Semua Berjasa dengan Perannya

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering terjebak pada cara pandang yang menilai kontribusi berdasarkan besar kecilnya peran yang tampak di permukaan. Profesi yang terlihat menonjol acapkali dianggap lebih berjasa, sementara peran-peran sederhana sering luput dari penghargaan. Padahal, kehidupan ini berjalan karena adanya keterhubungan dan saling melengkapi di antara berbagai peran yang berbeda.

Islam melalui nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an mengajarkan bahwa setiap amal memiliki nilai, tidak ditentukan oleh seberapa besar ia terlihat, melainkan oleh keikhlasan dan kualitas dalam menjalankannya. Setiap individu memiliki posisi dan tanggung jawab masing-masing yang jika dijalankan dengan penuh tanggung jawab akan memberikan kontribusi bagi keberlangsungan kehidupan bersama.

Kalimat “Semua Berjasa dengan Perannya” memiliki resonansi kuat dalam etika Al-Qur’an, terutama dalam melihat kehidupan sebagai sebuah sistem keterkaitan (interconnectedness) yang tidak bisa direduksi hanya sekadar pada peran-peran yang tampak besar dan dominan. Al-Qur’an tidak membangun hierarki nilai berdasarkan visibilitas sosial semata, akan tetapi pada fungsi, niat, dan kontribusi dalam keseluruhan tatanan kehidupan.

Saling Melengkapi

Salah satu fondasi teologisnya dapat ditarik dari prinsip takāmul (saling melengkapi) dalam penciptaan. Allah menegaskan dalam QS. Az-Zukhruf: 32 bahwa Dia meninggikan sebagian manusia atas sebagian yang lain “agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain.” 

اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۙ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗوَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Q.S. Az-Zukhruf [43]: 32)

Ayat ini sering disalahpahami sebagai legitimasi stratifikasi sosial, padahal secara substansi ia menegaskan diferensiasi peran. Perbedaan bukan untuk dominasi, melainkan untuk kooperasi. Dalam kerangka ini, seorang guru, petani, pedagang, bahkan pekerja kebersihan, semuanya mengisi celah-celah kebutuhan sosial yang jika salah satunya hilang, sistem akan timpang.

Al-Qur’an juga menekankan bahwa nilai amal tidak ditentukan oleh skala eksternal, akan tetapi oleh kualitas internalnya. Dalam QS. Al-Zalzalah: 7–8 ditegaskan bahwa siapapun yang melakukan kebaikan seberat zarrah (biji) akan melihat balasannya. Ini adalah dekonstruksi radikal terhadap cara pandang dunia yang acap kali hanya mengapresiasi kontribusi besar dan spektakuler. Padahal, tindakan kecil—menyingkirkan duri di jalan, membantu rekan kerja, atau mendidik satu anak dengan penuh kesabaran—memiliki nilai eksistensial di hadapan Allah.

Semua profesi mulia di sisi Allah

Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia dan lebih hina, semua berjasa dengan perannya masing-masing dan bernilai mulia di hadapan Allah. Sebab kemuliaan lahir dari dalam diri manusia itu sendiri, apakah ikhlas diniatkan untuk beribadah kepada Allah swt atau sekadar menyombongkan diri di hadapan sesama serta melampiaskan hawa nafsu semata.

Dalam realitas kehidupan sehari-hari, kita acapkali terjebak dalam bias “peran besar”. Jika ditarik ke dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, setiap peran yang menjaga keberlangsungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta memiliki signifikansi yang sama dalam struktur sosial. Seorang ibu rumah tangga yang membentuk karakter anak, misalnya, berkontribusi pada penjagaan akal dan keturunan. Seorang petani, misalnya, yang menanam padi di sawah, berperan besar dalam menjaga ketahanan pangan. Seorang sopir angkutan yang memastikan mobilitas masyarakat, berperan dalam menjaga keberlangsungan ekonomi. Bahkan peran-peran informal yang tidak terinstitusionalisasi tetap memiliki bobot moral.

Bahkan, dalam QS. At-Taubah: 105 ditegaskan, 

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah [9]: 105)

Perintah “i‘malū” (bekerjalah kamu) tidak sekadar bernuansa instruksi pragmatis, tetapi mengandung dimensi teologis dan etis. Ayat ini menggambarkan bahwa kerja manusia berada dalam tiga lingkaran pengawasan sekaligus: pengawasan ilahi (Allah), pengawasan profetik (Rasul), dan pengawasan sosial (orang-orang beriman). Artinya, setiap amal tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu memiliki konsekuensi spiritual sekaligus sosial. Tentu, dalam bekerja bukan hanya sekadar memerankan aktivitas ekonomi, melainkan tindakan moral yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ketekunan dan Profesionalitas

Kerangka ini kemudian dipertegas kembali oleh sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah, bahwa Allah mencintai hamba yang ketika bekerja melakukannya dengan itqān (ketekunan dan profesionalitas). 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي)

Dari Aisyah r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara itqan (professional)”. (HR. Thabrani, No: 891, Baihaqi, No: 334).

Konsep itqān dalam hadis ini tidak boleh direduksi hanya sebagai “rapi” atau “selesai tepat waktu”, melainkan merujuk pada kesempurnaan proses (process excellence) dan kualitas hasil (quality assurance). Itqān bermakna adanya kesadaran batin bahwa pekerjaan tersebut disaksikan oleh Allah, sehingga melahirkan sikap totalitas, disiplin, dan tanggung jawab.

Lebih jauh, itqān juga berkaitan dengan etos ihsān, yaitu bekerja seakan-akan melihat Allah atau minimal merasa selalu dilihat oleh-Nya. Dalam kerangka ini, seorang muslim tidak akan bekerja secara asal-asalan, manipulatif, atau sekadar menggugurkan kewajiban. Ia akan menghindari praktik-praktik seperti korupsi waktu, pengabaian kualitas, atau ketidakjujuran profesional, sebab menyadari bahwa setiap detail pekerjaan memiliki dimensi akuntabilitas ukhrawi.

Sebagai contoh, seorang guru mempersiapkan materi secara matang, tidak sekadar menyelesaikan jam mengajar; seorang pedagang yang jujur dalam takaran, tidak hanya mengejar keuntungan; atau seorang pegawai yang menyelesaikan tugas tanpa harus diawasi; seorang pejabat publik yang mengemban amanah rakyat —semuanya merupakan manifestasi dari itqān. Bahkan pekerjaan yang tampak sederhana sekalipun, jika dilakukan dengan standar terbaik dan niat ibadah, pasti bernilai tinggi di sisi Allah.

Perspektif ini juga mengajarkan kerendahan hati dan sosial. Tidak ada peran yang absolut, dan tidak ada individu yang sepenuhnya mandiri. Setiap orang berada dalam jaringan ketergantungan yang kompleks. Dalam bahasa Al-Qur’an, manusia merupakan ‘abd sekaligus khalīfah—hamba yang tunduk, sekaligus agen yang berkontribusi. Kesadaran ini menumbuhkan etos saling menghargai dan mengikis kecenderungan meremehkan peran orang lain. Setiap kontribusi, sekecil apapun, tetap bernilai besar dan mulia di sisi Allah.

Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini