Tahun 2025 telah lewat dengan berbagai pernak pernik kisahnya. Kini saatnya kita menatap 2026 dengan penuh semangat dan optimisme. Selain dua hal itu, ada tiga hal yang harus kita pehami dan miliki di tahun ini supaya hidup menjadi lebih tenang dan menyenangkan. Yakni memahami perbedaan, membiasakan diri bertabayyun dan menghiasi diri dengan sikap legowo.
Perbedaan; Sumber Perpecahan atau Persatuan?
Allah sengaja mendesain kita manusia dengan aneka perbedaan. Mulai dari genetik (al-Hujurat [49]: 13), jenis kelamin (an-Nisa [4]: 1), skill (QS. al-Isra’ [17]: 84), status sosial (al-Hasyr [59]: 7) dan bahkan kecenderungan dalam berkeyakinan (al-Kafirun). Semua ini supaya roda kehidupan bisa berjalan (az-Zukhruf [43]: 32) sekaligus sebagai bahan ujian kita dalam bermuamalah dengan sesama (al-Ma`idah [4]: 48).
Sebagai sesuatu yang dikehendaki Allah (sunnatullah), tidak seorang pun dari kita mampu menghindari perbedaan. Ia memiliki sisi positif dan negatif yang arahnya tergantung pada sikap kita. Ia akan menjadi kekuatan dan keindahan tersendiri manakala kita mampu memetakkan dan meletakkannya secara proporsional. Bukankah pelangi yang indah itu tersusun dari 7 warna yang tidak seragam?
Namun demikian, tidak jarang perbedaan itu berujung pada perselisihan dan bahkan perpecahan. Biasanya hal ini berangkat dari kesalahpahaman yang tidak segera diselesaikan. Untuk menghindarinya Islam mengajarkan tabayyun kepada kita. Melalui QS. al-Hujurat [49]: 6, ia meminta kita untuk meninjau dan mengkaji ulang setiap informasi yang datang. Terlebih jika informasi tersebut berasal dari orang yang menurut agama kurang terpercaya.
Tabayyun; Pintu Utama Keselamatan
Melalui percakapan singkat dengan iblis (al-A’raf [7]: 11-12), Allah Yang Maha Tahu mengajari kita untuk ber-tabayyun secara langsung. Di sana, Allah menanyakan alasan ketidakpatuhan iblis terhadap perintah-Nya. “Iblis, apa yang membuatmu enggan bersujud?” tanya Allah. Iblis pun menjawab “aku lebih baik darinya Tuhan. Engkau ciptakan aku dari api sementara dia dari tanah”. Demikian gambaran ber-tabayyun yang dicontohkan untuk ‘menghindari’ kekeliruan dalam bersikap dan mengambil langkah terhadap pembangkangan iblis.
Saat menjelaskan QS. al-Hujurat [49]: 6, Imam Mutawalli asy-Sya’rawi dalam Khawathir-nya menuliskan sebab munculnya perintah ber-tabayyun. Yakni manusia itu ibnu aghyaar katsir at-taqallub. Terkadang dikenal sebagai orang yang jujur namun pada satu kesempatan berbohong. Bisa jadi juga dikenal sebagai pembohong namun di satu momen dia jujur. Dari sini, ber-tabayyun sebagai bentuk kehati-hatian menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar. Supaya tidak terjebak dalam kezaliman dan berlebihan saat mengambil langkah (Khawathir asy-Sya’rawi: 14445).
Perintah ber-tabayyun ini muncul sebagai reaksi dari informasi yang disampaikan al-Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith. Ketika itu, dia diutus untuk mengambil zakat dari perkampungan Bani Mushthaliq yang baru saja masuk Islam. Ketika hampir tiba, mereka keluar bersama-sama karena ingin menyambut kedatangannya. Namun hal ini disalahpahami oleh Sahabat yang diutus sendirian tersebut. Dia mengira akan diperlakukan buruk. Sebab sebelum masuk Islam, mereka memiliki hutang diyat kepadanya.
Akhirnya dia memutuskan putar balik kembali ke Madinah untuk melaporkan dugaannya itu. “Nabi, mereka mencegahku mengambil zakat.” Nabi pun menanyakan hal itu kepada mereka. “Tidak ya Rasul. Kami keluar bersama karena merasa senang atas kehadirannya itu.” Mari kita bayangkan, seandainya di posisi Nabi kemudian langsung menerima pengaduan Sahabat al-Walid tadi tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Sangat mungkin sekali kita akan mengambil sikap yang membawa pada penyesalan di kemudian hari.
Legowo; Benteng Pertahanan Terakhir
Setelah ber-tabayyun, tahap berikutnya adalah legowo. Sikap ini menjadi wajib manakala hasil tabayyun sulit diterima dan disatukan. Karena biasanya proses tabayyun akan memperlihatkan pihak yang ‘dirugikan’ sebab harus mengakui kelalaiannya. Pihak inilah yang harus legowo mengakui kekeliruannya dan menerima konsekuensinya.
Untuk memudahkan munculnya sikap legowo ini, yang harus kita jadikan patokan adalah ilmu dan bukan nafsu. Ilmu bersifat paten dan netral tidak pernah memihak kepada siapapun. Sementara nafsu, standarnya adalah kepuasan diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Dan bagi kita umat Islam standar ilmu tertinggi adalah Al-Qur’an dan Hadis Nabi. Melalui QS. an-Nisa’ [4] : 59 Allah menyuruh kita untuk mengembalikan aneka persoalan yang kita perselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya, yakni Al-Qur’an dan Hadis Nabi.
Akhirnya, kita harus ingat selalu bahwa perbedaan adalah sesuatu yang pasti. Kehadirannya harus dihadapi dengan senyuman. Jika terasa pahit, cukup kita tambahkan pemanis tabayyun. Dan jika masih terasa pahit juga, itu artinya kita harus memaniskan diri sendiri dengan memupuk rasa legowo. Dalam sebuah pertemuan, Prof. Nasaruddin Umar pernah menegaskan “beda boleh, pecah jangan”. Ungkapan ini menyiratkan pesan supaya apapun yang berpotensi memunculkan perpecahan, harus kita sikapi dengan bijaksana. Wallahu a’lam.
Syafi’ul Huda, S.Pd.I,M.Ag, Ustadz di Cariustadz.id
Tertarik mengundang Syafi’ul Huda, S.Pd.I,M.Ag? Silakan klik disini