah beribadah baik dengan tujuan menghindar dari siksa-Nya, seperti firman-Nya: Wahai manusia sembahlah Tuhanmu yang menciptakan kamu dan (menciptakan) orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (terhindar dari siksa) (QS. al-Baqarah [2]: 21).

Terdapat juga ayat-ayat yang memerintahkan untuk mengingat nikmat-Nya (QS. al-Baqarah [2]: 40) serta mengingat-Nya (QS. al-Baqarah [2]: 152), dan tentu saja melaksanakan perintah mengingat itu merupakan salah satu bentuk ibadah.

M. Quraish Shihab, M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui (Tangerang Selatan: Penerbit Lentera Hati, 2010), hlm. 3.