Salah satu hikmah disyariatkan puasa Ramadan, menurut alim ulama adalah kita merasakan lapar dan haus yang sama dengan sebagian saudara kita seluruh umat manusia di dunia ini, baik yang kaya maupun fakir miskin. Al-Qur’an sendiri menempatkan lapar sebagai bagian dari ujian kehidupan. Firman-Nya menegaskan bahwa manusia akan diuji dengan sedikit rasa takut dan lapar, lalu disusul kabar gembira bagi mereka yang bersabar (QS. al-Baqarah: 155).
Isyarat ini menunjukkan bahwa lapar tidak sekadar fenomena biologis, tetapi sarana pendidikan ilahi. Secara lahiriah, puasa adalah latihan mengelola gaya hidup konsumtif dan menahan dorongan hawa nafsu, namun secara batiniah, sesungguhnya puasa adalah proses penundukan diri—sebuah kesediaan hati untuk patuh pada ketentuan Tuhan dengan penuh kesadaran.
Menurut Gus Baha, merasa lapar itu penting. Dengan berpuasa kita benar-benar merasakan apa artinya lapar, terutama agar kita mengerti bagaimana pedihnya rasa itu bagi sebagian saudara kita yang hidup dalam kekurangan. Saat berbuka puasa tiba, misalnya, kebahagiaan itu terasa begitu nyata. Bertemu makanan dan minuman, walau hanya gorengan sederhana dan segelas air putih, sudah cukup menjadikan kita bahagia. Sebuah kebahagian yang tampak sepele, tetapi sesungguhnya lahir dari pengalaman lapar.
Seorang ulama pernah ditanya, “Apa makanan paling enak?” Ia menjawab, idamuhu al-jū‘—yang paling lezat adalah ketika kita merasakan teramat sangat lapar. Sebab ketika lapar, apa saja yang dimakan terasa nikmat; bahkan hidangan biasa pun terasa istimewa. Al-Qur’an dalam Surat Al-Baqarah ayat 155 menjelaskan bahwa rasa takut dan rasa lapar merupakan bagian dari ujian kesabaran bagi manusia.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (Q.S. al-Baqarah [2]: 155)
Pada penutup ayat tersebut, Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw. agar menyampaikan kabar gembira berupa balasan kebaikan bagi mereka yang sabar menghadapi lapar. Ayat ini dijadikan pengantar oleh Imam Al-Qusyairi dalam pembahasan tentang lapar dan meninggalkan syahwat dalam kitabnya, Ar-Risalatul Qusyairiyah.
Menurut Imam Al-Qusyairi, lapar memiliki keutamaan yang besar sebab berkaitan erat dengan pengendalian syahwat. Lapar terbukti melahirkan hikmah, kejernihan batin, dan kebijaksanaan. Ia bahkan menegaskan bahwa lapar merupakan jalan spiritual para nabi serta orang-orang saleh terdahulu.
Tentu, dalam konteks ibadah puasa, lapar tidak identik dengan kelaparan yang menyiksa. Ia lebih tepat dipahami sebagai pengalaman psikologis-spiritual yang mengantar seorang hamba mendekat kepada Allah SWT. Lapar dalam puasa, sejatinya adalah dorongan psikis yang justru menumbuhkan keintiman batin dengan-Nya; sebuah rasa yang mendidik jiwa, bukan menyakiti raga. Karena itu, lapar yang lahir dari puasa tidak menjadikan seseorang sakit atau menderita, melainkan menghadirkan kesadaran, ketenangan, dan kedalaman makna ibadah.
Berbeda halnya dengan lapar biologis yang bersumber dari dorongan hawa nafsu yang tak pernah merasa cukup. Lapar jenis ini bukan karena ketiadaan makanan semata, melainkan karena ketidakpuasan batin yang terus menuntut pemenuhan. Lapar jenis ini haus akan validasi. Bahkan orang yang bergelimang harta, pejabat publik maupun tokoh keagamaan terkemuka pun bisa mengalaminya, sebab rasa lapar terhadap materi tidak selalu padam oleh kelimpahan.
Karena itu, lapar (al-jū‘) tidak heran dipandang sebagai salah satu pilar spiritualitas dalam tradisi tasawuf klasik. Pilar lain yang menyertainya ialah menjaga ucapan (aṣ-ṣamt), menghidupkan malam dengan ibadah dan tafakur (as-sahar), serta membatasi pergaulan (al-‘uzlah). Semua itu merupakan jalan penyucian diri yang ditempuh para sufi untuk mendekat kepada Allah.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini