Dalam keseharian kita, pemahaman tentang sabar kerap kali dibentuk bukan oleh ajaran agama, melainkan oleh serangkaian peristiwa yang kita alami. Bila kita pernah melihat sinetron, kerap kali orang sabar ditampilkan sebagai figur yang lemah, tertindas, lugu, tak berdaya, dan mudah ditipu. Gambaran semacam ini, disadari atau tidak, perlahan masuk ke alam bawah sadar kita dan membentuk kesan bahwa sabar identik dengan kelemahan.
Padahal, bila kita menimbangnya secara jernih, yang demikian itu bukanlah sabar, melainkan ketidakberdayaan. Lemah berbeda dengan sabar. Lemah adalah ketiadaan kemampuan, sementara sabar justru menuntut kekuatan: kekuatan menahan diri, mengendalikan emosi, dan bersikap tenang agar tetap berada di jalan yang benar. Karena itu, Islam tidak memuliakan kelemahan. Nabi Muhammad Saw dengan tegas mengingatkan bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Kekuatan itu bukan semata kekuatan fisik, tetapi terutama kekuatan jiwa.
Sabar, dalam pandangan Islam, adalah akhlaqul karimah, karakter luhur yang lahir dari kedalaman iman dan kematangan emosinal. Sabar merupakan bagian dari sya‘bul iman, cabang iman yang mengukuhkan hubungan seorang hamba dengan Allah. Dengan sabar, seorang mukmin mampu menjalankan tugas kehambaannya sebagai ‘abdullah, menerima ketentuan Allah dengan lapang dada, sekaligus menunaikan perannya sebagai khalifatullah di muka bumi dengan penuh tanggung jawab dan kebijaksanaan.
Lalu sabar itu apa? Sabar berasal dari bahasa Arab الصبر (ash-shabru) yang kemudian diserap dalam bahasa Indonesia menjadi kata sabar. Makna asli kata ash-shabru adalah tahan, sehingga kata sabar yang dimaksud ialah kuat, tahan banting dan tak mudah hancur. Dengan makna ini kita bisa memaknai ayat di bawah ini dengan tepat:
قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢبِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Betapa banyak kelompok kecil bisa mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.’ Dan Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqarah: 249).
Ayat tersebut bercerita tentang para prajurit yang tahan banting sehingga meskipun secara kuantitas jumlahnya sedikit, akan tetapi mampu memukul mundur musuh yang jumlahnya lebih banyak. Semangat tahan banting semacam itulah yang disertai oleh Allah dengan kemenangan.
Allah berfirman:
وَكَاَيِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قَاتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْا ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ
Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar” (QS Ali ‘Imran: 146).
Ayat ini sekaligus memberi kita kriteria yang sangat jelas tentang siapa yang disebut orang sabar, yakni dia yang tidak lemah, tidak mudah patah semangat, dan tidak menyerah pada keadaan. Inilah sosok mukmin yang kuat—sebagaimana disinggung Rasulullah Saw—yakni mukmin yang memiliki daya tahan iman, keteguhan jiwa, kemantapan batin dan kejernihan sikap dalam menghadapi realitas hidup.
Keteguhan Hati
Dalam kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah, sabar dimaknai sebagai keteguhan hati dalam menahan diri dari keluhan saat menghadapi takdir yang pahit sekaligus konsistensi (istiqamah) dalam ketaatan, sembari meyakini bahwa setiap ujian adalah bentuk kasih sayang Allah untuk mendekatkan hamba-Nya, bukan tanda murka.
Menurut Quraish Shihab dalam tafsirnya, kata ash-shabr sendiri bermakna menahan diri dari segala sesuatu yang tidak berkenan di hati. Ia juga berarti ketabahan. Imam Ghazali mendefinisikan sabar sebagai ketetapan hati melaksanakan tuntunan agama menghadapi rayuan nafsu.
Secara umum kesabaran dapat dibagi dalam dua bagian pokok: Pertama, sabar jasmani yaitu kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh, seperti sabar dalam melaksanakan ibadah haji yang mengakibatkan keletihan, sabar dalam menjalankan shalat lima waktu, sabar dalam bekerja, atau sabar dalam peperangan membela kebenaran. Termasuk pula dalam kategori ini ialah sabar dalam menerima cobaan-cobaan yang menimpa jasmani seperti penyakit, penganiayaan dan semacamnya.
Kedua, adalah sabar ruhani menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat mengantar kepada kejelekan, seperti sabar menahan amarah, atau menahan nafsu seksual yang bukan pada tempatnya.
Sabar, dengan demikian, adalah kemampuan untuk menahan diri dari segala sesuatu yang tidak diinginkan, baik itu berupa kesedihan, kesakitan, kekawatiran, atau godaan. Dalam konteks beribadah, sabar juga berarti ketekunan dan konsistensi (istiqomah) dalam menjalankan perintah Allah SWT meskipun dihadapkan pada berbagai ujian, cobaan, musibah.
Belajar dari Nabi Ayyub
Saat mendapat cobaan berat yaitu sakit yang berkepanjangan. Nabi Ayyub mengeluh, Rabbi inni massaniyadh-dhurr, “Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit” seperti yang diabadikan dalam firman-Nya,
وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَۚ ٨٣
(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (Q.S. al-Anbiya: 83)
Keluhan Nabi Ayyub perihal penyakitnya yang menahun, tidak membuat dirinya putus asa. Justru, disikapi dengan penuh lapang dada disertai kesadaran penuh bahwa semua yang menimpanya adalah bentuk kasih sayang-Nya, wa anta arhamur rahimin.
Melihat keteguhan hati dan kesabaran Nabi Ayyub, dalam ayat lain, Allah memujinya sebagai seorang hamba yang sabar (ni’mal ‘abd),
إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (kepada Allah) (QS. Shad: 44)
Ayat ini adalah bentuk pujian langsung dari Allah SWT atas ketabahan Nabi Ayyub AS yang diuji dengan kehilangan harta, anak, dan penyakit kulit yang parah selama bertahun-tahun tanpa pernah mengeluh. Setelah pujian kesabaran, Allah menyebut Nabi Ayyub sebagai ni’mal ‘abd (sebaik-baik hamba) karena ia selalu kembali/ taat kepada Allah (awwab).
Dari dua ayat itu kita bisa menyimpulkan bahwa keluhan tidak menafikan kesabaran. Mengeluh itu manusiawi, yang penting jangan berlebihan sampai menggugat takdir dan berprasangka buruk kepada Allah. Dalam satu riwayat, Nabi Muhammad saw. pernah menegur seorang sahabat yang berdoa, “Ya Allah, berikanlah kepadaku kesabaran yang sempurna”. Lalu Nabi saw. berkata, “Jangan, kamu tidak akan kuat menanggung akibatnya”.
Sebab, kesabaran yang “sempurna” dalam logika Al-Qur’an bukanlah kesabaran yang ringan. Sabar, semacam ini, biasanya lahir dari ujian-ujian yang ekstrem, semisal, kehilangan pasangan hidup, wafatnya orang tua atau anak, himpitan ekonomi, kegagalan usaha, bahkan gagalnya cita-cita yang telah lama dibangun.
Maka, teguran Nabi saw sangat beralasan karena jika seseorang memohon kesabaran pada tingkat tertinggi, maka ujian yang menyertainya pun berada pada tingkat yang tinggi pula. Karena itu Nabi saw. mengingatkan, tidak semua orang memiliki kekuatan memikul beban ujian semacam itu.
Namun Nabi saw juga berpesan bahwa menyabari sesuatu yang tidak menyenangkan—betapapun kecil atau besarnya—memiliki nilai pahala yang sangat tinggi. Bertahan dalam situasi yang sulit, lingkungan yang menekan, atau keadaan yang tidak ideal, lalu tetap mampu menjaga iman dan memetik hikmah darinya, merupakan bentuk kesabaran yang agung di sisi Allah.
Kalau dalam bahasa Hikam, Ibn Athaillah menegaskan,
ليخفّف ألم البلاء عليك علّمك بأنّه – هو المبليُ لكَ، فالّذي واجهتْك منه الأقدَار هو الّذي عوَّدَك حسنَ الاختيار
Agar ujian mu terasa ringan, Engkau harus mengetahui bahwa Allah lah yang memberimu ujian. Dzat yang menetapkan beragam takdir atas dirimu dan Dzat yang selalu memberimu pilihan terbaik.
Karena itu, tatkala Allah swt menguji kita dengan beragam cobaan hidup, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengembalikan semuanya kepada-Nya. Menyadari bahwa sumber ujian itu berasal dari Allah, Allah lah yang akan menenangkan hati, meredam gejolak batin, dan menjaga lisan kita dari keluh kesah.
Dari kesadaran inilah sabar tumbuh—bukan sebagai keterpaksaan, melainkan sebagai sikap batin yang lapang. Hati pun belajar menerima, bukan dengan putus asa, tetapi dengan keyakinan penuh bahwa di balik setiap ujian selalu ada pilihan terbaik yang sedang Allah siapkan bagi hamba-Nya.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini