“Hubungan kepada Allah itu nomor satu adalah syukur”, demikian kata Gus Baha. Banyak orang mengira bahwa hubungan dengan Allah pertama-tama dibangun melalui rasa takut (khauf), melalui ancaman dosa, atau melalui banyaknya ibadah yang dilakukan. Padahal tidak demikian adanya. Mengapa syukur menjadi nomor satu?
Karena sebelum manusia mengenal kewajiban, ia lebih dahulu menerima karunia. Sebelum diperintah salat, puasa, zakat, dan haji, manusia telah diberi kehidupan. Sebelum diminta taat, manusia telah dianugerahi mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, akal untuk berpikir, dan hati untuk merasakan. Dengan kata lain, kedudukan manusia di hadapan Allah sejak awal bukan sebagai pihak yang dituntut, melainkan sebagai pihak penerima.
Inilah yang sering luput dari kesadaran kita. Kita lebih banyak sibuk menghitung apa yang belum Allah berikan ketimbang apa yang telah Allah limpahkan. Kita lebih sering datang kepada Allah ketika membutuhkan sesuatu ketimbang menyadari bahwa kita telah menerima begitu banyak hal tanpa pernah memintanya. Ketika memperoleh rezeki, kita mengucapkan alhamdulillah. Ketika lulus ujian, mendapatkan pekerjaan, sembuh dari sakit, atau menerima kabar baik lainnya, spontan bibir kita mengucapkan syukur.
Namun, pernahkah kita bertanya: apakah syukur hanya lahir ketika sesuatu yang menyenangkan terjadi? Jika demikian, bagaimana dengan saat hidup dipenuhi kesulitan, kehilangan, atau kegagalan? Apakah syukur masih memiliki tempat di sana? Pertanyaan ini membawa kita pada dua lapisan makna syukur yang jarang disadari: syukur yang bersifat kultural dan syukur yang bersifat natural. Keduanya sama-sama penting, tetapi memiliki kedalaman yang berbeda.
Syukur Kultural: Bersyukur Karena Mendapatkan Sesuatu
Dalam kehidupan sosial, syukur umumnya dipahami sebagai respons terhadap nikmat yang terlihat. Tatkala seseorang meraih keberhasilan, ia mengadakan syukuran. Tatkala panen berlimpah, masyarakat mengadakan selametan. Ketika anak lahir, rumah baru ditempati, atau cita-cita tercapai, rasa syukur diekspresikan melalui berbagai ritual dan tradisi.
Bentuk syukur seperti ini dapat disebut sebagai syukur kultural. Ia lahir dari budaya dan pengalaman hidup manusia. Syukur muncul karena ada sesuatu yang diterima, ada peristiwa yang dianggap baik, lalu hati merespons dengan rasa terima kasih. Al-Qur’an memang mendorong manusia untuk menyadari nikmat-nikmat Allah yang tampak. Allah berfirman:
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman [55]: 13)
Ayat ini berulang sebanyak 31 kali dalam Surah Ar-Rahman, seolah mengingatkan manusia agar tidak lupa terhadap berbagai anugerah yang mengelilinginya. Udara yang dihirup, makanan yang dimakan, keluarga yang dicintai, kesehatan, dan berbagai kemudahan hidup merupakan alasan yang wajar untuk bersyukur.
Namun syukur yang hanya bertumpu pada peristiwa memiliki kelemahan. Tipikal syukur semacam ini bisa berubah mengikuti keadaan. Ketika nikmat datang, misalnya, syukur menguat. Ketika musibah hadir, syukur melemah. Ketika harapan terpenuhi, hati lapang. Ketika harapan gagal, hati mengeluh. Karena itu, Al-Qur’an menunjukkan bahwa syukur sejati tidak boleh bergantung sepenuhnya pada situasi yang menyenangkan.
Syukur Natural: Bersyukur Karena Kita Ada
Namun ada jenis syukur yang kedua yang lebih mendasar, yakni syukur yang lahir dari kesadaran akan keberadaan itu sendiri. Ini dapat disebut sebagai syukur natural. Mensyukuri karena keberadaannya. Syukur natural tidak bertanya, “Apa yang saya dapat hari ini?” melainkan, “Mengapa saya bisa ada hari ini? Mengapa saya hidup?”
Keberadaan manusia sendiri merupakan sebuah keajaiban yang acapkali kita lupakan. Tidak seorang pun memilih kapan ia dilahirkan. Tidak seorang pun mendesain bentuk tubuhnya sendiri. Tidak seorang pun mengatur bagaimana jantungnya berdetak sejak masih berada dalam kandungan. Kata Allah dalam firman-Nya,
هَلْ اَتٰى عَلَى الْاِنْسَانِ حِيْنٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْـًٔا مَّذْكُوْرًا
Bukankah telah datang kepada manusia suatu waktu dari masa, yang ketika itu ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS. Al-Insan [76]: 1)
Ayat ini membawa kita kembali kepada kesadaran paling dasar: dahulu kita tidak ada. Keberadaan kita bukan hasil rancangan diri sendiri. Kita hadir karena kehendak Allah. Kesadaran inilah yang memicu sekaligus melahirkan syukur natural. Bahkan sebelum mendapatkan harta, jabatan, atau keberhasilan, manusia sebenarnya sudah memiliki alasan yang cukup untuk bersyukur: karena ia hidup.
Menariknya, sebagian besar nikmat terbesar dalam hidup kita justru bekerja tanpa campur tangan kita. Kita makan, namun tidak mengendalikan proses pencernaan. Kita bernapas, tetapi tidak mengatur jutaan pertukaran oksigen yang terjadi di paru-paru. Jantung berdetak sekitar seratus ribu kali sehari tanpa pernah meminta izin kepada kita.
Allah berfirman:
وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ
(Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Adz-Dzariyat [51]: 21)
Ayat ini mengajak manusia untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai objek perenungan. Semakin dalam seseorang memahami tubuhnya, semakin ia menyadari betapa sedikit kendali yang dimilikinya atas kehidupan yang dijalaninya.
Seseorang dapat membeli rumah mewah, tetapi tidak dapat membeli satu detak jantung tambahan ketika ajal tiba. Ia dapat membeli makanan mahal, tetapi tidak mampu memerintahkan lambungnya untuk bekerja jika Allah menghentikan sistem tubuhnya. Kesadaran semacam ini melahirkan kerendahan hati. Kita menyadari bahwa hidup bukan semata hasil kerja keras, melainkan juga karunia yang tak terhitung.
Syukur Sebagai Cara Pandang Kehidupan
Syukur natural mengubah cara manusia melihat dunia. Ia tidak lagi melihat nikmat hanya sebagai sesuatu yang datang sesekali, tetapi sebagai kenyataan yang selalu hadir. Bahkan ujian hidup pun dapat menjadi nikmat karena melalui ujian itu manusia bertumbuh, belajar, dan semakin dekat kepada Allah. Karena itu, Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan,
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya. (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak menggantungkan kebahagiaannya pada perubahan keadaan. Ia mampu menemukan makna dalam setiap kondisi. Syukur adalah kesadaran bahwa sebelum semua nikmat itu ada, kita sendiri telah lebih dahulu diberi anugerah terbesar: keberadaan. Kita hidup, bernapas, berpikir, bekerja, beribadah, mencintai, dan mengenal Tuhan. Dari titik itulah syukur yang paling mendalam bermula—bukan karena kita memiliki sesuatu, akan tetapi karena Allah menghendaki kita untuk ada.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini