Seni Merespons Kehidupan: Syukur dan Sabar

Menyikapi kehidupan membutuhkan hati yang tenang. Ada dua keadaan yang sering kali menjadi titik lemah manusia, meski keduanya tampak bertolak belakang. Ketika seseorang dianugerahi banyak kelimpahan – harta, pencapaian, atau kekuasaan – ia bisa tergelincir dalam kesombongan. Merasa cukup dengan dirinya, lupa bahwa semua yang dimiliki adalah titipan yang bisa saja hilang, dan mulai memandang orang lain dengan rendah.

Sebaliknya, ketika kehilangan datang, banyak orang jatuh ke dalam keputusasaan. Apa yang hilang terasa seperti akhir dari segalanya. Kedua kondisi ini, meski tampak bertolak belakang, sebenarnya menguji satu hal yang sama dalam diri manusia—yaitu kualitas jiwanya.

Dalam Al-Quran, Allah SWT secara eksplisit meletakkan pondasi mental untuk menghadapi pasang surut kehidupan ini. Dalam Surah Al-Hadid (57) ayat 22–23, Allah swt berfirman,

مَاۤ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ ﴿٢٢﴾ لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَاۤ اٰتٰىكُمْ ۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ ﴿٢٣﴾

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) agar kamu tidak berputus asa terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira (sombong) terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. Al-Hadid: 22-23)

Kata ta’saw berasal dari kata al-asa yang berarti kesedihan yang mendalam hingga memicu keputusasaan. Tatkala kita kehilangan sesuatu—apakah itu orang tercinta, pekerjaan, atau reputasi—rasa sakitnya acapkali membuat kita merasa hidup telah berakhir.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa kesadaran bahwa segala sesuatu telah tertulis di Lauh Mahfuz sebelum terjadi (min qabli an-nabra’aha) berfungsi sebagai peredam benturan pertama (ash-shabru ‘indash-shadmatil ula). Ketika musibah terjadi, seorang mukmin menyadari bahwa kehilangan tersebut bukanlah sebuah kebetulan yang buruk, melainkan skenario yang sudah selesai ditulis oleh Zat Yang Maha Pengasih.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menambahkan bahwa larangan ‘bersedih’ di sini tidak berarti manusia tidak boleh menangis atau merasa kehilangan. Kesedihan merupakan hal manusiawi. Yang dilarang ialah kesedihan yang menyiksa diri, yang membuat seseorang kehilangan arah, meragukan keadilan Tuhan, dan merasa tidak ada lagi hari esok. Kesadaran akan takdir inilah yang membuat manusia mampu berkata, “Ini telah berlalu, dan Allah memiliki rencana lain yang lebih baik”.

Sebaliknya, saat berada di puncak, manusia kerap mengidap delusi otonomi—merasa bahwa semua pencapaiannya adalah murni hasil kecerdasan dan kerja kerasnya sendiri, mirip dengan mentalitas Qarun yang berkata, “Sesungguhnya aku diberi harta itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku” (QS. Al-Qashash: 78).

Kata tafrahu di sini, menurut para pakar tafsir, merujuk pada kegembiraan yang melampaui batas (al-farah al-muthriq) yang melahirkan keangkuhan. Ibnu Abbas r.a. menafsirkan terkait ayat ini:

“Setiap manusia pasti pernah merasakan sedih dan gembira. Namun, jadikanlah kesedihanmu itu melahirkan ketabahan (sabar), dan jadikanlah kegembiraanmu itu melahirkan rasa syukur”.

Di akhir ayat Allah mengingatkan Dia “tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (mukhtalin fakhur). Dalam konteks ini, Al-Quran tengah mengingatkan bahwa tidak ada yang benar-benar kita miliki, semuanya itu hanyalah titipan sementara. Orang yang mukhtal (sombong karena menganggap dirinya hebat) dan fakhur (membanggakan diri di hadapan orang lain) secara tidak langsung, sebenarnya sedang membangun fondasi kebahagiaannya di atas pasir yang rapuh. Begitu titipan itu diambil, ia akan hancur seketika.

Jika ditilik lebih dalam, memiliki dan kehilangan sebenarnya bukanlah dua takdir yang berbeda. Keduanya merupakan satu paket ujian yang didesain untuk mengikis kedirian kita agar kembali kepada-Nya.

Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sangat menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya… Jika mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka hal itu amat baik baginya. Dan jika ditimpa kesusahan dia bersabar, maka hal itu amat baik baginya. (HR. Muslim)

Hadis di atas mengandung dua pesan. Pertama, kepemilikan menuntut syukur. Syukur, dalam hal ini, tidak sekadar ucapan alhamdulillah, melainkan kesadaran bahwa “saya bukanlah pemilik hakiki, semuanya ini hanyalah titipan”. Syukur mendistribusikan kelebihan yang kita miliki untuk kebermanfaatan sesama, sehingga ego kita tetap membumi.

Kedua, kehilangan menuntut sabar (keteguhan). Dalam konteks ini, bersabar bukan berarti kepasrahan yang lemah, akan tetapi sebuah aksi aktif untuk menahan diri agar tidak hancur, menata kembali puing-puing yang tersisa, dan tetap melangkah dengan harapan baru.

Dengan demikian, kita memang harus memahami bahwa kehidupan akan selalu berfluktuasi (naik-turun). Harta bisa pasang-surut, kesehatan bisa prima lalu menurun, dan manusia-manusia di sekitar kita akan datang dan pergi. Kita tidak memiliki kendali penuh atas apa yang masuk dan keluar dari hidup kita. Tetapi dengan meyakini akan kehadiran Allah dalam hidup ini, kita lebih tenang dan menjalani hidup lebih berarti dan bermakna.

Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini