As-shalātu mi‘rājul mu’min”—shalat adalah mi‘rajnya orang beriman, demikian sabda baginda Nabi saw. Ungkapan ini mengandung makna terdalam. Shalat, jika ditilik dari perspektif iman yang matang, merupakan proses pendakian ruhani—sebuah perjalanan batin menuju kehadiran Ilahi (wushul ilallah). Jika isra mi‘raj merupakan pengalaman transenden Nabi saw. sebagai Rasul, maka shalat adalah ruang mi‘raj bagi setiap mukmin sesuai kadar keimanan dan kekhusyukannya.
Tidak mengherankan jika Nabi saw. menyebut shalat sebagai qurrata a‘yun, penyejuk, ketenangan dan kebahagiaan pandangannya. Dalam shalat, Nabi menemukan puncak intimitas komunikasi dengan Allah swt., sebuah dialog eksistensial yang melampaui kata dan gerak, sekaligus menjadi sumber kekuatan untuk menyampaikan risalah kepada umat manusia.
Shalat adalah Mi’rajnya Orang Mukmin
KH Ahmad Bahauddin Nursalim—yang akrab disapa Gus Baha—pernah mengingatkan kita bahwa pengalaman mi‘raj tidak sepenuhnya berhenti pada diri Nabi Muhammad saw. Dalam batas dan kadar tertentu, setiap mukmin pun diberi peluang untuk “naik” (mi’raj) menghadap Allah Swt., dan jalan itu bernama shalat.
Itulah mengapa Rasulullah saw. bersabda, ash-shalātu mi‘rājul mu’minīn—shalat adalah mi‘rajnya orang-orang beriman. Karena shalat adalah peristiwa yang spesial dalam proses Isra’ Mi’raj. Nabi Muhammad saw menemui Allah secara langsung untuk menerima perintah shalat.
Dalam proses mi’raj, Nabi melewati beberapa jenjang dan tahapan hingga langit ketujuh (sidratul muntaha). Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam Sirah Nabawiyah menjelaskan, saat mi’raj Nabi bertemu dengan delapan nabi disertai berbagai kisah yang mengandung hikmah mendalam, di antaranya: Nabi Adam pada langit pertama, Nabi Yahya pada langit kedua, Nabi Isa pada langit ketiga, Nabi Idris pada langit keempat, Nabi Harun pada langit kelima, Nabi Musa pada langit keenam, dan Nabi Ibrahim pada langit ketujuh. Tentu ada banyak riwayat terkait siapa saja Nabi saw bertemu, selain nabi yang disebutkan di atas.
Ketika Nabi sampai sidratul muntaha, ada nur yang cahayanya tak terhingga sehingga memberhentikan langkah malaikat Jibril. Jibril tidak bisa masuk dan menemani Nabi saw tatkala menghadap Allah swt. Jibril pun mencoba berulang kali namun tetap tidak bisa. Sebagian riwayat mengatakan, Jibril terbakar saat masuk satu langkah, karena ia tidak diundang dalam “pertemuan” tersebut.
Sedangkan Nabi saw memiliki undangan sehingga tidak terbakar atau terhalang sesuatu apapun. Shalat bisa disebut mi’raj karena di dalamnya terdapat percakapan esensial antara Allah dan Nabi Muhammad. Percakapan itu kemudian diabadikan dalam bacaan tasyahud. Bacaan ini menjadi rukun shalat, yang jika tidak dibaca maka shalatnya tidak sah.
Ucapan, attahiyyātul mubārakātuṣ ṣalawātuth ṭayyibātu lillāh (segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan bagi Allah). Lalu Allah menjawab, as-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh (salam sejahtera, keberkahan dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu wahai Nabi Muhammad SAW). Kemudian Nabi saw menambahkan, as-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn (Salam keselamatan semoga tetap untuk kami seluruh hamba-hamba yang shalih).
Kalimat tahiyat yang dilafalkan dalam shalat sesungguhnya merepresentasikan dialog luhur antara Nabi Muhammad ﷺ dan Allah SWT. Kalimat tahiyat ini semacam menjadi ringkasan doa Rasul sekaligus jawaban Allah SWT yang dihadirkan kembali dalam setiap shalat kaum beriman.
Gus Baha menekankan bahwa di titik inilah keluhuran akhlak Nabi tampak begitu nyata. Setelah menerima salam langsung dari Allah, Nabi tidak berhenti pada dirinya sendiri, dalam arti Nabi tidak egois. Beliau segera mengingat umatnya—terutama hamba-hamba Allah yang saleh—agar turut memperoleh limpahan salam dan keselamatan dari Allah SWT. Keselamatan dan keberkahan itu dibagi, bukan dimonopoli; di situlah Nabi menunjukkan akhlak beliau bukan sosok yang egois.
Lebih jauh, Gus Baha menambahkan bahwa bacaan dalam tasyahud mengandung ganjaran yang sangat besar. Hal ini menegaskan bahwa kedudukan shalat sangatlah penting dalam Islam, yakni sebagai tiang agama (imad al-din). Ketika seseorang melafalkan as-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu itu seperti semakna, setingkat, sekualitas langsung sowan (baca: menghadap dan bertamu) Nabi Muhammad SAW. Begitupun demikian, ketika seseorang membaca as-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn, itu sama halnya ziarah wali Allah SWT seluruh dunia.
Jati Diri
Al-Jīlānī dalam Tafsir al-Jīlānī, mengungkapkan shalat, dalam lanskap sufistik, merupakan satu proses penemuan jati diri manusia tatkala dirinya merasa tidak berharga, teralineasi. Dengan shalat, ia menemukan jati dirinya kembali sebagai ibadullah (hamba Allah). Di dalam shalat, manusia kembali menemukan nilai kediriannya—bukan sebagai makhluk yang berdiri sendiri, melainkan sebagai hamba yang disapa dan disambut oleh Yang Maha Hadir.
Bagi Nabi SAW, shalat tidak sekadar kewajiban ritual alias pengguguran kewajiban semata, melainkan caranya dalam menjalin keintiman bersama Allah SWT. Shalat adalah cara Nabi menautkan dirinya kepada Tuhan. Setiap kali kerinduan itu memuncak—kerinduan untuk kembali ke hadirat Ilahi, untuk berbicara dalam keheningan yang intim, untuk keluar sejenak dari kebisingan kepentingan dunia—Nabi segera berdiri dalam shalat.
Dalam posisi khusyuk dan kontemplatif itulah, intimitas itu terbangun, mengharu-biru, hingga seluruh kegelisahan luluh. Segala yang semula terasa berat menjadi damai, tenang, dan jernih. Pada saat itu, seluruh jarak terlipat; pemisah antara hamba dan Tuhan lenyap sepenuhnya.
Firman-Nya dalam Q.S. al-Isra ayat 1,
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. al-Isra’ [17]: 1)
Nabi Muhammad saw, dengan seluruh keagungan dan kemuliaan yang melekat pada dirinya, tetap Allah SWT perkenalkan pertama-tama sebagai ‘abd—seorang hamba. Di sinilah letak rahasia keluhurannya. Sebab, puncak kemanusiaan dalam perspektif sufistik justru terletak pada kesempurnaan kehambaan. Bukan karena kekuasaan, bukan pula karena keistimewaan lahiriah, melainkan karena keterlepasan total diri di hadapan Yang Maha Mutlak.
Betapa agung kehambaan Nabi saw, hingga Allah sendiri yang “memperjalankan hamba-Nya” menuju hadirat-Nya. Ungkapan “dengan hamba-Nya” (bi ‘abdihi) menunjuk kepada kekasih-Nya, Muhammad Saw, yang pada saat itu ditanggalkan dari segala pakaian kemanusiaan (nasūt) dan dikenakan kepadanya jubah ketuhanan (lāhūt). Bukan dalam arti penghapusan kemanusiaan, melainkan pengangkatan kesadaran: dari keterikatan pada dimensi lahir menuju keterbukaan mutlak pada realitas Ilahi.
Dalam keadaan demikian, Nabi saw terbebas sepenuhnya dari belenggu kepentingan duniawi dan segala tuntutan-tuntutan kebasyarian. Seluruh tabir penentuan (ta‘ayyunāt) yang membatasi persepsi manusia terangkat darinya. Selubung kelalaian tersingkap, dan tirai-tirai penghalang runtuh, baik dari bashīrah—penglihatan batin—maupun dari penglihatan lahiriah. Yang tersisa hanyalah kejernihan kehadiran, ketika hamba berdiri tanpa sekat di hadapan Tuhan, dan Tuhan menyapa hamba-Nya dalam kedalaman yang tak terkatakan.
Lafal “pada suatu malam” (laylan), memberi isyarat bahwa perjalanan isra’ mi’raj itu terjadi pada sebagian malam—awal dan akhirnya masih berada dalam satu malam yang sama. Malam, dalam bahasa batin, ialah waktu ketika kesadaran dilepaskan dari hiruk-pikuk lahiriah, ketika tabir-tipis dunia mulai tersingkap, dan jiwa lebih siap menerima limpahan makna.
Firman-Nya, “dari Masjidil Haram” (minal masjidil haram), secara lahir menunjuk pada tempat suci yang di dalamnya diharamkan berbagai hal yang di tempat lain dibolehkan. Namun secara hakikat adalah menunjuk pada hati insan kāmil—Baitullah yang paling agung dan sejati. Di sanalah, secara mutlak, segala perhatian kepada selain Allah diharamkan. Tidak boleh sesuatu selain Allah.
Karena itu, dalam pandangan ulama tasawuf digambarkan dengan ungkapan, Lā mashhūda illā Allāh (tidak ada yang disaksikan kecuali hanya Allah), Lā ma‘būda illā Allāh (tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Allah), Lā maqṣūda illā Allāh (tidak ada yang dituju selain kepada Allah), Lā mawjūda illā Allāh (tidak ada yang terwujud di dunia dan alam semesta ini kecuali wujudnya Allah)
Sedangkan firman-Nya, “ke Masjid al-Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya”, mengisyaratkan limpahan kebaikan dan keberkahan yang tak terhingga. Dalam pandangan batiniah, ia merujuk pada Bait al-Ma‘mūr yang azali—wujud mutlak yang darinya seluruh keberadaan memancar. “Sekelilingnya” merupakan simbol tuntutan sifat-sifat dan nama-nama Ilahi yang melingkupi wujud.
Dengan demikian, shalat tidak sekadar hanya mi‘raj spiritual bagi mereka yang beriman, melainkan juga perjalanan peneguhan jati diri seorang hamba, dari keterasingan menuju kehadiran, dari ketercerabutan menuju keterhubungan, dari kerapuhan menuju ketenangan yang bersumber dari Yang Maha Esa, Allah Swt.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini