Bagaimana Islam Memandang Tahun Baru?

Setiap pergantian tahun sejatinya selalu menghadirkan dua sisi: kenangan atas apa yang telah dilalui, dan harapan atas apa yang akan datang. Dalam perspektif Islam, pergantian tahun adalah tanda berkurangnya usia manusia. Pada hakikatnya, semakin tahun usia kita semakin berkurang. Allah SWT berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ اَرَادَ اَنْ يَّذَّكَّرَ اَوْ اَرَادَ شُكُوْرًا ۝٦٢

“Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (QS. Al-Furqan: 62). 

Pergantian malam dan siang, demikian pula pergantian tahun, bukanlah peristiwa yang hampa akan makna, melainkan ruang refleksi untuk jeda sejenak mengoreksi kesalahan apa yang telah diperbuat, merenungi sejauh mana langkah kita membawa manfaat ataukah membawa pada kemudharatan, sehingga menjadi modal perbaikan untuk ke depannya.

Makna bersyukur dalam ayat di atas sesungguhnya dimulai dengan menyadari dari lubuk hati yang terdalam betapa besar nikmat dan anugerah-Nya, disertai dengan ketundukan dan kekaguman yang melahirkan rasa cinta kepadaNya dan dorongan untuk bersyukur dengan lidah dan perbuatan. 

Melalui perbuatan, kita dapat bersyukur kepada-Nya dengan menghayati makna syukur. Dengan bersyukur akan tumbuh pada “penerimaan” apapun yang ditakdirkan oleh Allah. Filosofi Jawa mengatakan “nerimo ing pandum”, menerima segala apapun yang telah menjadi ketentuan-Nya.

Syukur juga bisa diartikan sebagai menggunakan anugerah llahi sesuai tujuan penganugerahannya. Sebagai misal, kita dianugerasi mata, kita gunakan untuk melihat sesuatu yang baik, bukan justru sebaliknya untuk bermaksiat. Kita dianugerahi otak, kita gunakan untuk berfikir dan merenungi ayat-ayat-Nya yang terbentang dan terhampar luas sealam raya jagad ini, bukan untuk tujuan memperkaya diri dan menimbulkan kerusakan pada liyan. 

Pelajarilah mengapa laut, angin, bumi dan lain-lain diciptakan Allah, kemudian gunakan ciptaan itu sesuai dengan tujuan ia diciptakan. Semakin sesuai sikap dan tindakan kita dengan tujuan penciptaan, semakin banyak dan mantap pula kesyukuran kita kepada Allah. Maka, perubahan waktu semestinya dapat menjadi momen bagi seorang muslim untuk mengambil pelajaran, bukan sekadar rutinitas tanpa makna.

Ibn ‘Āsyūr dalam al-Taḥrīr wa al-Tanwīr berpendapat bahwa ayat ini berpesan agar setiap orang berpikir tentang pergantian malam dan siang, sehingga ia dapat mengetahui bahwa di balik pergantian itu pasti ada wujud yang berperanan lagi Maha Bijaksana. Dari sini ia sampai kepada kesimpulan tentang keesaan Allah dan bahwa kekuasaan-Nya Maha Agung. Pada gilirannya menghantarkannya untuk percaya bahwa tidak ada yang berhak dipertuhankan kecuali Allah swt. Dan hendaklah setiap orang bersyukur atas pergantian malam dan siang itu, karena dibaliknya terdapat banyak nikmat Allah.

Refleksi bukan Euforia

Pergantian tahun semestinya menjadi momentum refleksi terhadap diri sendiri. Quraish Shihab menjelaskan betapa refleksi menjadi penting karena manusia kerap kali lengah akan kehidupan di dunia dan melenceng dari tuntunan agama. Karena itu semestinya, refleksi bisa dilakukan setiap hari, bukan hanya setiap pergantian tahun. Apa saja langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk memulai refleksi diri?

Pertanyaan mendasarnya adalah: mengapa manusia perlu melakukan refleksi? Sebab, perjalanan hidup di dunia ini acapkali berjalan tidak seiring dengan tuntunan agama. Tanpa disadari, rutinitas dan dinamika kehidupan sering menyeret manusia menjauh dari nilai-nilai yang semestinya menjadi pedoman langkahnya. Waktu berlalu begitu cepat, dan justru di situlah manusia sering luput memahami arah perjalanan. Maka refleksi menjadi kebutuhan, agar hidup tidak sekadar berjalan, tetapi juga bermakna.

Kesadaran untuk berefleksi juga lahir dari kenyataan bahwa manusia acap kali keliru memahami akan hakikat kehidupan dunia. Dalam bahasa Arab, kata dunyā mengandung makna sesuatu yang rendah atau dekat. Hayāt al-dunyā adalah kehidupan yang dialami manusia saat ini, yang sifatnya dekat dan sementara. Ia berbeda secara diametral dengan ākhirah, kehidupan lain yang menanti dan bersifat kekal. Jika dibandingkan, kenikmatan dunia hanyalah sesaat, sedangkan kenikmatan akhirat tidak pernah berakhir.

Namun sikap manusia terhadap kehidupan sering kali terbalik. Banyak yang terpedaya oleh gemerlap dunia, terpukau oleh yang tampak di permukaan, tetapi lalai menangkap makna yang tersembunyi di baliknya. Mereka melihat fenomena, tetapi abai terhadap noumena; sibuk pada yang lahiriah dan administratif, namun melupakan substansi. Cara pandang semacam inilah yang menjadikan kehidupan terasa hampa, meski tampak penuh.

Meski demikian, Islam tidak pernah memerintahkan manusia untuk memusuhi dunia. Dunia bukanlah sesuatu yang harus dicela, melainkan ladang tempat menanam. Tidak sedikit ayat Al-Qur’an yang sekilas memberi kesan seolah-olah Islam melarang manusia mengejar dunia. Dunia digambarkan tidak bernilai, sekadar permainan, senda gurau, dan sesuatu yang sementara. Namun pesan-pesan semacam ini sejatinya tidak ditujukan kepada semua orang, melainkan kepada mereka yang lengah—mereka yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir (ghāyah), bukan sebagai sarana menuju Allah (wasīlah ilā Allāh).

Peringatan itu tampak jelas dalam QS. Al-Hadid ayat 20. Al-Qur’an menggambarkan kehidupan dunia tidak lebih sebagai permainan (la’bun) dan senda gurau (lahwun), perhiasan, ajang bermegah-megahan, serta perlombaan dalam harta dan keturunan. Gambaran tersebut diibaratkan seperti tanaman yang tumbuh subur karena hujan, lalu menguning dan akhirnya hancur. Sementara itu, di akhirat terbentang dua kemungkinan: azab yang keras atau ampunan dan keridhaan Allah. Ayat ini kemudian menegaskan dengan lugas bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Apa yang dimaksud dengan “permainan” dalam ayat tersebut, QS. Al-Hadid: 20? Quraish Shihab menjelaskan bahwa permainan adalah aktivitas yang tidak memiliki tujuan hakiki, atau kesibukan yang justru meninggalkan hal-hal yang penting demi mengejar yang tidak penting. Sikap seperti inilah yang melahirkan manusia-manusia yang lengah: sibuk berbangga dan mencitrakan diri, berlomba menumpuk harta, dan merasa aman (baca: kuasa) dengan apa yang dimilikinya.

Dalam kerangka ini, Islam tidak mengenal dikotomi antara “amal dunia” dan “amal akhirat” secara kaku. Setiap amal bisa bernilai dunia, dan setiap amal pula berpotensi bernilai akhirat. Penentunya bukan pada bentuk lahiriah perbuatan, melainkan pada niat dan orientasi batin pelakunya. Bahkan salat, ibadah yang paling sakral, dapat terjerumus menjadi amal dunia jika dilakukan demi riya dan pengakuan manusia. Sebaliknya, aktivitas duniawi dapat menjelma menjadi amal akhirat tatkala diniatkan untuk mencari rida Allah. 

Perbanyak Amal Shalih

Al-Qur’an mengingatkan dengan bahasa yang tegas: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu akan dikembalikan” (QS. Al-‘Ankabut: 57). Kesadaran akan kepastian ini semestinya menggerakkan manusia untuk lebih sungguh-sungguh menyiapkan bekal amal saleh, bukan larut dalam mengejar kesenangan yang sifatnya sementara.

Senada dengan itu, Rasulullah saw. mengajarkan kearifan dalam membaca waktu dan kesempatan. Dalam sebuah hadis beliau berpesan agar manusia memanfaatkan lima hal sebelum datang lima hal lainnya: masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kecukupan sebelum kekurangan, waktu luang sebelum kesibukan, dan hidup sebelum kematian. Pesan ini sesungguhnya adalah ajakan moral untuk hadir secara utuh dalam setiap fase kehidupan, menyadari bahwa setiap detik merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Maka, di penghujung tahun, manusia diajak berhenti sejenak—bukan untuk meratapi yang telah berlalu, melainkan menata yang akan datang. Akhir tahun menjadi ruang refleksi bagi kita untuk memperbanyak syukur atas nikmat yang masih mengalir, memperbaiki diri dari segala kekeliruan dan penyakit hati serta mempertebal keimanan agar kualitas hidup kita dari tahun ke tahun semakin menjadi pribadi yang baik, baik di hadapan Allah maupun masyarakat.

Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini