Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita mendapati diri kita terjebak dalam sikap mudah menilai orang lain tanpa memahami situasi secara menyeluruh. Acap kali kita kerap merasa cukup hanya dengan melihat permukaan: cara berpakaian, pilihan kata, atau potongan peristiwa yang tampak, lalu menyimpulkan siapa seseorang sebenarnya.
Padahal, apa yang dialaminya jauh lebih kompleks daripada apa yang tampak di hadapan mata. Fenomena ini sejatinya bukan sekadar persoalan etika sosial, melainkan juga menyentuh dimensi spiritual dalam Islam. Sikap tergesa-gesa dalam menilai orang lain berpotensi menutup pintu empati, bahkan menjerumuskan pada prasangka (su’uzan) yang dilarang.
Belajar Menilai Diri Sendiri
Dalam Islam, larangan untuk tidak mudah menilai, merendahkan, atau menuduh orang lain (su’uzan) didasarkan pada prinsip menjaga kehormatan sesama muslim. Inti dari pandangan ini adalah agar manusia tidak sombong dengan merasa paling benar atau paling suci. Sebab, jika seseorang sudah merasa paling benar, maka muncul sifat ujub, terlebih jika ujubnya sudah sampai membuatnya menilai orang lain dengan buruk.
Al-Qur’an secara tegas mengingatkan: “Falā tuzakkū anfusakum, huwa a‘lamu biman ittaqā”—janganlah kamu mensucikan dirimu sendiri, karena Allah lebih mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa (QS. An-Najm: 32). Dalam bahasa Al-Qur’an, kondisi ini mendekati sifat Iblis yang menolak perintah bukan karena tidak tahu, tetapi karena merasa lebih baik: “Ana khayrun minhu”—aku lebih baik darinya (QS. Al-A‘raf: 12).
Sebab, penilaian buruk terhadap orang lain, baik disadari atau tidak, muncul dari anggapan bahwa dirinya sudah baik, sehingga itu dijadikan ukuran dalam menilai orang lain. Oleh karenanya, sebagian ulama mengatakan, “dzanbun aftaqiru bihi ilaihi ahabbu ilayya min thâ’atin adillu bihâ ‘alaihi”—dosa yang membuatku butuh akan (ampunan) Nya lebih aku sukai ketimbang ketaatan yang membuatku memamerkannya.” (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Laṭā’if al-Ma‘ārif fī mā li-Mawāsim al-‘Ām min al-Waẓā’if)
Pesan utama dari Ibnu Rajab sangatlah dalam, yakni yang paling berbahaya bukan sekadar dosa, tapi perasaan “sudah baik” yang membuat seseorang lupa diri. Tatkala seseorang berbuat salah lalu sadar dan kembali kepada Allah, hatinya justru menjadi lembut dan rendah. Sebaliknya, ketika seseorang berbuat baik tapi kemudian merasa paling benar, di situlah muncul kesombongan yang bisa merusak nilai kebaikan itu sendiri. Jadi, ukuran utamanya bukan hanya pada apa yang kita lakukan, tapi bagaimana kondisi hati kita setelah melakukannya.
Prasangka baik harus kita dahulukan dalam menilai seseorang, sejahat apapun orang tersebut. Bahkan, seandainya kita melihat banyak kekurangan dalam dirinya, sampaikan dengan cara yang baik, santun, dan tidak menjatuhkan. Terlebih jika yang kita nilai adalah orang yang kita kenal, atau dikenal memiliki ilmu, kita perlu lebih ekstra berhati-hati agar tidak terjebak pada penilaian yang lahir dari ego, bukan dari kejernihan hati.
Imam Bakr al-Muzani mengajarkan bahwa agar seseorang lebih dulu melihat dirinya sendiri sebelum menilai orang lain. Bisa jadi, orang yang menilai justru tidak lebih baik dari yang dinilai. Ia juga mengingatkan bahwa kita tidak pernah benar-benar mengetahui keseluruhan hidup seseorang. Kita tidak selalu bersamanya setiap waktu—yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kehidupannya. Dari kesadaran ini, kita diajak untuk lebih jujur menilai diri sendiri sebelum sibuk menilai orang lain. Sebab pada akhirnya, mengoreksi diri adalah sikap yang lebih mulia dan lebih mendekatkan kita pada kebaikan.
Belajar dari Alam
Kalau kita mau jujur melihat alam, sebenarnya ada banyak pelajaran sederhana tapi dalam. Tidak semua yang terjadi di dunia ini bisa kita nilai dengan ukuran baik dan buruk layaknya kita menilai manusia. Ada hal-hal yang memang sudah berjalan sesuai jalurnya—itulah yang kita sebut sebagai takdir.
Sebagai contoh, seekor harimau memangsa rusa. Itu bukan kezaliman. Ia tidak sedang “jahat”, tapi hanya menjalankan cara hidup yang sudah menjadi bagian dari dirinya. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa seluruh makhluk pada dasarnya tunduk kepada ketetapan Allah. Mereka tidak punya pilihan untuk menjadi liyan. Jadi, ketika kita menyebut hewan itu “buas”, sering kali itu hanya cara pandang kita sebagai manusia saja, bukan gambaran yang sepenuhnya adil.
Masalahnya muncul tatkala cara berpikir seperti ini kita pakai untuk menilai manusia. Kita dengan mudah melabeli: “dia kejam”, “dia rakus”, “dia seperti binatang”. Seolah-olah sifat itu adalah takdir yang tidak bisa diubah. Padahal, manusia berbeda dengan hewan. Manusia diberi kemampuan untuk memilih—bisa menahan diri, bisa memperbaiki diri, dan bisa berubah.
Di sinilah letak pentingnya. Ketika kita menyebut seseorang “buas” atau “kejam”, itu semestinya dipahami sebagai peringatan, bukan vonis. Artinya, orang itu sedang bertindak tidak sesuai dengan nilai kemanusiaannya, bukan karena ia ditakdirkan demikian. Bahkan Al-Qur’an pun pernah menggambarkan manusia bisa lebih rendah dari hewan, bukan karena hakikatnya, tetapi karena ia tidak menggunakan akal dan hatinya.
Jadi, pelajaran dari alam ini cukup jelas: tidak semua yang terlihat “keras” atau “liar” itu buruk dalam dirinya. Pada alam, itu adalah takdir. Tapi pada manusia, itu adalah pilihan. Dan karena ada pilihan, maka di situlah ada tanggung jawab. Buruk tidaknya seseorang kita tidak berhak menilai, selama masih hidup ia masih bisa berubah, kewajiban kita adalah mengingatkannya dengan cara yang baik, santun dan tidak menjatuhkan sembari mendoakannya agar kembali menjadi baik.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini