Penderitaan Boleh Datang, Tetapi Jiwa Tetap Kuat

Tidak ada manusia yang dapat menghindari penderitaan. Kehilangan orang yang dicintai, kegagalan dalam usaha, keterbatasan ekonomi, sakit yang berkepanjangan, atau tekanan hidup yang datang bertubi-tubi adalah bagian dari kenyataan yang melekat dalam kehidupan manusia. Mengutip bahasa Al-Qur’an, kehidupan dunia memang Allah desain layaknya arena ujian yang tidak mungkin dilewati tanpa kesulitan.

Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini menarik untuk dicermati. Allah tidak mengatakan jika ujian datang, melainkan “Kami akan menguji kamu”. Artinya, penderitaan adalah keniscayaan hidup yang pasti kita alami. Ia bukan tanda bahwa Allah meninggalkan manusia, melainkan bagian dari mekanisme pendidikan Tuhan untuk mematangkan jiwa kita. Dan harus diakui, ini memang tidak mudah.

Namun ada satu hal yang sering luput dari kesadaran kita: penderitaan dan menderita bukanlah dua hal yang sama.

Penderitaan adalah realitas objektif yang hadir sebagai peristiwa. Kehilangan pekerjaan adalah penderitaan. Kematian anggota keluarga adalah penderitaan. Penyakit adalah penderitaan. Begitupun, kegagalan, tekanan hidup, keterbatasan, kehilangan dan semacamnya.

Sementara itu, menderita adalah respons batin terhadap peristiwa tersebut. Perbedaan ini penting, sebab manusia acapkali mengira bahwa beratnya hidup otomatis menuntut runtuhnya jiwa, padahal yang runtuh sering kali bukan karena peristiwanya, melainkan karena cara memaknainya.

Karena itu, dua orang yang mengalami musibah yang sama dapat menghasilkan kondisi jiwa yang sangat berbeda. Seseorang bisa kehilangan banyak hal namun tetap tenang, sementara orang lain bisa kehilangan sedikit tetapi hancur berkeping-keping. Perbedaannya bukan terletak pada besar kecilnya ujian, melainkan pada cara memaknai ujian tersebut.

Hidup Boleh Keras, Jiwa Tetap Stabil

Bayangkan hujan deras turun dari langit. Hujan adalah fakta. Ia tidak dapat kita hentikan. Namun menjadi basah tidaknya sering kali bergantung pada tindakan kita. Orang yang berteduh akan tetap kering meskipun hujan turun dengan intensitas yang sama.

Begitu pula api. Api memang panas. Namun tidak semua orang terluka oleh api. Luka muncul ketika seseorang menggenggamnya. Demikian halnya yang kita sebut penderitaan.

Kehidupan memang menghadirkan berbagai tekanan. Namun tidak semua tekanan harus berubah menjadi penderitaan batin yang berkepanjangan. Sebagian orang mampu mentransformasikan kesulitannya sebagai sarana bertumbuh, sementara sebagian lainnya membiarkan menguasai seluruh ruang jiwanya.

Dalam perspektif Islam, kemampuan ini lahir dari kesadaran bahwa hidup bukan sekadar rangkaian peristiwa, akan tetapi juga rangkaian makna.

Al-Qur’an mengingatkan:

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini menunjukkan acapkali manusia hanya melihat peristiwanya, padahal Allah melihat keseluruhan hikmah yang tersembunyi di baliknya. Oleh karenanya, penderitaan tidak selalu berarti keburukan. Bisa jadi ia merupakan jalan menuju kematangan yang tidak mungkin dicapai melalui kenyamanan.

Menjadi Dewasa secara Spiritual

Salah satu tanda kedewasaan spiritual ialah kemampuan untuk mengalami luka tanpa berubah menjadi luka itu sendiri. Seseorang boleh bersedih, tetapi tidak tenggelam dalam kesedihan. Seseorang boleh kecewa, tetapi tidak menjadikan kekecewaan sebagai identitas dirinya. Seseorang boleh gagal, tetapi tidak mendefinisikan dirinya sebagai kegagalan.

Inilah yang diteladankan oleh para nabi. Nabi Ayyub, misalnya, mengalami penyakit yang berat dan kehilangan banyak hal dalam hidupnya. Namun penderitaan itu tidak mengubahnya menjadi pribadi yang putus asa. Contoh yang lain, Nabi Ya’qub menangis karena kehilangan putranya hingga matanya memutih, namun hatinya tetap dipenuhi harapan kepada Allah.

Kisah yang lain semisal Nabi Yusuf dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, dan dipenjara tanpa kesalahan. Namun seluruh penderitaan itu tak merampas kemuliaan jiwanya. Mereka mengalami penderitaan, namun mereka tidak membiarkan penderitaan menguasai batin mereka.

Hidup memang tidak selalu ramah. Akan ada masa ketika doa terasa lama dijawab, usaha belum membuahkan hasil, dan kenyataan tidak berjalan sesuai harapan. Namun Islam mengajarkan bahwa kemuliaan manusia bukan diukur dari sedikitnya penderitaan yang ia alami, melainkan dari kualitas jiwanya ketika menghadapi penderitaan tersebut.

Penderitaan boleh datang dan “singgah sementara waktu” sebagai bagian dari takdir dan fakta kehidupan yang kita alami. Namun, ia tak boleh kita angkat sebagai identitas diri. Manusia tetap dapat mengalami luka tanpa harus berubah menjadi luka itu sendiri. Biarkan ia menjadi tamu yang mengajarkan kebijaksanaan, bukan tuan yang menguasai jiwa.

Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini