Tabayyun di Era Hoaks: Cara Islam Menyikapi Kabar Viral

Tabayyun adalah cara Islam menghadapi hoaks: memeriksa kebenaran sebuah kabar sebelum mempercayainya, apalagi menyebarkannya. Di zaman ketika kabar viral bisa sampai ke ratusan grup WhatsApp dalam hitungan menit, perintah ini bukan lagi urusan wartawan atau hakim saja. Ia menjadi kewajiban setiap orang yang memegang ponsel.

Dasarnya sangat jelas. Allah Swt berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ 

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. al-Hujurat [49]: 6)

Ada catatan menarik dari Imam ath-Thabari dalam Jāmi’ al-Bayān (juz 21, hlm. 349). Kata fatabayyanū (telitilah) dibaca oleh sebagian besar ahli qira’at Kufah dengan fatatsabbatū (tahanlah dirimu sampai pasti). Qira’at adalah ragam bacaan Al-Qur’an yang diriwayatkan dari Nabi. Menurut ath-Thabari, kedua bacaan itu sama-sama dikenal dan maknanya berdekatan yaitu tunggu dulu, pastikan kebenarannya, jangan buru-buru membenarkan. Jadi, tabayyun bukan sekadar “cek fakta”. Ia juga sikap menahan diri.

Ayat ini lahir dari peristiwa nyata. Ath-Thabari menyebutkan riwayat tentang utusan Nabi yang ditugaskan memungut zakat dari Bani al-Mushthaliq. Ia kembali dengan laporan bahwa kaum itu hendak membunuhnya. Laporan itu ternyata keliru. Seandainya kabar tersebut langsung dipercaya, satu kaum yang tidak bersalah bisa celaka. Itulah yang diingatkan ayat ini: kabar keliru tidak berhenti sebagai kata-kata. Ia bisa membuat orang dicurigai, dikucilkan, bahkan diserang.

Rasulullah Saw juga mengingatkan dengan kalimat yang singkat:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap yang ia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Ṣaḥīḥ Muslim, juz 1, hlm. 10, no. 5, dari Abu Hurairah)

Logikanya sederhana. Tidak semua yang kita dengar itu benar. Orang yang meneruskan semua kabar tanpa memilah pasti ikut menyebarkan kebohongan, meskipun ia sendiri tidak berniat berbohong. Tombol “teruskan” di ponsel kita bekerja persis seperti lisan dalam hadits ini.

Pesan ini terasa dekat pekan ini. Setelah penggeledahan dua pondok pesantren di Sukoharjo dan Karanganyar pada 27 Oktober 2026, tokoh NU, Muhammadiyah, MUI, dan FKUB setempat menyerukan warga agar bertabayyun, tidak terburu-buru menyimpulkan informasi yang beredar, dan mempercayakan prosesnya kepada aparat (Liputan6 dan Merdeka, 1/11/2026). Ketua Umum PBNU juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpancing informasi yang belum jelas kebenarannya (JawaPos dan Harian Jogja, 1/11/2026). Kita tidak perlu ikut menilai kasusnya. Yang perlu kita teladani adalah sikapnya.

Dalam praktik, tabayyun bisa dimulai dengan tiga pertanyaan sebelum membagikan kabar. Pertama, siapa sumbernya, dan bisakah dicek? Kedua, apakah media atau lembaga yang kredibel juga memberitakannya? Ketiga, jika kabar ini ternyata salah, siapa yang akan dirugikan? Jika jawabannya belum jelas, menahan jari adalah pilihan yang lebih selamat.

Tabayyun bukan tanda curiga kepada saudara sendiri. Ia adalah bentuk tanggung jawab, agar kita tidak menjadi bagian dari kabar yang mencelakakan orang lain, lalu menyesal ketika semuanya sudah terlambat. Wallahu a’lam.

Khoirul Muhtadin, M.Ag.,  Dosen STIQ Asy-Syifa dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Khoirul Muhtadin, M.Ag.? Silakan klik disini