(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakannya dihadirkan, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap seandainya ada jarak yang jauh antara dia dan hari itu. Allah memperingatkan kamu akan (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Ali Imran/3: 30-31)
Euphoria puncak haji tahun ini mulai terasa. Jutaan jamaah haji dari seluruh dunia akan berkumpul di satu tempat yang sama, bermunajat dan memohon ampunan-Nya. Ibadah haji, seperti yang kita ketahui bersama, bukan sekadar rangkaian ritual fisik, melainkan sebuah perjalanan spiritual puncak yang mempertemukan jutaan umat Muslim dari seluruh penjuru dunia dalam satu kesatuan yang sakral. Di tengah kemegahan rukun-rukunnya, wukuf di Padang Arafah hadir sebagai inti dan ruh dari seluruh rangkaian ibadah haji—sebuah momentum magis di mana sekat-sekat duniawi runtuh, meninggalkan jutaan hamba berselimut kain ihram putih, bersimpuh pasrah memohon ampunan di bawah hamparan langit yang sama. Di sinilah, di hamparan tanah gersang Arafah, esensi sejati penghambaan dan miniatur padang mahsyar dihadirkan secara nyata, menegaskan bahwa esensi haji adalah Arafah itu sendiri.
Setiap jengkal perjalanan haji sejatinya adalah manifestasi cinta yang paling dalam seorang hamba kepada Sang Pencipta. Beribu-ribu kilometer ditempuh, harta dikorbankan, dan kenyamanan duniawi ditinggalkan demi memenuhi panggilan “Labaikallahumma Labaik”—sebuah ikrar setia bahwa tiada yang lebih dicintai melebihi Allah Swt. Puncak dari romansa spiritual ini mengejawantah secara sempurna saat wukuf di Padang Arafah. Di bawah sengatan terik matahari yang membakar, jutaan manusia bertahan bukan karena paksaan, melainkan karena dorongan cinta yang membuncah. Arafah menjadi panggung pembuktian di mana seorang kekasih datang menemui Yang Dikasihi tanpa sekat status sosial, bersimpuh berjam-jam, menumpahkan air mata penyesalan, dan merapalkan untaian doa. Di tanah tandus ini, lelah fisik menjelma menjadi nikmat, dan kepasrahan total menjadi bukti bahwa ketika cinta kepada Allah telah memenuhi rongga dada, dunia dengan segala kemewahannya menjadi tidak berarti apa-apa.
Berbicara tentang cinta (mahabbah), ayat di atas melukiskan dengan sangat teduh tentang sebuah cinta yang melahirkan ketaatan. Qs. Ali Imran/3: 31 menjadi petunjuk bagi orang yang mengaku mencintai Allah Ta’ala dibuktikan oleh ittiba’, mengikuti dengan penuh ketaatan segenap jiwa dan raga. Cinta yang melahirkan rasa taat, tak akan diabaikan begitu saja. Ia akan dibalas oleh Allah dengan cinta yang berbalas & ampunan tiada batas.
Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir mengetengahkan bahwa ada tiga asbabun nuzul surah di atas. Pertama, terkait perkataan beberapa kaum di masa Rasulullah Saw yang mengaku mencintai Tuhan. Kedua, terkait perkataan orang Nasrani yang mengaku mencintai Allah. Muhammad bin Ja’far bin Zubair berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan utusan kaum Nasrani Najran yang menganggap bahwa apa yang mereka asumsikan tentang diri Nabi Isa as merupakan sebuah wujud kecintaan kepada Allah Swt.” Ketiga, terkait perkataan orang Yahudi yang mengaku mencintai Allah dan Allah mencintai mereka.
Berbicara mengenai cinta, Prof. M. Quraish Shihab menguraikan tentang ittiba’ dalam kaitan ayat di atas. Mengikuti Rasul, dalam hal-hal yang sifatnya wajib, baru mengantar seseorang memasuki pintu gerbang cinta sejati kepada Allah. Kalaupun mengikuti Rasul dalam batas minimal ini sudah dinamai cinta, ia adalah tangga pertama dari cinta.
Maka, lanjut Prof. M. Quraish Shihab, puncak tahap dari cinta pada Allah ialah seperti apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, Rasulullah Saw bersabda ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh! Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu, yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya, dan senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya; bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, dan penglihatannya yang digunakannya untuk melihat dan tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan; jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya”. (HR. Bukhari)
Masih menurut Prof. M. Quraish Shihab, ittiba’/ mengikuti Rasul itu bertingkat-tingkat. Mengikuti dalam amalan wajib, selanjutnya mengikuti beliau dalam amalan sunnah muakkadah, selanjutnya sunnah-sunnah yang lain walau tidak muakkadah, dan mengikuti beliau, bahkan dalam adat istiadat dan tata cara kehidupan keseharian beliau.
Jika demikian, ukuran cinta adalah ketaatan kepada Allah, ketaatan yang tidak boleh ditunda. Cinta adalah dasar dan prinsip perjalanan menuju Allah. Semua keadaan dan peringkat yang dialami oleh pejalan (salik) adalah tingkat- tingkat cinta kepada-Nya, dan semua peringkat (maqâm) dapat mengalami kehancuran, kecuali cinta. Ia tidak bisa hancur dalam keadaan apa pun selama jalan menuju Allah tetap ditelusuri.
Maka, dalam konteks ibadah Haji, meraih cinta &keridhaan Allah, idealnya menjadi satu-satunya tujuan. Baik mereka yang tengah diuji di tengah terik dan padatnya tanah suci. Maupun mereka yang belum terpanggil untuk berhaji. Karena itu, awal Dzulhijjah adalah momen yang luarbiasa untuk ‘mengundang’ cinta Allah seperti apa yang diteladani Rasulullah. Rasulullah tidak melewati satu hari pun di awal Dzulhijjah (1-9) kecuali mengisinya dengan aneka amalan shalih.
“Tidak ada hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari tersebut (yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para Sahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun (karena mati syahid).” [HR al-Bukhâri no. 969 dan at-Tirmidzi no. 757, dan lafazh ini adalah lafazh riwayat at-Tirmidzi]
Rasulullah pun senantiasa berpuasa sunnah di awal Dzulhijjah, “Adalah Rasûlullâh Saw melakukan puasa sembilan hari bulan Dzulhijjah [HR. Abu Daud dan Nasa’i. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abi Daud, no. 2129 dan Shahih Sunan Nasa’i, no. 2236]. Beliau berpuasa sunnah karena mengetahui bahwa fadhilahnya sangat luar biasa, “Puasa Arafah menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan yang akan datang. [HR. Muslim]
Puasa Arafah ini disunahkan bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Bagi mereka yang sedang berhaji, tidak diperbolehkan berpuasa. Sebab pada hari itu mereka harus melakukan wukuf. Di Arafah serta memaksimalkan ibadah saat wukuf tersebut. Melalui tuntunan Rasulullah ini kita mengetahui bahwa keutamaan hari Arafah bisa dinikmati oleh orang yang sedang berhaji maupun yang tidak sedang berhaji. Semuanya bernilai tinggi di hadapan Allah, asal dilakukan sesuai dengan Qs. Ali Imran/3: 31 di atas, dilakukan dengan ilmu, keikhlasan dan cinta. Sebab jika bukan karena cinta, lantas karena apa dan siapa ibadah kita?
Demikian, Wallahu A’lam
Dr. Ina Salmah Febriani, M.A., Ustadzah di Cariustadz.id
Tertarik mengundang ustadz Dr. Ina Salmah Febriani, M.A? Silahkan klik disini