Eco-Khalifah fii Al-Ardhi: Menguatkan Peran Santri Sebagai Pelestari Bumi

Semarak Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi momentum yang ideal untuk berharap, sekaligus berefleksi diri. Di antara banyak capaian yang harus diselebrasi; apakah santri mampu menjadi poros utama figur pendidikan agama di negeri ini, sekaligus menjadi the real of eco-khalifah (fil ardhi), dalam kepekaannya menjaga dan merawat bumi?

Seiring dengan perayaan Hari Santri Nasional, kita masih berduka soal asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sebagian besar wilayah Kalimantan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 314.124 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla hingga 20 Oktober 2026. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan, kasus tersebut tersebar di tujuh provinsi yang mencakup 65 kabupaten/kota. Berdasarkan kelompok usia, sebanyak 70.890 kasus dialami anak berusia 0–5 tahun. Adapun 243.234 kasus lainnya terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun.

Berdasarkan data di atas, terlihat jelas bahwa korban rentan karhutla ialah usia anak-anak. Lebih mencengangkan lagi, jika dikritisi dari jenis kelamin, data Kemenkes menunjukkan bahwa jumlah kasus ISPA pada perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki di enam provinsi yang terdampak karhutla terparah di Kalimantan.

Bencana karhutla di Kalimantan ialah satu bencana besar setelah sebelumnya banjir bandang meluluhlantakkan Sumatera. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 1.730 kejadian bencana melanda Indonesia sepanjang Januari hingga 7 September 2026. Sebagian besar peristiwa tersebut merupakan bencana ekologis yang didominasi oleh fenomena hidrometeorologi basah dan kering di seluruh 38 provinsi.

BNPB mencatat, bencana ekologis sepanjang 2026 sangat beragam. Pertama, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Tercatat sebanyak 627 kejadian, melanda wilayah prioritas seperti Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Selatan. Kedua, Banjir: Terjadi 543 kejadian, dengan dominasi kuat pada awal tahun seperti banjir di Sumatra dan wilayah lainnya. Ketiga, Cuaca Ekstrem: Tercatat sebanyak 324 kejadian berupa angin kencang, puting beliung, dan hujan lebat. Keempat, Tanah Longsor & Kekeringan: Ratusan kejadian tanah longsor serta kekeringan yang memicu krisis air bersih dan penanganan drop-off air di berbagai daerah.

Dari sepanjang bencana demi bencana, apakah Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk meredefinisi term ‘khalifah’ fil ardhi. Kata khalifah memiliki kata dasar yang terdiri atas tiga huruf, yaitu .خ, ل, ف Kata ini disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak 127 kali dengan berbagai ragam bentuk, makna, serta derivasinya masing-masing (Rahim, 2012, hal. 22). Dalam bentuk tunggal, kata khalifah disebutkan sebanyak dua kali dalam Al-Qur’an, sebagaimana pada Q.S. al-Baqarah [2]: 30.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Quraish Shihab yang mengutip dari pendapat Muhammad Baqir al-Sadar menjelaskan bahwa khalifah yang terdapat pada ayat tersebut mengandung tiga unsur yang saling berkaitan, ditambah satu unsur eksternal yang mampu menelisik lebih jauh makna khalifah dalam perspektif Al-Qur’an.

Keempat unsur tersebut di antaranya meliputi manusia yang pada ayat ini disebut khalifah, alam raya yang disebut ardh, hubungan manusia dengan manusia lainnya dan alam seisinya, serta satu unsur eksternal yang didefinisikan dengan kata إِنِّيْ جَاعِلٌ/إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيْفَةً yang menunjukkan dalang dari penugasan ini, yaitu Allah Swt.

Adapun bentuk tunggal yang kedua terdapat pada Q.S. as-Shad [38]: 26. Pada ayat ini khalifah dimaknai sebagai الْبَدْلُ مِمَّنْ مَضَى atau pengganti dari umat terdahulu. Dengan demikian, terlihat jelas term khalifah dalam kedua ayat di atas secara spesifik ditujukan untuk dua hal yang berbeda.

Menariknya, tinjauan term khalifah menurut Quraish Shihab di atas dalam Qs. Al-Baqarah/2: 30 menisyaratkan tanggungjawab ekologis yang ada dalam diri manusia, terlepas siapapun ia. Dengan demikian, jika bumi dirusak, maka yang paling merasakan dampaknya ialah bukan hanya manusia, melainkan seluruh makhluk alam raya. Sebaliknya, jika manusia mampu mengemban Amanah ekologis ini dengan baik, maka, yang akan merasakan manfaatnya juga dirinya dan seluruh makhluk alam raya.

Lebih lanjut, term khalifah yang dalam Qs. Al-Baqarah/2: 30 mendapatkan perhatian khusus dengan diikuti term al-ardh, meniscayakan bahwa amanah ekologis sejatinya mampu dipikul oleh manusia. Mengapa? Sebab Allah telah mengaruniakan kemampuan jasmani, ruhani dan akal untuk merawat alam. Sehingga, dalam hal ini, Islam tidak pro terhadap pendapat antroposentris yang menguraikan bahwa laki-laki ialah makhluk dominan dan perusak (Nur Arfiyah Febriani, 2019). Melainkan, laki-laki dan Perempuan dengan keduanya mampu merawat alam, namun di saat yang sama, juga berpotensi merusak alam dan kekayaan yang ada di dalamnya.

Oleh karena itu, Hari Santri Nasional diharapkan mampu menjadi motor penggerak untuk bumi yang lebih asri, terawat, terjaga dan harmoni. Semua itu dimulai dari kesadaran masing-masing individu untuk bersama-sama menjaga bumi. Hari Santri Nasional dengan tagline menguatkan negeri menuju Indonesia Emas sejatinya harus mampu menaruh perhatian dan kepekaan terhadap isu Kesehatan lingkungan. Sulitnya Masyarakat memeroleh air dan udara bersih sebagai hak dasarnya, menjadi hal yang dapat kita refleksikan Bersama, bagaimana santri, sebagai sosok yang dianggap memiliki kapasitas dan kapabilitas keagamaan yang mumpuni, mampu mengemban Amanah ekologi untuk merawat bumi, tentu didukung oleh negara sebagai pemangku kebijakan di negeri ini. Hari Santri Nasional, mari perkuat peran santri untuk merawat bumi!

Dr. Ina Salmah Febriani, M.A., Ustadzah di Cariustadz.id

Tertarik mengundang ustadz Dr. Ina Salmah Febriani, M.A? Silahkan klik disini