Dalam Islam, waktu merupakan nikmat Allah yang sangat tak ternilai harganya sehingga wajib bagi kita, selaku Muslim untuk memanfaatkannya dengan beribadah dan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya agar tidak tergolong orang yang merugi. Waktu diibaratkan laksana pedang jika tidak digunakan untuk hal bermanfaat, ia akan menebas diri sendiri.
Sekali berlalu, waktu tidak akan pernah kembali dan terulang lagi. Waktu tidak dapat dibeli, 24 jam sehari, 60 menit dalam satu jam, dan seterusnya tidak dapat berubah, bertambah ataupun berkurang. Saking berharganya, Allah swt bersumpah atas demi waktu; demi fajar, demi waktu duha, demi rembulan, demi malam, dan seterusnya.
Dalam Surah al-‘Ashr, Allah swt telah menegur manusia yang menjadikan hidupnya semata-mata ajang perlombaan menumpuk harta dan prestasi duniawi. Seluruh energi dicurahkan untuk akumulasi, hingga lupa bahwa waktu tidak sekadar modal ekonomi, melainkan ruang pertanggungjawaban eksistensial. Kesibukan yang tak terarah itu pada akhirnya melahirkan kelalaian: lupa tujuan, lupa nilai, bahkan lupa diri.
Nah, dalam surah al-‘Ashr ini Allah memperingatkan tentang pentingnya waktu dan bagaimana seharusnya ia diisi. Allah berfirman: Wal-‘Ashr, sesungguhnya semua manusia yang mukallaf di dalam wadah kerugian dan kebinasaan yang besar dan beragam.
Kata al-‘ashr terambil dari kata ‘ashara yakni menekan sesuatu sehingga apa yang terdapat pada bagian terdalam dari padanya nampak ke permukaan atau keluar (memeras). Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah, diulas lebih jauh semisal angin yang tekanannya sedemikian keras sehingga memporak-porandakan segala sesuatu dinamai ishar (waktu). Tatkala perjalanan matahari telah melampaui pertengahan, dan telah menuju kepada terbenamnya dinamai ‘ashr (asar).
Penamaan ini agaknya disebabkan karena ketika itu manusia yang sejak pagi telah memeras tenaganya diharapkan telah mendapatkan hasil dari usahanya. Awan yang mengandung butir-butir air, misalnya, yang kemudian berhimpun sehingga karena beratnya ia kemudian mencurahkan hujan dinamai al-mu‘shirat.
Menghargai Waktu
Salah satu bentuk paling konkret dalam menghargai waktu ialah keberanian untuk meninggalkan hal-hal yang tidak membawa manfaat, baik bagi pertumbuhan spiritual, intelektual, maupun sosial. Waktu, dalam perspektif Islam, bukan sekadar ruang kosong yang boleh diisi sesuka hati, melainkan amanah yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Setiap detik yang berlalu tanpa makna sejatinya adalah potensi yang hilang—bukan karena waktu itu singkat, tetapi karena ia disia-siakan untuk hal-hal yang tidak perlu.
Prinsip ini ditegaskan oleh Nabi saw. dalam sabda beliau, min husni islām al-mar’i tarkuhu mā lā ya‘nīhi—“di antara tanda baiknya Islam seseorang ialah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya.” Hadis ini tidak sekadar bermakna nasihat etika personal, akan tetapi pondasi disiplin hidup seorang Muslim. Ia mengajarkan kepekaan dalam memilah: mana yang benar-benar menjadi kebutuhan, dan mana yang hanya memancing perhatian tanpa memberi nilai. Banyak perkara tampak sepele, namun jika dibiarkan menggerogoti waktu, mengikis fokus, kesungguhan, dan kualitas diri.
Dalam konteks sehari-hari, mā lā ya‘nīhi bisa menjelma dalam beragam bentuk, misalnya, perbincangan kosong nirmakna, debat kusir yang tidak mendidik, konsumsi informasi hoax, hingga kebiasaan menunda-nunda dengan dalih hiburan (healing).
Semua itu mungkin tidak langsung terlihat sebagai dosa, tetapi ia mencuri sesuatu yang jauh lebih berharga yakni kesempatan untuk bertumbuh dan mendekat kepada Allah (taqarrub ilallah). Karena itu, meninggalkan yang tidak bermanfaat bukan berarti anti-santai atau anti-hiburan, melainkan menempatkan segalanya secara proporsional, agar waktu tidak habis untuk yang sia-sia.
Kesadaran ini menjadi penting agar kita tidak terlena menyikapi waktu dengan banyak berbuat yang kurang manfaat sehingga penyesalan yang hanya didapat. Namun sebaliknya kita selalu berupaya sekuat tenaga berbuat, bersikap dan bertindak untuk hal-hal yang membawa kebaikan dan kemanfaatan baik untuk diri kita maupun orang lain.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini