Delayed gratification merupakan konsep psikologi yang menggambarkan kemampuan seseorang untuk menunda kesenangan atau kepuasan sesaat demi memperoleh manfaat yang lebih besar di masa depan. Terkait implementasi dalam pendidikan, konsep ini terlihat ketika peserta didik memilih belajar daripada bermain, menyelesaikan tugas daripada menikmati hiburan, atau tetap berlatih meskipun belum mendapatkan hasil yang diharapkan.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting di tengah berbagai distraksi digital yang menawarkan kesenangan secara cepat dan instan.Tidak sedikit peserta didik menginginkan hasil belajar yang cepat, tetapi kurang siap menjalani proses yang panjang. Ketika menghadapi materi yang sulit, nilai yang rendah, atau kegagalan, mereka mudah kehilangan motivasi. Padahal, keberhasilan pendidikan membutuhkan proses, latihan, dan ketekunan.
Kemampuan bertahan dalam proses tersebut memiliki kedekatan dengan konsep sabar. Sabar bukan sekadar menahan diri dari kesulitan, tetapi kemampuan untuk tetap berada dalam jalan yang benar meskipun hasil yang diharapkan belum segera diperoleh. Sebagaimana firman Allah Swt.:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Terjemah:
“153. Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Sabar dalam Perspektif QS. Al-Baqarah [2]: 153
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sabar mencakup kemampuan menahan diri dalam menghadapi sesuatu yang tidak disukai serta tetap teguh dalam menjalankan ketaatan. Sabar bukan berarti pasif menghadapi keadaan, melainkan kekuatan untuk tetap melakukan sesuatu yang benar meskipun membutuhkan perjuangan (tafsir-ibnu-katsir- [Jilid 1]: 303).
Sementara itu, Prof. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menerangkan bahwa perintah bersabar dan salat merupakan bentuk bimbingan agar manusia memiliki kekuatan spiritual dalam menghadapi kesulitan. Sabar menjadi sumber keteguhan ketika seseorang menghadapi ujian dan berbagai hambatan dalam kehidupannya (tafsir-al-munir- [Jilid 1]: 299).
Jika diterapkan dalam pendidikan, nilai sabar tersebut dapat menjadi fondasi bagi peserta didik untuk menjalani proses belajar. Belajar tidak selalu memberikan kepuasan secara langsung. Ada proses memahami, mengulang, melakukan kesalahan, memperbaiki, dan mencoba kembali. Semua itu membutuhkan kesabaran.
Perpaduan Sabar dan Delayed Gratification dalam Pendidikan
Kemampuan menunda kepuasan dapat membantu peserta didik mengembangkan self-control, regulasi diri, dan ketekunan. Siswa yang mampu menunda bermain untuk menyelesaikan tugas, mengurangi penggunaan media sosial ketika belajar, atau tetap berlatih meskipun belum memperoleh hasil yang memuaskan sedang mengembangkan kemampuan tersebut.
Namun, delayed gratification bukan berarti seseorang harus menghilangkan seluruh kesenangan. Istirahat, bermain, dan hiburan tetap diperlukan. Persoalannya adalah kemampuan mengatur prioritas. Peserta didik perlu belajar membedakan antara kesenangan sesaat dan kepuasan jangka panjang.
Sebagai jalan tengah, konsep sabar dalam Islam memberikan dimensi yang lebih luas. Jika psikologi menjelaskan pentingnya menunda kepuasan demi tujuan, Islam memberikan arah tentang tujuan yang layak diperjuangkan. Belajar bukan hanya untuk mendapatkan nilai, tetapi juga untuk memperoleh ilmu, mengembangkan potensi, dan menjalankan amanah sebagai manusia.
Kemampuan menunda kesenangan tidak muncul secara tiba-tiba. Ia perlu dilatih melalui kebiasaan. Guru dan orang tua dapat membantu peserta didik membangun regulasi diri dengan menetapkan target belajar yang realistis, membiasakan penyelesaian tugas sebelum hiburan, memberikan penghargaan terhadap proses, serta mengajarkan peserta didik untuk menikmati keberhasilan setelah menyelesaikan tanggung jawabnya.
Guru juga perlu membantu siswa memahami bahwa kesulitan bukan tanda ketidakmampuan. Ketika siswa gagal memahami suatu materi, ia perlu diarahkan untuk mencoba strategi lain, bukan langsung menyerah. Sikap tersebut merupakan bentuk sabar dalam belajar.
Penutup
Delayed gratification mengajarkan pentingnya menunda kesenangan sesaat demi mencapai tujuan yang lebih besar yang dapat dipadukan dengan konsep sabar dalam QS. Al-Baqarah [2]: 153. Kesabatan menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai kesulitan dan kesediaan menjalani proses belajar dengan tekun, mengendalikan distraksi, dan tidak mudah menyerah ketika hasil belum terlihat. Oleh sebab itu, peserta didik dididik bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan mengendalikan diri, konsisten dalam proses, dan mampu memilih manfaat jangka panjang daripada kesenangan sesaat. Wallahu a’lam.
Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini