Kepemimpinan yang Memberdayakan

Kepemimpinan yang memberdayakan (empowering leadership) dalam Islam dicontohkan secara nyata oleh Nabi Muhammad SAW melalui pendekatan yang mengangkat harkat dan martabat manusia, menumbuhkan kemandirian, dan memberikan kepercayaan kepada para sahabatnya. Bagi Nabi saw, menjadi pemimpin merupakan sarana pengabdian (khidmah) dan sarana untuk melayani umat (khadimul ummah).

Sebab, kekuasaan yang tidak dibarengi dengan semangat melayani dan memberdayakan hanya akan melahirkan keangkuhan ego dan keterasingan dari masyarakat yang dipimpin. Sebaliknya, ketika seorang pemimpin memandang posisinya sebagai sarana pengabdian (khidmah), ia sejatinya sedang membuka pintu-pintu potensi yang terpendam dalam diri pengikutnya. 

Kepemimpinan semacam ini akan meruntuhkan sekat-sekat otoriter agar setiap individu merasa dihargai, dipercayai, dan diajak untuk tumbuh bersama. Dari sinilah lahir masyarakat yang berkemajuan—bukan karena dituntun oleh kekuasaan yang menekan, melainkan karena dibangkitkan oleh kepemimpinan yang memanusiakan dan melapangkan jiwa.

Dari ‘Ikan’ Menuju ‘Kail’

Kepemimpinan Rasulullah SAW menekankan substansi ketimbang sekadar penampilan formalistik. Ada ungkapan bijak yang sering kita dengar: menjadi pemimpin tidak sekadar memberi ikan, melainkan mengajarkan cara memegang kail.

Memberi “ikan”—seperti kebiasaan kita memberi selembar uang kepada pengemis di tepi jalan (termasuk bansos)—memang menenangkan batin kita sejenak. Namun, tindakan itu sering kali hanya menyentuh permukaan masalah tanpa menyelesaikan akarnya. Kita sering terjebak dalam rasa nyaman kedermawanan instan, karena memberdayakan (tamkīn) memang menuntut ikhtiar yang tidak mudah, energi yang besar, serta kesabaran yang panjang.

Padahal, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa dakwah Islam yang sejati tidak berhenti pada karikatur kedermawanan ‘semu’. Dakwah bertujuan mengangkat harkat manusia agar ia mampu berdiri di atas kaki sendiri (berdikari). Ketika Nabi SAW membantu seorang sahabat yang kurang mampu dengan memberinya kapak dan tali untuk mencari kayu bakar—bukan sekadar memberinya sedekah uang—beliau sedang menanamkan prinsip dasar kemandirian. Memberdayakan potensi masyarakat adalah keniscayaan dakwah, sebab Islam ingin membentuk pribadi yang tangan di atas (al-yadu al-‘ulyā), bukan pribadi yang bergantung pada belas kasihan orang lain (al-yadi as-sulfa).

Prinsip pemberdayaan ini termaklumatkan dalam firman-Nya,

اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۙ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗوَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Q.S. Az-Zukhruf [43]: 32)

Kata sukhriyyā dalam ayat tersebut kerap dipahami secara dangkal sebagai “menundukkan” atau “memperbudak”. Namun, secara semantik, ia bermakna saling menundukkan diri untuk saling melayani dan memanfaatkan keahlian masing-masing. Allah menciptakan perbedaan kedudukan, rezeki, dan bakat bukan untuk melahirkan stratifikasi keangkuhan, melainkan untuk merajut kesalinghubungan (interdependensi).

Dalam praktiknya, Nabi Muhammad saw. menerjemahkan ayat di atas dalam laku sosial kepemimpinannya di bawah ini. 

Pertama, membimbing dan kaderisasi berkelanjutan (at-tarbiyah wat-takwīn al-mustamir)

Nabi Muhammad SAW, dalam hal ini, tidak memposisikan diri sebagai satu-satunya poros pengetahuan dan kekuasaan (single fighter). Beliau menempa karakter, mengasah intelektualitas, serta menanamkan kompas moral kepada para sahabat. Figur-figur seperti Abu Bakar yang bijaksana, Umar yang tegas, Ali yang sarat ilmu, hingga Mu’adz bin Jabal yang paham halal-haram, dibentuk bukan untuk sekadar menjadi pengikut yang patuh, melainkan menjadi calon-calon pemimpin mandiri. Beliau membekali mereka dengan ilmu dan nilai moral, lalu menguji kemampuan serta kematangan jiwa mereka di lapangan. 

Kedua, mendelegasikan dan memberikan kepercayaan (at-tafwīḍ wa ats-tsiqah)

Pemberdayaan masyarakat tidak akan pernah terwujud tanpa disertai kepercayaan (ats-tsiqah). Rasulullah SAW sangat jeli membaca potensi unik atau talenta yang ada pada diri setiap individu, lalu memberikan ruang kepercayaan tersebut secara proporsional (putting the right person in the right place).

Keputusan Nabi SAW mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman sebagai hakim dan dai merupakan bentuk pengakuan atas kedalaman ilmunya. Demikian pula penunjukan Usamah bin Zaid sebagai panglima perang di usianya yang sangat muda—di tengah keberadaan para sahabat senior—merupakan pelajaran berharga bahwa kepemimpinan tidak diukur dari usia biologis, melainkan dari kompetensi dan kesiapan jiwa. Pendelegasian ini tidak hanya membakar rasa percaya diri, tetapi juga menanamkan rasa tanggung jawab (mas’ūliyyah) yang mendalam pada diri penerima amanah.

Ketiga, mengedepankan musyawarah (Asy-Syūrā) sebagai Ruang Partisipasi

Musyawarah dalam tradisi kenabian bukanlah formalitas pemanis keputusan, melainkan pengakuan jujur akan keterbatasan manusia dan penghormatan terhadap akal budi sesama. Meski Nabi SAW dibimbing oleh wahyu ilahi, beliau tetap berdiskusi secara intensif dengan para sahabatnya untuk urusan-urusan publik dan strategi kemasyarakatan.

Peristiwa Perang Badar dan Perang Khandaq menjadi bukti nyata betapa berlapang dadanya Rasulullah SAW menerima gagasan taktik dari sahabatnya. Beliau tanpa ragu menjalankan ide pembuatan parit (khandaq) yang diusulkan oleh Salman Al-Farisi—seorang sahabat yang berasal dari Persia.

Sikap ini memancarkan pesan moral yang teramat mulia: bahwa kebenaran dan kearifan bisa datang dari mana saja. Musyawarah yang dibangun Nabi SAW terbukti efektif menumbuhkan rasa kepemilikan bersama (sense of belonging), meruntuhkan dinding sekat antara pemimpin dan rakyat, serta memberdayakan akal kolektif untuk mencapai kemaslahatan bersama.

Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini