Salah satu sifat langka hari ini adalah bersikap tawadhu. Tawadhu merupakan penanda atas ketakwaan seorang hamba di hadapan Allah SWT. Tawadhu atau rendah hati adalah sebuah keharusan yang harus dimiliki oleh seorang mukmin. Seseorang yang bersikap sebaliknya – takabur – sangat dibenci oleh Allah SWT. Bahkan, orang takabur semacam ini tidak akan masuk surga kecuali ia bertaubat dengan sebenar-benarnya.
Memang untuk bisa bersikap tawadhu tidaklah mudah. Ia harus dilatih dan ditempa sedemikian rupa. Biasanya seseorang yang sudah bersikap tawadhu tatkala sudah “hilang” rasa kepemilikannya terhadap sesuatu. Mereka yang sudah “hilang” rasa kepemilikannya, sudah mengalami berbagai ujian dan cobaan bertubi-tubi sehingga ia hanya memandang bahwa semua yang ada padanya merupakan “titipan” dari-Nya yang harus dijaga.
Karena itu, bersikap tawadhu memang tidak mudah, setidaknya menurut Gus Baha, ulama kenamaan Indonesia, “kalau tidak bisa tawadhu secara rasa, tawadhu lah secara ilmu”. Menurutnya, ketika kita mengaku sebagai orang yang beragama, yang paling ditekankan adalah tawadhu. Sebab kata Imam al-Ghazali, dengan tawadhu, anda sudah tidak “mempertuhankan” yang lain, selain kepada-Nya.
Tawadhu, juga, tidak sekadar menampilkan merendahkan diri di hadapan orang lain, melainkan juga mencakup penerimaan akan kekurangan diri dan kesediaan untuk belajar dari orang lain. Ini yang tidak mudah bagi mereka yang masih memiliki sifat sombong dan angkuh. Tawadhu mencerminkan kesadaran bahwa tidak ada manusia sempurna di dunia ini dan meyakini setiap orang berpotensi untuk berbuat salah sekaligus benar.
Tentu, hal ini bertolak belakang dengan sifat sombong. Sombong adalah sikap yang menunjukkan keangkuhan dan merasa lebih baik daripada orang lain. Merasa lebih kaya, lebih terpandang secara status sosial, merasa punya kuasa dan jabatan, dan merasa yang lainnya sehingga secara tidak sadar telah “mempertuhankan” selain-Nya.
Tawadhu: Cermin Sifat Mukmin Sejati
Salah satu bentuk kelemahlembutan dan kerendahan hati seorang mukmin sejati, kata Allah, adalah mereka bersikap kasih sayang terhadap orang-orang jahil. Allah mengapresiasi mereka dengan sebutan ‘ibadurrahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) dalam Al-Quran,
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.” (Q.S. al-Furqan [25]: 63)
Sifat kasih sayang hamba-hamba Allah, dalam ayat di atas, diwujudkan dalam merespons cacian dan hinaan dari orang-orang jahil, yakni dengan ucapan salam. Para hamba-Nya tadi tidak membalas keburukan, tidak melontarkan kata-kata yang emosional atau membalas dengan kejahatan serupa, justru, mereka memilih membalasnya dengan ucapan “salam”, sebuah sikap menjauh tanpa kebencian, sekaligus doa keselamatan bagi semua pihak.
Dalam Tafsir al-Misbah, Quraish Shihab menegaskan bahwa sikap ini merupakan kelanjutan organik dari sifat rendah hati yang telah disebut sebelumnya. Karena itu, ayat ini tidak memisahkan kedua sifat tersebut, melainkan langsung mengaitkannya. Respons “salam” bukanlah tanda kelemahan, melainkan ekspresi kedewasaan spiritual, yakni memutus konflik dengan kepala dingin, meninggalkan tanpa merendahkan dan—pada saat yang sama—menjaga kejernihan hati dari amarah yang sia-sia.
Lebih jauh, Quraish Shihab menggarisbawahi bahwa kesadaran mendalam akan Allah sebagai al-Raḥmān akan melahirkan pribadi yang menjadikan rahmat dan kasih sayang sebagai karakter dasarnya. Kesadaran ini mendorong seseorang untuk mencurahkan kasih tanpa sekat—tanpa membedakan suku, ras, agama, atau tingkat keimanan—bahkan meluaskannya kepada seluruh makhluk.
Mengenai hal ini, Rasulullah SAW bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ
“Tidak akan berkurang harta seseorang karena bersedekah, tidaklah Allah swt. menambah terhadap seseorang yang mau memaafkan melainkan kemuliaan dan tidak ada seorangpun yang bersifat tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya”. (HR. Muslim, No: 2588).
Rasulullah SAW Tidak Gengsi Mengerjakannya Sendiri
Rasulullah Saw memberikan teladan yang amat terang bahwa kemuliaan tidak pernah identik dengan gengsi. Dalam kehidupan sehari-hari, beliau tidak menjadikan status kenabian dan kedudukannya sebagai sayyidul khalqi—makhluk paling mulia—sebagai alasan untuk selalu dilayani. Justru sebaliknya, beliau memilih mengerjakan banyak hal dengan tangannya sendiri, tanpa merasa turun martabat. Sikap semacam inilah yang amat langka di era modern sekarang ini.
Gus Baha menuturkan, “kesulitan dalam manusia itu sebagian diciptakan kita sendiri, bukan Allah”. Logika yang dibangun ialah jikalau dulu tatkala masih miskin, ia terbiasa menikmati kesenangan dengan apa adanya, semisal naik gunung, rekreasi bersama anak istri sekeluarga. Tetapi, kenapa tatkala seseorang sudah berstatus kaya atau mapan, untuk menikmati kebahagiaan saja ribetnya bukan main, semisal butuh disiapkan pembantu, harus ada yang bawakan tas dan perangkat lainnya, harus ada uang banyak, harus ini dan itu. Untuk merasa senang saja, segalanya harus lengkap dan tersedia. Itu yang dikritik Gus Baha.
Pertanyaannya, lanjut Gus Baha, mana yang lebih cerdas kira-kira: mereka yang mampu menikmati hidup tanpa membutuhkan banyak prasyarat ini itu dengan mereka yang hanya bisa bahagia jika semua fasilitas terpenuhi? Tentu lebih cerdas yang pertama.
Bahkan, Rasulullah saw sebagai sayyidul khalqi, makhluk paling mulia di alam raya ini, beliau terbiasa hidup sederhana, bahkan sering menghabiskan waktu di rumah dengan mengurus keperluannya sendiri. Sayyidatina Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw biasa menambal sandalnya, menjahit pakaiannya, dan mengerjakan pekerjaan rumah sebagaimana orang kebanyakan bekerja di rumahnya.
كان رسولُ اللهِ – صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ – يخصف نعلَه، ويخيطُ ثوبَه، ويعمل في بيته كما يعمل أحدُكم في بيته
“Rasulullah Saw biasa mengesol sendiri sandalnya, menjahit pakaiannya, dan melakukan pekerjaan di rumah sebagaimana salah seorang di antara kalian bekerja di rumahnya sendiri.” (HR. Sayyidatina Aisyah)
Merujuk pada hadis di atas, ini merupakan teguran bagi kaum laki-laki yang serba minta dilayani oleh seorang istri. Nabi saw, sejak awal telah meletakan pondasi etika relasi gender yang mubadalah, sebuah relasi kesalingan menempatkan satu sama lain sebagai mitra sejajar bukan atasan-bawahan atau patron-klien.
Melalui wasiat-wasiatnya, Nabi saw menegaskan kepada para laki-laki agar berbuat baik kepada perempuan, mendorong sikap ihsan dan memperlakukan mereka secara ma‘ruf—adil, pantas, dan manusiawi. Pesan ini tidak berhenti pada tataran normatif, tetapi menjelma menjadi praktik hidup yang nyata dalam keseharian Nabi sendiri.
Dalam riwayat Ahmad disebutkan: ‘Beliau adalah seorang manusia sebagaimana manusia lainnya; beliau membersihkan pakaiannya dari kutu, memerah kambingnya, dan melayani dirinya sendiri” (kāna basharan mina al-bashari; yaflī thawbahu, wa-yaḥlibu shātahu, wa-yakhdumu nafsahu).
Dalam keterangan lain, Kitab Maulid al-Barzanji juga disebutkan,
و كان صلى اللّه عليه و سلم شديد الحياء و التّواضع يخصف نعله و يرقع ثوبه و يحلب شاته و يسير في خدمة أهله بسيرة سرية، و يحبّ المساكين و يجلس معهم و يعود مرضاهم و يشيّع جنائزهم و لا يحقّر فقيرا أدقعه الفقر و أشواه و يقبل المعذرة و لا يقابل أحدا بما يكره و يمشي مع الأرملة و ذوي العبودية، و لا يهاب الملوك و يغضب للَّه تعالى و يرضى لرضاه، و يمشي خلف أصحابه و
“Dan beliau Saw adalah seorang yang sangat memiliki rasa malu dan kerendahan hati. Beliau menambal sandalnya, menambal pakaiannya, memerah kambingnya, dan berjalan dalam melayani keluarganya dengan sikap yang tulus dan sederhana. Beliau mencintai orang-orang miskin, duduk bersama mereka, menjenguk orang-orang yang sakit di antara mereka, dan mengiringi jenazah-jenazah mereka. Beliau tidak pernah meremehkan seorang fakir pun, betapapun keras himpitan kemiskinan yang menimpanya dan betapapun buruk keadaannya. Beliau menerima permohonan maaf, tidak membalas seseorang dengan sesuatu yang dibencinya, berjalan bersama para janda dan orang-orang yang lemah, tidak gentar terhadap para raja, marah karena Allah Ta‘ālā dan ridha karena keridaan-Nya, serta berjalan di belakang para sahabatnya.”
Keterangan ini mengandung pesan moral yang tegas: Nabi Saw tidak pernah merasa lebih tinggi hati, egois atau enggan membantu para istrinya. Status kenabian tidak menjadikannya berjarak dari kerja-kerja domestik yang kerap dipandang remeh. Rasulullah Saw merupakan teladan par excellence (uswatun hasanah) bagi umat ini. Beliau bukan hanya manusia terbaik dalam makna spiritual, tetapi juga paling penyayang dan paling lembut dalam kehidupan domestik, semisal membantu istrinya dalam pekerjaan rumah dan melayani mereka.
Cara Nabi memperlakukan keluarga dan berinteraksi dengan para istri menunjukkan bahwa kasih sayang dan perhatian Nabi sebagai suami dan kepala keluarga bukanlah tanda kelemahan, melainkan ekspresi kematangan moral, mental, dan spiritual. Bahkan dalam riwayat di atas, adalah sebuah potret keteladanan yang utuh bagaimana menempatkan diri sekaligus menjadi kritik sosial: bahwa kemuliaan seorang laki-laki tidak diukur dari seberapa banyak ia dilayani, melainkan dari sejauh mana ia mampu hadir, peduli, dan bertanggung jawab dalam ruang paling dekat bernama keluarga, serta ruang publik lainnya bernama masyarakat.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini