Secara naratif, peristiwa Isra Mi‘raj sangat sulit diterima oleh nalar manusia. Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW mengabarkan telah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina—jarak sekitar 1.500 km—lalu melanjutkan perjalanan menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, sebelum kembali lagi ke Makkah di malam yang sama. Klaim ini tentu saja berada jauh di luar batas kewajaran empiris. Bahkan dengan kuda tercepat sekalipun, perjalanan itu membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Karena itu, wajar jika mayoritas masyarakat Makkah saat itu menolak mentah-mentah cerita tersebut. Penolakan ini tidak hanya datang dari kaum kafir, tetapi juga mengguncang sebagian orang yang telah lebih dulu menyatakan iman. Sejarawan mencatat bahwa setelah peristiwa ini diumumkan secara terbuka, sebagian orang yang sebelumnya beriman mulai ragu, sementara kaum penentang Nabi semakin yakin bahwa Muhammad adalah pembohong.
Di momen inilah peran Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjadi sangat krusial.
Menurut sejumlah riwayat, setelah mendengar pernyataan Isra-nya Muhammad, masyarakat—baik yang beriman maupun yang menolak—mendatangi Abu Bakar. Ia dikenal sebagai sahabat terdekat Nabi, orang dewasa pertama yang masuk Islam, dan figur yang dianggap paling memahami kejujuran serta konsistensi Muhammad SAW. Jawaban Abu Bakar akan menentukan: apakah keraguan itu bakal mereda atau justru berubah menjadi krisis keimanan massal.
Ketika kepadanya disampaikan kabar bahwa Muhammad mengaku begini dan begitu, Abu Bakar tidak meminta bukti, tidak meminta klarifikasi tambahan, dan tidak mencoba menalar peristiwa tersebut secara teknis. Ia hanya mengatakan, dengan sangat tenang dan tegas:
“Jika Muhammad yang mengatakannya, maka aku membenarkannya.” (Al-Lu’lu’ al-Maknun, 1/513)
Dalam riwayat lain, sikap itu digambarkan dengan pernyataan yang lebih kuat: Seandainya di hadapan Abu Bakar terbentang tembok putih, seterang siang hari, lalu Muhammad SAW berkata: ‘Itu hitam,’ maka Abu Bakar tidak akan menuduh Rasulullah keliru—ia justru akan ‘menyalahkan’ penglihatannya sendiri. (Al-Mustadrak, 5/431).
Dari sinilah Abu Bakar mendapatkan gelar ash-Shiddiq—orang yang membenarkan secara total.
Sikap Abu Bakar ini bukanlah sikap anti-akal, melainkan puncak dari konsistensi iman. Ia tidak sedang menolak logika, tetapi telah sampai pada keyakinan mendasar bahwa sumber kebenaran tertinggi dalam agama adalah kejujuran Rasulullah SAW. Ketika fondasi itu sudah kokoh, maka detail peristiwa—betapapun irasional—tidak lagi menjadi ancaman bagi iman.
Peristiwa ini sekaligus memperjelas perbedaan antara percaya dan beriman. Percaya sering kali bersyarat: membutuhkan data, saksi, dan pembuktian empiris. Sedangkan iman, dalam pengertian Qur’ani, adalah kesiapan untuk tunduk ketika kebenaran datang dari Tuhan dan Rasul-Nya, meskipun akal belum sepenuhnya mampu menjangkaunya. Al-Qur’an menyebut sikap ini dengan ungkapan sami‘na wa atha‘na—kami mendengar dan kami taat.
Dari sini pula dapat dipahami mengapa Nabi SAW pernah bersabda:
لو وزن إيمان أبي بكر بإيمان أهل الأرض لرجحت كفة أبي بكر
“Seandainya iman Abu Bakar ditimbang dengan iman seluruh penduduk bumi, niscaya iman Abu Bakar lebih berat.” (Musnad al-Faruq, 3/100, Syu’bu al-Iman, 1/69)
Sekilas, hadis ini terdengar hiperbolik. Namun jika diletakkan dalam konteks sejarah, justru terasa sangat proporsional. Iman Abu Bakar bukanlah iman yang tumbuh di tengah Islam yang sudah mapan, aman, dan diterima luas. Ia adalah iman seorang perintis—iman yang hadir ketika Islam masih minoritas, rentan, dan penuh risiko sosial. Ia membenarkan Rasul bukan saat Islam sedang kuat, tetapi justru di saat satu pernyataan Nabi berpotensi meruntuhkan seluruh bangunan komunitas Muslim yang masih sangat muda.
Refleksi ini seharusnya membuat kita rendah hati. Kita hari ini hidup di masa ketika Islam sudah dikenal, diterima, dan bahkan menjadi identitas mayoritas di banyak tempat. Keimanan kita tumbuh dalam kondisi yang jauh lebih aman dan nyaman dibanding generasi awal Islam. Maka, memuliakan Abu Bakar dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum bukan sekadar mengulang kisah lama, melainkan kesadaran bahwa iman tidak selalu menunggu logika.
Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag, Ustadz di Cariustadz.id
Tertarik mengundang Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag? Silakan klik disini