Ramadan identik dengan meningkatnya aktivitas sosial keagamaan, salah satunya adalah buka bersama (bukber). Undangan dan wacana datang dari berbagai kalangan: keluarga, rekan kerja, komunitas, hingga alumni sekolah. Kegiatan ini pada dasarnya merupakan bentuk silaturahmi yang dianjurkan dalam Islam dan dapat menjadi sarana mempererat ukhuwah.
Bukber juga dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk berbagi rezeki, yaitu dengan memberi makan berbuka kepada rekan atau berbagi sembako. Khusus memberi makan berbuka puasa kepada orang lain, disebutkan dalam hadis bahwa pemberinya akan diberikan ganjaran (pahala) seperti pahala orang yang sedang berpuasa itu sendiri (HR. al-Tirmidzi).
Karena itu, bukber bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan aktivitas yang dapat bernilai ibadah apabila diniatkan dengan benar. Namun demikian, dalam praktiknya terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian agar tujuan spiritual Ramadan tidak bergeser.
Pergeseran Prioritas yang Tidak Disadari
Salah satu fenomena yang sering terjadi adalah penundaan shalat Magrib saat acara buka bersama berlangsung. Adzan yang berkumandang kerap dimaknai hanya sebagai penanda waktu berbuka. Setelah itu, banyak orang tetap melanjutkan makan dan berbincang cukup lama sebelum menunaikan shalat.
Penundaan ini terkadang dianggap hal biasa, terutama jika suasana sedang hangat atau hidangan baru saja disajikan. Padahal, shalat Magrib adalah kewajiban yang memiliki batas waktu yang jelas. Meskipun secara fikih masih sah selama dilakukan dalam rentang waktunya, kebiasaan menunda tanpa alasan yang kuat menunjukkan adanya pergeseran prioritas.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebut orang yang suka menunda waktu shalat hingga akhir waktu adalah mereka yang disebut oleh al-Qur’an sebagai saahuun atau lalai (QS. Al-Ma’un: 5). Ia juga menyebut bahwa sifat ini bisa membuat pelakunya termasuk dalam golongan orang munafik.
Dalam konteks ajaran Islam, terdapat perbedaan yang tegas antara amalan wajib dan amalan sunnah. Silaturahmi dan makan bersama adalah perbuatan baik, tetapi kedudukannya tidak berada di atas kewajiban shalat lima waktu.
Hirarki Amal dalam Islam
Islam mengajarkan prinsip tertib dalam beramal. Kewajiban (fardhu) harus didahulukan daripada amalan sunnah. Shalat lima waktu, termasuk Magrib, merupakan rukun yang menjadi fondasi utama ibadah seorang muslim. Dalam banyak literatur fikih dan akhlak, ditegaskan bahwa kualitas keislaman seseorang sangat terkait dengan konsistensinya menjaga shalat tepat waktu.
Bukber, meskipun bernilai sosial dan berpahala, tetap berada pada ranah sunnah atau mubah (boleh). Ketika aktivitas sosial tersebut justru menyebabkan pengabaian atau penundaan kewajiban, maka perlu dilakukan evaluasi. Ramadan seharusnya menjadi momentum penguatan disiplin ibadah, bukan justru melonggarkannya.
Fenomena ini bukan untuk dipandang sebagai kesalahan individu semata, melainkan sebagai refleksi budaya kolektif. Tanpa disadari, suasana kebersamaan bisa menggeser fokus utama dari ibadah kepada aspek sosial.
Islam sejatinya tidak memisahkan antara dimensi sosial dan spiritual. Keduanya saling melengkapi. Namun keseimbangan harus dijaga. Bukber idealnya menjadi sarana memperkuat keduanya sekaligus: mempererat hubungan antarmanusia dan meningkatkan ketaatan kepada Allah.
Masalah muncul ketika dimensi sosial menjadi lebih dominan daripada dimensi spiritual. Antusiasme terhadap hidangan, percakapan, atau dokumentasi kegiatan sering kali lebih menonjol dibandingkan kesiapan untuk segera menunaikan shalat berjamaah. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat membentuk pola pikir bahwa ibadah wajib bisa dinegosiasikan demi kenyamanan sosial.
Padahal, Ramadan adalah bulan pendidikan ruhani. Ia melatih kedisiplinan waktu melalui sahur dan berbuka. Jika dalam aspek makan kita mampu menunggu dengan tertib hingga adzan, maka seharusnya dalam aspek shalat kita juga mampu bersegera ketika waktunya tiba.
Membangun Budaya Buka Bersama yang Lebih Tertib
Salah satu hal yang sering kali membuat orang lalai terhadap shalat ketika bukber adalah serunya perbincangan, terlebih bagi yang baru bertemu kembali setelah sekian lama terpisah. Selain itu, kurang memadainya fasilitas ibadah di tempat bukber juga sering menjadi kendala.
Solusi atas persoalan ini tidak memerlukan langkah yang rumit. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bersama dan komitmen sederhana. Misalnya, menjadikan shalat magrib berjamaah sebagai bagian resmi dari rangkaian acara buka bersama. Setelah membatalkan puasa secukupnya, seluruh bergerak bersama untuk segera menunaikan shalat, kemudian dilanjutkan dengan makan utama.
Tuan rumah atau koordinator dapat berperan aktif dalam mengingatkan waktu shalat dengan cara yang santun. Pemilihan tempat yang memiliki fasilitas memadai untuk shalat juga menjadi pertimbangan penting. Dengan langkah-langkah ini, bukber tetap berjalan hangat tanpa mengorbankan kewajiban.
Dalam hal serunya perbincangan yang membuat orang sering melalaikan shalat magrib, maka solusinya adalah dengan datang lebih awal sebelum waktu berbuka tiba. Dengan demikian, ketika waktu magrib tiba, peserta dapat langsung makan dan segera menunaikan kewajiban shalatnya.
Lebih dari itu, perlu dibangun kesadaran bahwa menjaga shalat tepat waktu merupakan indikator keseriusan seseorang dalam menjalani Ramadan. Aktivitas sosial akan bernilai lebih tinggi ketika tidak mengurangi kualitas ibadah wajib.
Menata Kembali Prioritas di Bulan Ramadan
Pada akhirnya, semangat buka bersama adalah sesuatu yang positif. Ia mencerminkan kepedulian sosial dan kerinduan untuk saling terhubung dalam suasana ibadah. Namun semangat tersebut perlu diarahkan agar tidak menggeser prioritas utama dalam agama.
Ramadan bukan hanya tentang memperbanyak agenda kebersamaan, tetapi juga tentang memperbaiki kualitas hubungan dengan Allah. Jika setiap adzan magrib disambut dengan kesiapan untuk segera menunaikan shalat, maka buka bersama tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi benar-benar menjadi bagian dari pendidikan spiritual yang utuh.
Dengan demikian, keseimbangan antara kebersamaan sosial dan ketaatan personal dapat terjaga. Ramadan pun tidak berhenti pada suasana, tetapi benar-benar menghadirkan perbaikan dalam praktik keagamaan sehari-hari.
Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini