Tips Mengatasi Overthinking Menurut Al-Qur’an

Overthinking merupakan kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan hingga memicu kecemasan dan stres. Fenomena ini banyak ditemukan pada anak-anak zaman sekarang —terutama kalangan mahasiswa. Pikiran yang seharusnya membantu mengambil keputusan justru berubah menjadi beban yang melelahkan. 

Kekhawatiran tentang masa depan, ketakutan gagal membahagiakan orang tua, atau rasa tidak percaya diri sering kali muncul. Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini akan mengganggu kesehatan mental, sehingga berdampak pada, misalnya, sulit tidur, kelelahan, dan menurunnya konsentrasi. Dalam Al-Qur’an, overthinking ini bisa dikatakan dengan cemas, takut, gelisah, sedih, sempit jiwa, dan keluh kesah.

Al-Qur’an memberikan solusi untuk overthinking (pikiran berlebih) dengan menegaskan pentingnya bersikap tenang, berzikir, berikhtiar dan menghindari prasangka buruk. Ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa ketenangan hati datang dari mengingat Allah (QS. Ar-Ra’d: 28) dan keyakinan bahwa Allah tidak membebani manusia melainkan sesuai kesanggupannya (QS. Al-Baqarah: 286), sehingga berlebihan dalam cemas adalah hal yang harus dihindari. 

Ketenangan

Ketenangan dalam Al-Qur’an—yang diekspresikan melalui istilah sakinah dan ṭuma’ninah—bukan sekadar kondisi emosional sesaat, melainkan keadaan batin yang stabil, kokoh, dan berakar pada keimanan yang mendalam. Sakinah sering dipahami sebagai ketenangan yang “diturunkan” oleh Allah ke dalam hati orang beriman, terutama dalam situasi genting, sebagaimana tergambar dalam berbagai ayat tentang keteguhan kaum mukmin. 

Sementara ṭuma’ninah merujuk pada ketenteraman internal yang lahir dari keyakinan yang mantap dan bebas dari kegoncangan. Dalam konteks ini, Al-Qur’an menegaskan bahwa sumber utama ketenangan tersebut adalah dzikrullah—kesadaran dan ingatan yang terus-menerus kepada Allah.

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

 (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 28)

Ayat ini tidak hanya bersifat informatif, namun juga afirmatif—menggunakan gaya penegasan (alā) untuk menekankan bahwa ketenangan sejati tidak dapat dicapai melalui selain Allah. Dalam perspektif tafsir, “mengingat Allah” tidak terbatas pada aktivitas verbal seperti tasbih dan tahmid, akan tetapi mencakup kesadaran eksistensial akan kehadiran-Nya, kepercayaan terhadap takdir-Nya, serta kepasrahan total terhadap kehendak-Nya. 

Penjelasan Muhammad al-Tahir Ibn ‘Āsyūr dalam at-Tahrir wa at-Tanwir memperdalam makna ini. Ia menafsirkan al-iṭmi’nān sebagai ketenangan yang berakar pada keyakinan yang bebas dari keraguan (yaqīn lā syakka fīh). Overthinking pada dasarnya adalah bentuk idṭirāb al-qalb (kegoncangan batin): pikiran berputar karena tidak adanya kepastian, dipenuhi skenario berbagai kemungkinan, dan diliputi keraguan. 

Menurut Ibn ‘Āsyūr, kondisi ini adalah kebalikan dari iṭmi’nān. Jika keraguan dianalogikan sebagai kegoncangan, maka overthinking adalah manifestasi konkret dari kegoncangan tersebut dalam level kognitif-emosional.

Sebaliknya, iṭmi’nān (ketenangan hati) muncul ketika seseorang mencapai yaqīn (keyakinan epistemik dan eksistensial). Hati menjadi stabil karena tidak lagi terombang-ambing oleh kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi. Sebab segala sesuatu harus dihadapi dengan ketenangan sehingga pikiran lebih jernih dalam mengambil keputusan. 

Berikhtiar

Mengahadapi overthinking bukan cuman berdoa namun harus ikhtiar (berusaha) sebagaimana dalam QS. Al-A’raf [7]: 35,

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ إِمَّا يَأۡتِيَنَّكُمۡ رُسُلٞ مِّنكُمۡ يَقُصُّونَ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِي فَمَنِ ٱتَّقَىٰ وَأَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ 

“Wahai anak cucu Adam! Jika datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, yang menceritakan ayat-ayat-ku kepadamu, maka barang siapa bertakwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati” (QS. Al-A’raf [7]: 35).

Ayat ini mengatakan dalam menghadapi overthinking, seseorang tidak cukup hanya berdoa dan berharap, akan tetapi juga dituntut untuk melakukan tindakan konkret yang mengarah pada perbaikan diri (iṣlāḥ). Dalam konteks overthinking, ayat ini memberi isyarat bahwa kecemasan yang berlarut-larut sering kali bersumber dari stagnasi—ketika seseorang terjebak dalam pikiran tanpa dibarengi aksi.

Janji “tidak ada rasa takut dan tidak bersedih hati” bukan berarti hilangnya seluruh problem kehidupan, melainkan tercapainya stabilitas psikologis akibat keselarasan antara iman dan tindakan. Tatkala seseorang berikhtiar, ia mengalihkan energi mental dari kecemasan menuju produktivitas. Ini secara tidak langsung memutus siklus overthinking yang biasanya dipicu oleh ketidakberdayaan dan ketidakpastian. Jadi untuk menghindari overthinking yang terus muncul maka harus ada pergerakan dan harus ada perubahan diri yang dilakukan.

Jangan Berputus Asa

Namun demikian, ikhtiar dalam Islam tidak berdiri sendiri, ia harus disertai dengan larangan berputus asa.

وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ ٱللَّهِۦٓ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَـٰفِرُونَ

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (Q.S. Yusuf: 87)

Istilah “min rauhillah” dalam ayat ini mengandung makna kelapangan, rahmat, dan pertolongan Allah yang membuka jalan keluar atau solusi dari kesempitan hidup. Penjelasan Jalaluddin al-Suyuti dalam Ad-Durr al-Mantsur memperkuat dimensi ini dengan ungkapan:

مِن فَرَجِ اللَّهِ يُفَرِّجُ عَنْكُمُ الغَمَّ الَّذِي أنْتُمْ فِيهِ

Dari (karunia) kelapangan Allah, Dia akan melapangkan (menghilangkan) kesedihan yang sedang kalian alami

Makna ini menunjukkan bahwa keputusasaan adalah bentuk kegagalan dalam membaca realitas ketuhanan—seolah-olah tidak ada lagi kemungkinan solusi, padahal Allah selalu menyediakan jalan keluar yang sering kali tidak terduga. Dalam perspektif psikologis, putus asa memperparah overthinking karena mempersempit horizon harapan, sementara harapan (raja’) justru memperluas ruang kemungkinan dan meredakan tekanan batin.

Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini