Muslim dan Muslam: Sisi yang mana Kita?

“I went to the West and saw Islam, but no Muslims; I got back to the East and saw Muslims, but not Islam” (Aku pergi ke Barat dan menemukan Islam, tetapi tidak menemukan kaum Muslim; aku kembali ke Timur dan menemukan kaum Muslim, tetapi tidak menemukan Islam). Inilah ungkapan yang sering disandarkan kepada Muhammad Abduh terkait adanya jarak antara identitas keberagamaan dan praktik dalam kehidupan nyata (The New Political Islam, 2018).

Terlepas dari kesahihan atribusi kutipan tersebut, bagi penulis, ungkapan ini menggambarkan kegelisahan Abduh ketika melihat kenyataan bahwa identitas sebagai Muslim tidak selalu berjalan seiring dengan pengamalan nilai-nilai Islam. Agama acapkali berhenti sebagai simbol dan identitas, namun belum sepenuhnya hadir dalam kepribadian.

Kita dapat dengan mudah mengenali seseorang sebagai Muslim dari nama, pakaian, atau ritual keagamaannya. Namun, ketika berhadapan dengan sikap dan kepribadian, persoalannya menjadi lebih kompleks. Bahkan, data hari ini menunjukkan bahwa banyak negara mayoritas Muslim masih bergulat dengan korupsi (Corruption Perceptions Index, 2025).

Penulis tidak berniat mengatakan bahwa masyarakat Muslim identik dengan korupsi. Namun, data itu menghadirkan pertanyaan yang patut direnungkan: mengapa identitas keagamaan yang begitu kuat belum selalu berbanding lurus dengan kejujuran? Apa yang salah dari kita? Mengapa nilai-nilai Islam belum hadir dalam kehidupan kita? Jawabannya hanya kita sendiri yang tahu.

Menjadi Muslim Yang Sesungguhnya

Jika merujuk pada sumber normatif Islam, menjadi Muslim adalah gabungan antara keyakinan dan penerapan akhlak sekaligus. Islam memang bermula dari ketundukan kepada Allah Swt, tetapi ketundukan itu tidak berhenti dalam hati. Ia semestinya tampak dalam cara seseorang berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak.

Ketika menyebut kata muslim, Al-Qur’an menggambarkannya sebagai sosok yang tunduk dan berserah diri kepada Allah disertai kesungguhan dalam menjalankan ajaran agama. Karena itu, menjadi Muslim bukan sekadar persoalan pengakuan keimanan kepada Allah Swt, melainkan juga bagaimana pengakuan tersebut diwujudkan melalui ketaatan terhadap perintah-Nya (Melacak Kata Muslim dalam Al-Qur’an, 2017).

Dalam banyak kesempatan, Nabi Muhammad saw. juga mengaitkan kualitas keimanan seseorang dengan bagaimana ia memperlakukan sesamanya. Keimanan yang hidup dalam diri semestinya melahirkan sikap yang baik dalam hubungan sosial. Dengan kata lain, keberislaman seseorang tidak hanya terlihat dari hubungannya dengan Allah, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga hak, kehormatan, dan keselamatan orang lain.

Sebagai contoh, Nabi Muhammad saw. pernah bersabda: “seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya..” (HR. Nasa’i). Hadis ini memperlihatkan bahwa keberislaman memiliki konsekuensi sosial: seorang Muslim semestinya menghadirkan rasa aman, bukan menjadi sumber kerugian melalui ucapan maupun perbuatannya.

Karena alasan itulah, ulama generasi awal pernah memperdebatkan posisi orang beriman yang melanggar ketentuan agama. Perdebatan mengenai hubungan antara iman dan perbuatan kemudian turut melahirkan berbagai aliran kalam atau teologi. Namun, terlepas dari perdebatan teologis tersebut, ada satu hal penting yang dapat kita renungkan: Bukankah keimanan semestinya memiliki pengaruh terhadap cara seseorang menjalani kehidupannya?

Pertanyaan tersebut membawa kita pada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari di mana sering terjadi disparitas keyakinan dan perilaku. Kita memahami bahwa mengambil hak orang lain adalah dosa, tetapi masih mencari pembenaran ketika memiliki kesempatan. Kita mengetahui bahwa menjaga lisan merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim, namun di media sosial masih mudah ditemukan celaan dan ucapan yang menyakiti sesama.

Menghindari Islam KTP atau “Muslam”

Dalam konteks Indonesia, ketidaksesuaian antara identitas keislaman dan perilaku sering disebut dengan istilah “Islam KTP”. Istilah ini menggambarkan keadaan ketika seseorang memiliki identitas sebagai Muslim, tetapi nilai-nilai Islam belum sepenuhnya tercermin dalam kepribadiannya. Berkenaan dengan ini, penulis lebih cenderung menyebutnya “Muslam”.

Kata “muslam” tidak merujuk pada bahasa Arab yang baku, melainkan sebagai istilah reflektif yang dibangun dari makna dasar kata Muslim. Secara konseptual, muslim menunjuk pada seseorang yang menjadikan ketundukan kepada Allah sebagai kesadaran yang mengarahkan kehidupan. Sementara itu, “muslam” dalam tulisan ini digunakan untuk menggambarkan keadaan ketika identitas keislaman telah diterima atau diwarisi, tetapi belum diwujudkan dalam perilaku.

Dengan pengertian tersebut, “muslam” bukanlah istilah untuk menyatakan seseorang Muslim atau bukan Muslim. Ia juga bukan ukuran untuk menilai kualitas iman orang lain. Muslam adalah sebuah cermin untuk melihat diri sendiri: jangan-jangan selama ini kita lebih sibuk memiliki identitas Islam daripada menghidupi nilai-nilai Islam.

Menjadi Muslim berarti membawa nilai Islam ke dalam segala aspek kehidupan. Ketika memiliki kesempatan untuk berbohong tetapi memilih berkata jujur, itulah muslim sesungguhnya. Ketika mampu membalas hinaan tetapi memilih menahan diri, di situlah keyakinan menemukan bentuknya. Ketika memiliki kesempatan mengambil hak orang lain tetapi memilih amanah, di situlah keimanan menemukan bukti dalam kehidupan.

Persoalannya, kita terkadang berhenti pada bentuk dan lupa pada tujuan. Kita merasa sudah beragama karena telah menjalankan ritual, tetapi belum bertanya apakah ritual tersebut telah mengubah cara kita memperlakukan orang lain. Kita merasa telah dekat dengan Allah, tetapi masih mudah merendahkan manusia. Kita rajin berbicara tentang kebaikan, tetapi belum tentu mudah melakukannya ketika kepentingan pribadi dipertaruhkan.

Jika muslam menggambarkan jarak antara identitas keislaman dan penghayatan nilai-nilai Islam, maka pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana agar kita tidak berhenti pada identitas? Jawabannya tentu bukan dengan menambah simbol keagamaan semata, melainkan dengan memastikan bahwa Islam semakin hadir dalam cara kita menjalani kehidupan.

Setidaknya ada dua tahap yang perlu ditempuh: mengubah Islam dari sekadar identitas menjadi kesadaran, kemudian membuktikannya melalui akhlak dan perilaku: Pertama, mengubah Islam dari sekadar identitas menjadi kesadaran. Pada tahap ini, seseorang mulai bertanya kepada dirinya sendiri: mengapa saya beragama Islam? Apa makna tunduk kepada Allah? Mengapa saya harus jujur meskipun tidak ada yang melihat?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu penting karena agama yang hanya diwarisi dapat berhenti sebagai identitas, sementara agama yang dipahami dan disadari akan menjadi prinsip yang mengarahkan kehidupan. Seorang Muslim tidak sekadar mengetahui bahwa Islam mengajarkan kejujuran, tetapi memahami mengapa kejujuran harus tetap dijaga.

Kedua, membuktikan Islam melalui akhlak dan perilaku. Kesadaran beragama harus menemukan bentuk dalam kehidupan sehari-hari. Salat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan berbagai ibadah lainnya memiliki tujuan membentuk manusia yang lebih baik. Al-Qur’an bahkan menyebut bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-‘Ankabut: 45).

Pada akhirnya, keberislaman merupakan proses yang terus berlangsung: dari identitas menuju kesadaran, dari kesadaran menuju kebiasaan, dan dari kebiasaan menuju akhlak. Kita mungkin telah menjadi Muslim sejak lahir, tetapi menjadi Muslim yang benar-benar menghidupi nilai-nilai Islam adalah perjalanan sepanjang kehidupan. Pertanyaannya, apakah kita mau menjalaninya?

Muhammad Rafi, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kemenag Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Muhammad Rafi, S.Ag., M.Ag.? Silakan klik disini