Cara Mudah Menghilangkan Prasangka Buruk

Suudzan—berprasangka buruk—sering kali tumbuh bukan karena fakta, melainkan karena hati yang merasa paling tahu, paling menilai, dan paling berhak memutuskan. Kita sering kali mudah berprasangka buruk terhadap mereka yang berbeda, menghakimi perilaku seseorang, bahkan memastikan keburukan akan terus melekat pada dirinya. 

Padahal, dalam kenyataannya, menilai seseorang apakah ia berbuat baik atau buruk bukanlah hak kita, melainkan hak prerogatif Allah SWT. Di hadapan kita, mungkin seseorang tersebut biasa saja, atau bahkan buruk di mata kita, namun bisa saja Allah memiliki penilaian tersendiri. Mengutip bahasa Gus Baha, jadi orang tanpa keinginan pun kalau Allah menghendaki baik, maka akan menjadi baik.

Ibn ‘Athaillah As-Sakandari dalam al-Hikam mengingatkan kita,

منعك أن تدعي ما ليس لك مما للمخلوقين
أفيبيح لك أن تدعي وصفه وهو رب العالمين

Allah melarangmu mengakui sesuatu yang bukan milikmu dari hak-hak makhluk. Maka apakah mungkin Dia membolehkanmu mengakui sifat-Nya, padahal Dia adalah Tuhan Pemelihara seluruh alam?

Jika mengklaim kepemilikan harta orang lain saja disebut sebagai tindakan melampaui batas (‘udwān) dan kedzaliman, maka mengklaim sifat-sifat Allah—seperti merasa paling tahu siapa yang baik dan siapa yang buruk—jelas merupakan kedzaliman yang jauh lebih besar. 

Suudzan, dalam banyak hal, tidak sekadar memunculkan problem ketauhidan, melainkan juga problem sosial akut tatkala manusia lupa batas dirinya dan melampaui peran sebagai hamba. Maka, menghilangkan suudzan tidaklah mudah, membutuhkan latihan dan proses yang panjang karena suudzan tergolong penyakit hati. 

Panduan Nabi SAW

Dalam upaya menghilangkan suudzan, Nabi Muhammad SAW memulainya dengan satu kenyataan kasuistik yakni manusia hampir mustahil bersih sepenuhnya dari prasangka. Nabi memahami fakta itu. Akan tetapi, Nabi SAW lantas tidak membiarkannya menjadi efek domino dan merusak sendi kehidupan sosial manusia. Rasulullah SAW bersabda, 

ثلاثةٌ لا يسلَمُ منهُنَّ أحَدٌ: الطِّيَرةُ والظَّنُّ والحَسَدُ، فإذا تطيَّرتَ فلا تَرجِعْ، وإذا حَسَدتَ فلا تَبْغِ، وإذا ظَنَنتَ فلا تُحقِّقْ

Tiga perkara yang hampir tidak ada seorang pun yang selamat darinya: merasa sial (ṭiyarah), berprasangka (ẓann), dan hasad. Jika engkau merasa sial, maka janganlah engkau mundur; jika engkau merasa hasad, maka janganlah engkau melampaui batas; dan jika engkau berprasangka, maka janganlah engkau memastikan (membenarkannya).

Nabi, dalam konteks hadis di atas, tidak mengatakan jangan pernah berprasangka, melainkan mengatakan jangan memastikan prasangka itu. Di sinilah problemnya, untuk sekadar tidak memastikan prasangka rasanya sulit sekali, sekalipun kita sebagai Muslim. Karena memang prasangka sudah mendarah daging dalam diri kita. 

Namun, Nabi SAW. memandu jika suudzan itu muncul, jangan dicari-cari pembenarannya, dikonfirmasi, disebarkan, dan dijadikan vonis, sebab ketika itu dilakukan ia berubah menjadi dosa yang berlapis—bahkan sering berujung pada hasad dan kebencian.

Selama ini, kita sering tergelincir pada kebiasaan memvonis perilaku seseorang. Melihat seseorang bermaksiat, misalnya, lisan dan hati kita lekas memastikan: “Dia pasti akan diazab Allah” Seakan-akan kita mengetahui akhir hidupnya. Seakan-akan pintu taubat telah tertutup baginya. Tanpa kita sadari kita sudah tidak berlaku adil kepada orang itu dan pada saat yang bersamaan kepada Allah SWT. Artinya, kita sudah memvonis atau menghakimi seseorang sebelum ajal menjemput, padahal mudah bagi Allah untuk kemudian membuatnya bertaubat dan menjadi baik. 

Tidak hanya itu, ketidakbijaksanaan kita dalam mensifati Allah dengan yu‘adzdzib—Maha Mengazab—dan melupakan bahwa Dia juga yaghfiru—Maha Mengampuni, adalah kesalahan fatal. Padahal, relasi kita dengan Allah sejak awal dibangun di atas permohonan ampun, bukan vonis-memvonis. Setiap hari, bahkan dalam shalat, kita diminta berdoa sebagaimana diabadikan dalam akhir surat Al-Baqarah,

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا …

(Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. (Q.S. al-Baqarah [2]: 286)

Dalam bahasa percakapan yang lebih sederhana, kira-kira maknanya begini:

“Ya Allah, jikalau suatu saat saya salah atau keliru, jangan kasih sanksi ya”
Lalu Allah menjawab, “Iya, Aku terima”

Coba bayangkan, sebelum kita benar-benar berbuat salah saja, kita sudah “teken” kontrak dengan Allah. Kita minta dari awal, “Ya Allah, jangan jatuhkan sanksi kalau saya lupa atau keliru.” Dan Allah mengiyakan permintaan itu. Qāla na‘am, Allah menjawab, “Oke.”

Kata Gus Baha, makanya Nabi Muhammad SAW senangnya bukan main. Karena yang beliau terima bukan sekadar ayat, tapi jaminan kasih sayang Allah: bahwa Allah tidak tergesa menghukum hamba-Nya, namun diberi ruang untuk sadar, kembali, dan bertaubat.

Menghilangkan suudzan, dengan demikian, bukan berarti menutup mata dari kesalahan, tetapi menahan diri dari memastikan keburukan orang lain. Tidak mencari-cari, tidak membangun skenario, tidak merasa paling tahu akhir cerita. Sebab boleh jadi, orang yang hari ini kita sangka buruk, justru sedang berada dalam proses pulang—sementara kita, tanpa sadar, sibuk merasa sudah sampai.

Karena itu, tidak sepatutnya bagi kita menghakimi atau memvonis perilaku seseorang, bahwa ia celaka, diadzab, dan semacamnya, bahkan sekalipun bermaksiat, sebab sepenuhnya berada dalam hak prerogatif Allah. Sebagai seorang muslim, sebaiknya kita kembalikan segala penilaian hakiki hanya kepada Allah, Pemilik kehendak dan penentu segala kebaikan dan kebijakan.

Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini