Belajar Ikhlas dengan Memurnikan Niat

Mereka tidak diperintahkan kecuali hanya menyembah Allah dalam keadaan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar),’ (Qs. Al-Bayyinah/ 98: 5)

Ayat di atas membimbing kita untuk berefleksi soal ibadah dan ikhlas. Dua hal esensial yang sangat memengaruhi pola perilaku keseharian kita. Sebagaimana Allah bertujuan menciptakan manusia kecuali untuk beribadah, maka sejatinya niat ikhlas adalah ruh dari amal harian kita. Namun sebenarnya, apa arti dari niat dan ikhlas?

Niat atau dalam Bahasa Arab niyyah lahir berbagai aneka makna, antara lain biji atau sesuatu yang keras atau kuat berada di dalam sesuatu. Demikian Prof. Dr. Quraish Shihab mengungkapkan dalam karyanya Kosakata Keagamaan; Makna dan Penggunaannya. Lebih lanjut, dari akar kata yang sama pula, lahir makna-makna di antaranya arah, tujuan, kebutuhan, harapan, tekad dan mengantar. Derivasi makna tersebut mengisyaratkan bahwa pelakunya menanamkan dalam hatinya tekad untuk melakukan satu aktivitas menuju satu tujuan dan arah tertentu, dan diharapkan dapat menumbuhkembangkan pohon yang berbuah. Dalam konteks pengertian istilah kebahasaan, kata niat diartikan sebagai kehendak/ tekad untuk melakukan sesuatu yang bersumber dari dalam jiwa seseorang.

Niat didahului oleh ide yang ada di dalam benak, lalu dimantapkan oleh akal dan jiwa. Pemantapan akal lahir dari pengetahuan tentang objek niat, sedang pemantapan jiwa dibutuhkan untuk menghasilkan dorongan melakukannya. Pengetahuan tentang objek niat bukan saja nama kegiatan yang akan dilakukan tetapi bagaimana rukun dan syarat-syaratnya benar. Sedang pemantapan jiwa bertujuan menghindarkan diri dari segala yang dapat mencederai niat pendekatan diri kepada Allah dan keikhalasan kepadanya.

Begitu pentingnya esensi niat sehingga madzhab Syafi’I dalam hal niat puasa ramadan misalnya, menekankan pentingnya niat diulang setiap hari agar memantapkan tekad sambil melakukan instrospeksi tentang puasa tahun lalu guna dilengkapi kekurangannya dan lebih ditingkatkan kualitasnya.

Niat sangat sejalan dengan ikhlas yang dimana ikhlas dari segi bahasa terambil dari kata kha-la-sha yang maknanya berkisar pada membersihkan dari yang bukan unsurnya. Ibarat sebuah wadah terdapat sesuatu yang mencampurinya, maka upaya mengeluarkan sesuatu itu disebut mengikhlaskannya. Unsur luar yang telah disingkirkan darinya disebut khalish yang seringkali disebut dengan murni. Berbeda dengan lafadz/ kata shafi yakni sesuatu yang bentuknya tetap, tidak tercampur sesuatu yang menodainya. Kata ini biasa diterjemahkan dengan ‘suci’. Jika sesuatu yang tadinya murni lalu bercampur dengan benda lain lalu dibersihkan sampai hilang kandungan yang mencampurinya, maka yang tadinya shafi (suci) tidak lagi wajar dinamai shafi namun ia dinamai khalish.

Mengenai ikhlas, Ali bin Muhammad al-Jurjani (1413-9331 M) dalam bukunya al-Ta’rifat mengemukakan beberapa penjelasan tentang hakikat ikhlas antara lain, ‘Anda tidak menuntut satu pihak pun untuk melihat amal Anda kecuali Allah’ atau dalam kata lain pembersihan aneka kegiatan dari segala kekeruhan. Atau, ikhlas adalah tabir antara manusia dengan Allah sehingga malaikat tidak mengetahuinya untuk dia tulis, setan pun tidak agar dia tidak merusaknya. Pun nafsu. Nafsu juga tidak mampu menyelewengkannya. Lebih jauh al-Jurjani menjelaskan perbedaan antara ikhlas dan kejujuran. Kejujuran adalah sumber, wujudnya berada sebelum ikhlas karena keikhlasan ialah hasil kejujuran. Di sisi lain, keikhlasan tidak dapat mewujud kecuali setelah seseorang melangkah dalam aktivitas.

Terakhir, Quraish Shihab menguraikan untuk mewujudkan keikhlasan sekaligus menghindari riya’, para pakar menganjurkan agar mengurangi penampakan amal walau menampakkannya pun tidak dilarang Allah (Qs. 2/ 271). Sebagaimana pula dianjurkan untuk menjauhi popularitas atau pujian dan selalu menganggap diri masih berkekurangan. Sehingga, esensi niat dalam aktivitas harian begitu penting. Sesederhana dalam aktivitas makan. Apakah dengan memakan nasi beserta lauk pauknya diniatkan agar tubuh kuat dan mampu melakukan ibadah ataukah hanya sekedar menghilangkan rasa lapar? Demikian. Allahu a’lam.

Dr. Ina Salmah Febriani, M.A., Ustadzah di Cariustadz.id

Tertarik mengundang ustadz Dr. Ina Salmah Febriani, M.A? Silahkan klik disini