Bulan Syaban, seperti yang sudah diulas pada artikel sebelumnya, menjadi agung karena padanya keberkahan dan kemuliaan hadir. Dalam riwayat lain mengungkap keberkahan ini meliputi ampunan pada orang yang meminta ampunan, terkabulnya doa, melapangkan segala kesulitan, bahkan diluaskan nya pintu rezeki dan amal kebaikan. Semua ini bisa kita raih dengan menghidupkan malam nisyfu syaban yang sudah makin dekat dengan kita.
Di beberapa wilayah, nishfu syaban ini terkadang dinilai hanya sebagai tradisi biasa yang dilakukan oleh sebagian kelompok, namun nyatanya tidak demikian. Beberapa redaksi Hadis dari Nabi ataupun datang dari sahabat mengkonfirmasi bahwa malam nisyfu sya’ban banyak keistimewaannya, meski memang secara hukum Hadis banyak dinilai Dhaif, Munqathi’, ataupun Hasan. Menurut Imam Ibnu Hibban, tidak semua hadis keutamaan Nisyfu Sya’ban dinilai lemah, sebagian ada yang bernilai shahih. Berikut beberapa riwayat Hadis yang mengutarakan tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban melebihi hari-hari yang lainnya.
Pertama, pada malam nisyfu sya’ban, Allah mengampuni semua makhluk kecuali orang yang menyekutukan Allah dan orang yang bermusuhan. Hadis ini diambil dari riwayat al-Imam al-Thabrani dan Ibnu Hibban dari Mu’adz bin Jabal dari Nabi Saw, beliau bersabda:
إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه، إلا لمشرك أو مشاحن
Artinya; “Allah Saw melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu memberikan ampunan kepada seluruh makhluk-Nya kecuali kepada orang yang menyekutukan Allah atau orang yang bermusuhan.”
Kedua, memperbanyak berdoa, karena permintaan doa yang dipanjatkan pada malam nisyfu sya’ban akan diterima Allah. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Ali bin Abi Thalib RA, (juga dalam riwayat lain ada pada riwayat al-Imam al-Baihaqi dari Usman bin Abi al-‘Ash dari Nabi Saw), beliau bersabda:
وروي عن علي رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا يومها فإن الله تبارك وتعالى ينزل فيها لغروب الشمس إلى السماء الدنيا فيقول ألا من مستغفر فأغفر له ألا من مسترزق فأرزقه فَلاَ يَسْأَلُ أَحَدٌ شَيْئًا إِلَّا أُعْطِيْ إِلَّا زَانِيَةً بِفَرْجِهَا او مُشْرِكًا “
Artinya: “Apabila datang malam Nisfu Sya’ban, ada pemanggil (Allah) berseru: “apakah ada orang yang memohon ampun dan Aku akan mengampuninya? Apakah ada yang meminta dan Aku akan memberinya? Tidak ada seseorang pun yang meminta sesuatu kecuali Aku akan memberinya, kecuali wanita pezina atau orang musyrik.”
Ketiga, Melaksanakan shalat Sunnah Nisyfu Sya’ban yang mana Nabi juga melakukannya pada malam tersebut. Terdapat pada sebuah hadis riwayat al-Baihaqi dari Ala’ bin Harits :
عن عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَامَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم مِنَ الَّليْلِ يُصَلِّيْ فَأَطَالَ السُّجُوْدَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهاَمَهُ فَتَحَرَّكَ، فَرَجَعْتُ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُوْدِ، وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ، قَالَ: ” يَا عاَئِشَةَ أَوْ يَا حُمَيْرَاءَ ظَنَنْتَ أَنَّ النَّبِيَّ خَاسَ بِكَ؟ “، قُلْتُ: لَا وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلَكِنِّيْ ظَنَنْتُ أَنَّكَ قُبِضْتَ لِطُوْلِ سُجُوْدِكَ، فَقَالَ: ” أَتَدْرِيْنَ أَيُّ لَيْلَةٍ هَذِهِ؟ “، قُلْتُ: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ” هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِيْنَ، وَيَرْحَمُ اْلمُسْتَرْحِمِيْنَ، وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ اْلحِقْدِ كَمَا هُمْ “.
Artinya; “Sayyidah A’isyah berkisah: “Suatu malam Nabi Saw shalat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Nabi Saw telah diambil (wafat), karena curiga maka aku berdiri dan aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Nabi Saw selesai shalat beliau berkata: “Hai Aisyah, apakah engkau menduga Nabi Saw tidak memperhatikanmu?”
Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berpikiran yang tidak-tidak (menyangka Nabi Saw telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. Aku menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih tahu.” Nabi Saw berkata, “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki”
Ibadah Nishfu Sya’ban Diikuti oleh Generasi Tabiin Hingga Ulama Salaf
Ibnu Atsir dalam kitabnya an-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar, juz 2, hal.449, mengutarakan bahwa ibadah yang ada pada nishfu sya’ban ini tidak hanya berhenti di para Nabi saja, namun terus berlanjut dan diikuti oleh generas Tabiin dan Ulama Salaf. Ibnu Atsir mengungkap:
وليلة النصف من شعبان كان التابعون من أهل الشام – كخالد بن معدان ومكحول ولقمان بن عامر وغيرهم – يعظمونها ويجتهدون فيها في العبادة، وعنهم أخذ الناس فضلها وتعظيمها، وقد قيل: إنه بلغهم في ذلك آثار إسرائيلية، فلما اشتهر ذلك عنهم في البلدان اختلف الناس في ذلك؛ فمنهم من قبله منهم ووافقهم على تعظيمها؛ منهم طائفة من عباد أهل البصرة وغيرهم. وأنكر ذلك أكثر العلماء من أهل الحجاز.
« Malam Nisyfu Sya’ban selalu dilanggengkan oleh para Tabiin dari golongan syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir dan yang lainnya giat dan rajin dalam ibadah ini sampai banyak dari masyarakat syam yang menghormati bulan Nishfu Sya’ban. Meskipun memang dalam beberapa negara berselisih tentang ibadah ini, ada yang menghormatinya ada pula yang mengingkarinya (seperti mengatakan bid’ah) termasuk golongan ulama Ahlul Hijaz ».
Selanjutnya, statement yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, halaman 131, juz 23, saat ditanya tentang ibadah bulan Sya’ban dan pada malam nisyfu Sya’ban, ia mengungkap :
وَقَدْ سُئِلَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَنْ صَلاَةِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَأَجَابَ: إِذَا صَلَّى اْلإِنْسَانُ لَيْلَةَ النِّصْفِ وَحْدَهُ أَوْ فِيْ جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ طَوَائِفُ مِنَ السَّلَفِ فَهُوَ حَسَنٌ
“Ibnu Taimiyah ditanya tentang shalat malam Nisfu Sya’ban, maka ia menjawab: Apabila seseorang menunaikan shalat pada malam Nisfu Sya’ban, sendirian atau bersama jemaah tertentu sebagaimana dikerjakan oleh banyak kelompok kaum salaf, maka hal itu baik.”
Dengan begitu, nisyfu sya’ban bulan tidak hanya disebut sebagai tradisi biasa, ini sebuah anjuran yang yang mengarah pada kebaikan pada diri sendiri seperti beristighfar, mengerjakan shalat sunnah secara berjamaah, membaca al-Quran, (pada daerah tertentu ada yang khusus membaca surah Yasin saja), dan berdoa (berserah diri) pada Allah.
Rifa Tsamrotus Saadah,S.Ag, Lc, MA., Dosen STIU Darul Quran Bogor dan Ustadzah di Cari Ustadz
Tertarik mengundang ustadz Rifa Tsamrotus Saadah,S.Ag, Lc, MA.? Silahkan klik disini