Banyak orang mengira bahwa ketenangan hidup lahir dari kelapangan harta dan kelimpahan fasilitas. Padahal, dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang hidupnya tampak mapan justru dipenuhi kegelisahan. Bukan karena kurang, tetapi karena cara memperlakukan apa yang dimiliki.
Islam sejak awal tidak menjadikan kemiskinan sebagai cita-cita, namun juga tidak mengagungkan kemewahan sebagai ukuran keberhasilan. Yang ditekankan adalah keseimbangan, kecukupan, dan keberkahan. Di sinilah sikap pragmatis—dalam arti yang lurus—menjadi penting.
Pragmatisme sering dipahami secara negatif, seolah identik dengan sikap oportunis dan miskin prinsip. Padahal, pragmatisme yang sehat adalah kemampuan membaca realitas dan mengambil keputusan paling rasional serta membawa maslahat, tanpa harus mengorbankan nilai dasar.
Islam sendiri tidak menuntut umatnya hidup dalam standar yang idealistik dan kaku. Allah menegaskan:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS. Al-Baqarah: 286).
Ayat ini bukan hanya prinsip ibadah, tetapi juga fondasi dalam mengelola kehidupan, termasuk dalam urusan ekonomi. Hidup yang tenang sering kali lahir dari kemampuan menerima batas diri dan tidak memaksakan sesuatu di luar kemampuan.
Dalam realitas sehari-hari, banyak keputusan ekonomi tidak lahir dari kebutuhan, tetapi dari keinginan untuk diakui. Barang dibeli bukan karena fungsinya, melainkan karena mereknya. Standar konsumsi tidak lagi ditentukan oleh manfaat, tetapi oleh citra.
Akibatnya, tidak sedikit orang membeli barang mahal dengan cara kredit atau cicilan panjang, meskipun secara fungsi barang tersebut tidak membawa dampak signifikan terhadap penghasilan atau produktivitas. Sebuah gawai mahal, misalnya, tidak otomatis membuat seseorang lebih kreatif atau lebih berhasil secara ekonomi dibanding gawai yang jauh lebih murah.
Dalam situasi seperti ini, pragmatisme mengajak untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah manfaat yang diperoleh sepadan dengan beban yang ditanggung?
Islam mengingatkan dengan tegas agar manusia tidak terjebak dalam pola hidup berlebihan:
وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (QS. Al-A’raf: 31).
Utang pada dasarnya bukan perkara haram. Namun, ketika utang digunakan hanya untuk memenuhi gaya hidup dan gengsi, ia sering menjadi sumber kegelisahan yang panjang. Cicilan mengikat masa depan, menggerus fleksibilitas hidup, dan menekan batin secara perlahan.
Rasulullah ﷺ bahkan sering berdoa agar dilindungi dari lilitan utang. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa utang dapat menyeret seseorang pada kebohongan dan ingkar janji. Ini menunjukkan bahwa masalah ekonomi tidak berhenti pada angka, tetapi berdampak pada akhlak dan kualitas spiritual.
Pragmatisme ekonomi berarti berani berkata cukup. Berani menunda keinginan. Berani hidup dengan apa yang ada, selama masih layak dan berfungsi. Sikap ini bukan kemunduran, melainkan bentuk kebijaksanaan.
Pragmatisme dalam Islam tidak berdiri sendiri. Ia berpadu dengan qana’ah—sikap menerima rezeki dengan lapang dada tanpa mematikan ikhtiar. Qana’ah bukan pasrah tanpa usaha, tetapi ketenangan setelah usaha maksimal dilakukan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Orang yang pragmatis dan qana’ah tidak sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain. Fokusnya bukan pada tampilan luar, tetapi pada keberesan hidup secara menyeluruh: kewajiban tertunaikan, keluarga terurus, dan hati tidak dibebani kecemasan berlebih.
Sikap pragmatis membantu seseorang untuk hidup lebih realistis, dan dari realisme itulah lahir rasa syukur. Ketika standar hidup ditentukan oleh kemampuan sendiri, bukan oleh tuntutan sosial, maka nikmat terasa lebih nyata.
Syukur bukan hanya soal ucapan, tetapi juga soal keputusan hidup. Memilih barang yang fungsional, menolak utang yang tidak perlu, dan hidup sesuai kemampuan adalah bentuk syukur praktis yang sering dilupakan.
Allah berjanji:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian (QS. Ibrahim: 7).
Kadang, ketenangan hidup tidak datang dari pencapaian besar, tetapi dari keputusan-keputusan kecil yang bijak. Dari keberanian untuk tidak selalu mengikuti arus. Dari kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Pragmatisme mengajarkan bahwa hidup tidak harus selalu tampak naik kelas, selama hati tidak turun derajat. Bahwa hidup sederhana namun stabil sering kali lebih mendekatkan pada ketenangan daripada kemewahan yang dibangun di atas beban.
Dalam pandangan Islam, ketenangan adalah nikmat besar. Dan sering kali, nikmat itu lahir ketika seseorang berdamai dengan kenyataan, mengelola rezeki dengan bijak, serta menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh tawakal.
Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini