“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.” (Qs. Ali Imran/3: 190-191)
Separuh perjalanan sudah, Ramadan membersamai kita semua. Tak terasa, malam 15 Ramadan telah di hadapan, diikuti dengan rasa sedih, kehilangan dan kecemasan. Salah satu ujian tersebut ialah serangan AS-Israel ke Iran dan menyebabkan syahidnya pemimpin tertinggi Iran, Imam Khomeini. Tak ayal, momen Ramadan tahun ini menjadi momen yang sarat ujian. Sebagai pengingat bahwa Nabi Saw pun menghabiskan sebagian besar Ramadannya dengan rasa lelah, haus, lapar yang salah satunya karena harus bertempur di perang Badar.
Meski berat dan dunia dalam kondisi tidak baik-baik saja, jutaan umat Muslim tetap memaksimalkan ibadah dengan beragam amal shalih masing-masing. Ada yang menghabiskan hari dengan berjualan takjil, ada yang mulai mengistiqamahkan shalat-shalat sunnahnya, ada yang fokus menambah zikirnya, ada yang sibuk berbagi ke panti asuhan, ada yang telah berhasil mengkhatamkan Al-Quran, ada pula yang memilih ‘hening’ ke masjid, berkontemplasi, menenangkan diri, bertadarus, berzikir, mengingat kebesaran Allah, menangisi kesalahan-kesalahan yang telah lalu, memohon ampun dari Allah yang Maha Mengampuni. Nah, momen kontemplasi ini yang sering kita sebut dengan I’tikaf.
Kata I’tikaf sebetulnya tidak banyak disebutkan dalam Al-Quran. Iktikaf dalam Alquran diawakili oleh beberapa kata. Pertama, kata الْعَاكِفِينَ (Albaqarah [2]: 125) dalam bentuk jamak yang bermakna orang-orang yang beriktikaf. Kedua, kata عَاكِفُونَ (Albaqarah [2]: 187) dalam bentuk jamak yang maknanya sama dengan poin pertama. Ketiga, kata الْعَاكِفُ (Alhajj [22]:25) berbentuk mufrad (tunggal) bermakna seseorang yang iktikaf. Dua ayat berbentuk jamak dan satu ayat berbentuk mufrad tergantung pada narasi kalimat yang berada pada ayat tersebut. Pada Albaqarah [2]: 125, kata الْعَاكِفِينَ berbentuk jamak karena ia menjadi rangkaian konjungsi (‘athaf) dengan kata sebelumnya yaitu لِلطَّائِفِينَ (untuk orang-orang yang tawaf). Pada Albaqarah [2]: 185, kata عَاكِفُونَ berbentuk jamak yang selaras dengan posisinya sebagai khabar dari mubtada’ kata antum. Sementara pada Alhajj [22]: 25, kata الْعَاكِفُ berbentuk mufrad.
Semua kata ‘akafa dan turunannya baik jamak maupun mufrad memiliki arti yang sama. Kata ini berasal dari huruf ain, kaf, dan fa. Kata ini dimaknai mempersembahkan, mendedikasikan, mulai bekerja, disibukkan dengan (Kamus al-Ma’anny, 2021). Ini pengertian secara bahasa, apabila polanya ‘akafa ya’kufu. Ketika menjadi kata subjek al-‘akifin (jamak) maknanya menjadi beriktikaf.
Meski itikaf di masjid semarak dilakukan ketika malam sepuluh terakhir bulan Ramadan, tentu, kita bisa mempersiapkannya dari sekarang. Kiranya, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan yaitu secara fisik, mental dan spiritual Secara fisik, luangkan untuk beristirahat cukup di siang hari. Tidak perlu lama-lama, tidur siang 20-30 menit namun terlelap (power sleep) serta berjalan kaki ringan di sore hari sebelum berbuka, diyakini dapat membuat tubuh lebih bugar.
Sementara itu, persiapan secara mental juga penting. Itikaf bertujuan agar hati menjadi tenang sebab terhubung kembali/ re-connect dengan Allah. Maka, sebisa dan sekuat tenaga, hindari gangguan (distraction) yang membuat momen itikaf terganggu. Entah distraksi yang lahir karena diri sendiri secara fisik (mengantuk, tidak semangat) atau gangguan yang lahirnya dari faktor lain, contohnya ponsel– dengan atau tanpa notif, tak sadar kita menjadi kedistract untuk mengecek atau bahkan ‘terlena’ scrolling social media). Pakar kesehatan jiwa dari Standfor University, Dr. Rania Awaad, menyatakan, itikaf sesungguhnya bertujuan untuk menciptakan ketenangan jiwa, bagaimana jiwa bisa tenang ketika kita masih disibukkan dengan social media? Maka, beliau menganjurkan, tak ada salahnya untuk mencoba ‘meninggalkan’ sejenak HP di rumah, untuk mendapatkan golden time 3-4 jam itikaf yang berkualitas.
Ketiga, persiapan spiritual. Persiapan ini tak kalah penting karena menyangkut niat itikaf itu sendiri. Maka, perlu bagi kita untuk berefleksi terlebih dulu: apakah saya perlu itikaf? Lantas, apa itu itikaf? Adakah niat yang harus saya lafalkan? Apakah itikaf harus di masjid? Apa saja yang kita lakukan? Juga apa saja yang tidak boleh saya lakukan selama beritikaf? Hal-hal mendasar ini sangat penting untuk dipelajari agar kita tidak salah niat. Bekali diri dengan ilmu yang cukup, agar itikaf menjadi momen terbaik untuk mereset diri.
Lalu, bagaimana dengan seorang Ibu yang masih memiliki anak kecil, apakah ia harus beritikaf sementara harus meninggalkan anaknya sendirian?
Sejatinya, itikaf adalah satu di antara berbagai ibadah Ramadan yang dapat kita pilih dan sesuaikan dengan kemampuan. Jika situasi dan kondisi belum memungkinkan beritikaf karena harus meninggalkan anak sendirian, maka, para Ibu bisa membuat ‘mini space’ untuk qiyamullail dan zikrullah, di sudut kamar atau sudut rumah. Sudut kecil yang disiapkan untuk ibadah dan tidak digunakan untuk aktivitas lain. Sudut kecil yang semoga menjadi saksi bahwa Ibu– di tengah tugas domestik yang melelahkan dan tiada habisnya, juga mungkin Ibu bekerja dengan tanggung jawab yang luar biasa, mau dan mampu menyempatkan waktu ‘pause’ untuk Rabb-nya. Sudut kecil yang semoga menjadi saksi, bahwa, ketiadaan ia di masjid untuk itikaf karena dirinya harus menjaga malaikat kecil yang Allah titipkan padanya.
Pada akhirnya, itikaf bukanlah soal tempat; harus di masjid mana ataupun alat shalat yang mahal harganya. Tapi, itikaf adalah latihan kesehatan mental yang memerlukan konsentrasi dan kontemplasi. Itikaf adalah momen kita untuk latihan ‘mindful’– sadar sesadar-sadarnya bahwa Allah Maha Menyaksikan segala amal sehingga, kita merasa selalu dekat dan diawasi sepanjang waktu (muraqabah). Senada dengan Sara Kadir (2025) dalam Wellbeing in Western and Islamic Thought: Mindfulness and Wellbeing, dalam karyanya ia menuliskan bahwa perasaan ‘diawasi’ dan disaksikan Tuhan, mampu menjadi rem bagi diri untuk tidak bermaksiat. Jika seseorang melakukan amal karena Allah, maka ia akan memeroleh ketenangan dan kesejahteraan jiwa. Sehingga, ita menjadi sadar bahwa kita hanyalah ‘abd (hamba) Allah yang kecil dan lemah. Hamba Allah yang masih sering berbuat dosa dan salah. Hamba Allah yang masih sering menunda perjumpaan meski azan telah dikumandangkan.
Mindful itikaf juga secara umum mindfulness dalam ibadah juga berarti mengingat Allah secara sadar dalam tiap waktu dan keadaan, senada dengan ayat yang dikutip pada bagian awal artikel ini bahwa orang-orang yang betul-betul beriman, menjadikan seluruh aktivitas hidupnya untuk mengingat Allah baik ketika berdiri, duduk bahkan berbaring. Kesadaran inilah yang harus terus kita upayakan di seluruh aktivitas ibadah di bulan Ramadan ini; entah melalui satu dua ayat yang kita baca, entah dari sedikit sedekah subuh yang kita sisihkan seadanya, entah dari tarawih yang kita lakukan meskipun dari rumah, entah dari hafalan Quran yang sudah dijaga sekuat tenaga tapi lagi-lagi kita lupa… sadari bahwa ibadah itu hanya untuk Allah, seperti ikrar kita dalam shalat Inna shalati wanusuki wamahyayaa wamamati lillahi Rabb al-Alamin, sungguh ya Allah, ibadahkan, hidupku, matiku, hanya untukMu.. Tuhan seluruh alam.
Demikian, Allahu ta’ala A’lam..
Dr. Ina Salmah Febriani, M.A., Ustadzah di Cariustadz.id
Tertarik mengundang ustadz Dr. Ina Salmah Febriani, M.A? Silahkan klik disini