Tilawah al-Qur’an Mencegah Kepikunan

Tilawah al-Qur’an memang mengandung nilai ibadah bagi setiap muslim yang menjalankannya. Namun, ternyata secara aspek kesehatan juga terdapat kebaikan yang bisa diambil. Penelitian staf pengajar kedokteran UMY mengemukakan bahwa; bagi orang-orang yang punya rutinitas Tilawah al-Qur’an ia akan 10 kali lipat lebih efektif dalam menjaga kemampuan kognitifnya. 

Kemampuan kognitif merupakan kemampuan seseorang untuk menerima, mengolah, menyimpan, memahami dan menggunakan informasi. Sederhananya adalah kemampuan otak untuk belajar dan berpikir. Seperti mengingat, memahami, menerapkan, menganalisa, mengevaluasi dan mencipta sesuatu. 

Tidak pula kita pungkiri, bahwa semakin usia berjalan, semakin terkikis pula diri kita dari berbagai segi kemampuan. Mari renungi sejenak firman Allah dalam QS. An-Nahl: 70

{ وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ ثُمَّ يَتَوَفَّىٰكُمۡۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ لِكَيۡ لَا يَعۡلَمَ بَعۡدَ عِلۡمٖ شَيۡـًٔاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٞ قَدِيرٞ }

Artinya:

Dan Allah telah menciptakan kamu, kemudian mewafatkanmu, di antara kamu ada yang dikembalikan kepada usia yang tua renta (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahakuasa.

Dalam ayat ini, kata أرذل العمر artinya adalah umur yang renta. Dalam penjelasannya dimaknai dengan kepikunan. Lalu, Redaksi selanjutnya dijelaskan oleh Abu Abdillah al-Qurthubi:

وقوله: لكي لا يعلم بعد علم شيئا. يقول: إنما نرده إلى أرذل العمر ليعود جاهلا كما كان في حال طفولته وصباه. لئلا يعلم سيئا بعد علم كان يعلمه في شبابه، فذهب ذالك بالكبر ونسى، فلا يعلم منه شيئا، وانسلخ من عقله، فصار من بعد عقل كان له لا يعقل شيئا

“Firman-Nya: ‘agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun setelah sebelumnya mengetahui’, maksudnya Allah mengembalikannya kepada usia yang paling lemah (pikun) sehingga ia kembali menjadi tidak mengetahui sebagaimana keadaan pada masa kanak-kanak dan masa mudanya dahulu.

Agar ia tidak lagi mengetahui sesuatu yang sebelumnya pernah ia ketahui ketika masih muda. Pengetahuan itu hilang karena usia tua dan ia menjadi lupa, sehingga tidak mengetahui lagi apa pun darinya. Akalnya pun seakan terlepas darinya, sehingga setelah sebelumnya memiliki akal, ia menjadi tidak mampu memahami apa pun.”

Penjelasan lainnya bisa dilihat pada Tafsir fi Zhilal al-Qur’an; Sayyid Quthb menerangkan bahwa ayat ini menyampaikan pesan menggugah untuk merenungi fase kehidupan manusia, memberikan kesadaran akan lemahnya manusia, mengikis kesombongan kita sebagai individu dan mereduksi rasa bangga berlebih diri kita terhadap pencapaian dan kekuatan baik materi maupun intelektualitas. 

Nabi SAW Berdoa Agar Tak Pikun

Imam al-Bukhari dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW berdoa:

اللهم إني أعوذبك من البخل والكسل والهرم وأرذل العمر وعذاب القبر وفتنة الدجال والفتنة المحيا والممات

Ya Allah hamba berlindung pada-Mu dari sikap kikir, malas, kerentanan dan selemah-lemahnya umur, azab kubur, fitnah dajjal, fitnah kehidupan dan kematian

Demikian harapannya; kita bisa lebih konsisten dan istiqomah dalam Tilawah al-Quran. Semoga Allah berkahi kita hidup yang dekat dengan firman-Nya dan senantiasa punya kemampuan untuk selalu mendekat pada-Nya. Sebab hidup bukan hanya perjalanan biologis; namun persiapan singkat untuk menuju kebahagiaan abadi. Wallahu A’lam.

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini