Tetaplah Memuji Allah, Walau Sedang Diberi Cobaan

Perintah untuk memuji Allah, sudah diajarkan sejak pertama kali kita membuka mushaf Al-Quran melalui ayat kedua dari Surah Al-Fatihah. Namun, seringkali kalimat Tahmid muncul dari lisan manusia ketika mereka mendapatkan nikmat atau hal-hal yang mereka inginkan semata. Ketika tak mendapatkannya? Kita akan dapati kebanyakan manusia mengeluh dan enggan memuji Allah.

Oleh sebab  itu, mari kita coba renungi sedikit apa yang Abu Hamid al-Ghazali sampaikan dalam Kitab Ihya ‘Ulumiddin 

أَوَّلُ مَنْ يُدْعَى اِلَى الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِيْنَ يَحْمَدُوْنَ اللهَ تَعَالَى عَلَى كُلِّ حَالٍ

Orang yang pertama kali dipanggil masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat adalah orang yang selalu memuji Allah dalam setiap keadaan. Baik lapang maupun sempit.

Jika memuji Allah hanya karena kita mendapatkan nikmat, maka ini hal yang biasa. Akan jadi istimewa, jika kita bisa memiliki kelegaan hati untuk tetap bersyukur meski dalam keadaan mendapat ujian dan cobaan. Contohnya? Mari kita belajar dari Nabi Ayyub AS dalam QS. Al-Anbiya: 83

وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ

(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”

Merujuk pada Tafsir al-Misbah yang ditulis oleh Abi Muhammad Quraish Shihab, pada QS. Al-Anbiya: 83 serangkaian kisah sebelum Nabi Ayyub, Allah memaparkan keistimewaan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Juga sekaligus menunjukkan bahwa dibalik setiap keistimewaan juga ada ujian. Sedang, ujian Nabi Ayyub ini adalah berupa sakit yang ia derita. Namun ada beberapa pelajaran penting yang perlu kita garis bawahi:

  1. Nabi Ayyub tidak mengeluh dan menggerutu kecuali hanya kepada Allah Swt. Juga tidak mencela ujian yang Allah beri, pada QS. Shad: 41, Nabi Ayyub menyampaikan pula bahwa jika ia mengeluh dan menggerutu merupakan ulah daripada Setan.
  2. Nabi Ayyub tetap memuji Allah dalam keadaan ini
  3. Tidak pula meminta pada Allah agar penyakitnya lekas disingkirkan. Sebab ia menyadari bahwa hidup memang harus disertai dengan ujian. Kesadaran ini membuatnya punya kesiapan untuk bersabar.
  4. Pujiannya kepada Allah Swt, mengandung makna: perlakukanlah aku sesuai dengan Kebesaran dan Keagunganmu. Hal ini Allah jawab pada QS. Al-Anbiya: 84 dan QS. Shad: 42. Setelah Nabi Ayyub hentakkan kaki lalu keluar mata air, maka Allah usaikan ujian penyakit yang Nabi Ayyub terima.

Perlu juga kita perhatikan bersama bahwa kata Adh-Dhurru (الضر) berarti “kesusahan”. Para Mufassir berbeda pandangan, ada yang menyebutnya penyakit, musibah, badan yang terlalu lemah hingga tak mampu berdiri untuk ibadah dan ada yang menyebut keterputusan wahyu yang menimbulkan kekhawatiran bahwa Allah berpaling darinya.

Tidak hanya disitu, penyakit yang diterima Nabi Ayyub merupakan ujian puncak yang ia terima. Membuatnya diusir oleh masyarakat sebab kekhawatiran penularan dari sakit. Sebelum itu, terlebih dahulu Allah uji dengan kehilangan harta, putra-putri. Bertumpuk dan bertubi, tapi tetap lisan Nabi Ayyub masih terus memuji Allah Swt.

Pembaca yang baik dan budiman, setiap kita pasti memiliki jalan ujian dan cobaan yang berbeda. Masing-masing dari kita mesti memikul peran kehidupan yang satu paket dengan nikmat dan ujiannya. Tugas kita bukan untuk membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. 

Tugas kita adalah melakukan peran sebaik mungkin; kelak waktunya, jika durasi menjalani kehidupan sudah berakhir, kita tidak akan menyesal. Sebab kita sudah berupaya menjalani hidup ini sebaik-baiknya dengan penuh kesabaran dan ketaatan pada-Nya. Wallahu A’lam.

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini