Ramadan: Momen Latihan Ikhlas Hati di Era Validasi

Ramadan telah tiba. Bulan dilipatgandakan amal perbuatan manusia kini di depan mata. Umat Muslim berlomba-lomba untuk mengisinya dengan bertadarus serta aneka kebaikan lainnya. Ada yang beramal secara zahir (tampak) ada pula yang beramal secara sirr (rahasia). Keduanya boleh dan sah-sah saja. Namun di era perkembangan teknologi dan masifnya gempuran konten di media sosial, beramal secara sirr dirasa cukup sulit. Validasi berlebihan menjadi salah satu virus yang cukup mengerikan; beramal karena hajat viewers semata. Lantas, bagaimana Ramadan mampu menjadi momen menjeda agar sampai puncak Ikhlas dalam amal ibadah kita?

Sebelum jauh membahas kata Ikhlas dalam al-Quran, mari kita pahami sejenak secara kebahasaan. Kata ikhlas dari segi bahasa terambil dari kata kha, lam dan sin (khalasha) yang maknanya berkisar pada ‘membersihkan dari yang bukan unsurnya’. Contoh sederhananya, jika dalam suatu wadah terdapat sesuatu yang bercampur dengannya, maka upaya mengeluarkan yang mencampurinya dinamai mengikhlaskannya. Unsur luar yang telah disingkirkan darinya itu dinamai khalish yang seringkali diterjemahkan dengan murni.

Kata Ikhlas, menurut Prof. Quraish Shihab, secara sekilas seolah sepadan dengan shofi (bersih, suci), tapi sebetulnya berbeda. Kata shafi, yaitu sesuatu yang bentuknya tetap, tidak tercampur dengan sesuatu yang menodainya. Kata shofi seringkali diterjemahkan dengan ‘suci’. Jika sesuatu yang tadinya murni lalu bercampur dengan benda lain lalu dibersihkan sampai hilang kandungan yang mencampurinya, maka yang tadinya shafi (suci) itu tidak lagi wajar dinamai shafi tetapi ia dinamai khalish.

Ali bin Muhammad al-Jurjani dalam kitabnya At-ta’rifat mengemukakan beberapa penjelasan tentang hakikat Ikhlas. Antara lain, menurutnya, Ikhlas adalah Anda tidak menuntut satu pihak pun untuk melihat amal Anda kecuali Allah. Atau, menurutnya, upaya pembersihan aneka kegiatan dari segala kekeruhan. Ikhlas bagaikan tabir antara manusia dengan Allah sehingga malaikat tidak mengetahuinya untuk dia tulis, setanpun tidak tahu sehingga ia tidak merusaknya, begitu pula dengan nafsu. Nafsu pun tidak tahu agar ia tidak menyelewengkannya. Lebih jauh, Al Jurjani menjelaskan perbedaan antara Ikhlas dan kejujuran. Kejujuran adalah sumber, wujudnya berada sebelum Ikhlas. Sementara Ikhlas ialah hasil dari kejujuran. Di sisi lain, keikhlasan tidak dapat mewujud kecuali setelah seseorang melangkah dalam aktivitas.

Dari pengertian yang dikemukakan di atas dapat diketahui bahwa kata ikhlas ditujukan untuk menunjukkan makna kesucian dan ketulusan hati dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Ikhlas itu dikaitkan dengan perbuatan, yaitu upaya yang dilakukan untuk menyucikan dirinya dari sifat-sifat mencampuri kemurnian dan ketulusan hati. Orang yang memiliki sifat ikhlas disebut “mukhlish”, yaitu orang yang hatinya selalu bersih dan suci dalam melakukan perbuatan.

Dari uraian di atas, kita merasakan dan memahami bahwa di era masifnya konten-konten di media sosial, menjaga hati diri sendiri adalah lebih baik daripada menjudge orang lain tidak ikhlas, hanya karena, misal, ia membagikan momen sedekahnya di media sosial, atau, ia membuat konten tentang I’tikafnya di masjid. Apalagi dengan pertanyaan, “Kamu nggak Ikhlas ya?” padahal, lawan bicara belum melakukan perbuatannya. Sebab Ikhlas, terletak jauh di lubuk hati manusia dan hanya Allah yang Maha Mengetahuinya.

Lebih lanjut, Prof. Quraish Shihab menguraikan bahwa sifat ikhlas itu hanya ditujukan kepada satu hal saja. Kalau seseorang menyatakan bahwa “Dia ikhlas kepada Allah melakukan sesuatu”, hal itu menunjukkan bahwa pekerjaan yang dilakukannya hanya ditujukan untuk Allah dan karena Allah Swt, tidak ada campur baurnya dengan tujuan atau untuk yang lain.

Secara eksplisit, bentuk kata إخلاص tidak ditemukan di dalam Al-Quran. Yang ada hanyalah bentuk-bentuk yang lain yang merupakan derivasinya, seperti خلصوا (khalashu), خالص (khaalish), أخلصوا (akhlashuu), مخلص (mukhlish), dan مخلصون (mukhlishuun). Bentukan-bentukan (derivasi) dari kata إخلاص yang terdapat di dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 31 kali yang terulang dalam berbagai ayat dalam berbagai surah.

Allah Swt menyatakan dalam berbagai ayat tentang pentingnya sikap ikhlas dalam beragama dan beramal. Sikap ikhlas ini menjadi penting karena sesuatu amal akan menjadi bermakna karena keikhlasan niat, dan ketulusannya. Di antara ayat-ayat yang menerangkan tentang ikhlas itu salah satunya ialah QS. Al-Nisa’ [4]: 146 yang menggunakan kata أخلصوا (akhlashuu): “Kecuali orang-orang yang taubat dan Mengadakan perbaikan [berbuat pekerjaan-pekerjaan yang baik] dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” Selain itu, jika merujuk pada Qs. Al-Bayyinah/98: 5, ayat ini secara spesifik mendeskripsikan karakter orang yang Ikhlas (mukhilisin), “Mereka tidak diperintahkan kecuali hanya menyembah Allah dalam keadaan Ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).

Dalam konteks agama, makna Ikhlas Adalah melakukan sesuatu demi karena Allah dan atau sesuai perintah-Nya. Karena itu yang shalat dengan mengharapkan surga atau takut neraka, tidaklah gugur darinya sifat/nilai keikhlasan. Demikian juga yang memberi hadiah pada teman dengan niat mempererat silaturrahim juga diperbolehkan karena sesuai dengan tuntunan agama.

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki karakter Ikhlas, terlihat ketika ia melakukan dan meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah Swt. Ia harus didasarkan atas keikhlasan, ketulusan, dan kebersihan hati. Oleh sebab itu, ikhlas merupakan landasan sebuah amal. Amal yang dilakukan harus didasarkan atas keikhlasan yang hanya kepada Allah swt. Sebuah amal yang dilakukan tanpa dilandasi keikhlasan, ketulusan, dan kemurnian hati menjadi amal yang sia-sia. Abu Usman al-Maghribi yang juga dikutip oleh Mahmud al-Mishri, menyatakan bahwa ikhlas dalah sikap seseorang yang melupakan pandangan seluruh makhluk Allah terhadap amal yang ia lakukan lantaran selalu (muraqabah) merasa dilihat dan diawasi oleh Tuhannya.

Ada satu hadits popular dan bagus untuk kita renungkan meski penisbahannya kepada Rasulullah Saw dinilai lemah, “Manusia seluruhnya binasa kecuali yang berpengetahuan. Semua yang berpengetahuan pun binasa kecuali yang beramal. Semua yang beramal binasa kecuali yang Ikhlas. Yang Ikhlas pun hati-hati, sebab ia masih dalam bahaya.” Maka, untuk mewujudkan keikhlasan sekaligus menghindari riya’ para pakar sufi menganjurkan agar sedapat mungkin mengurangi penampakan amal walau menampakkannya pun tidak dilarang Allah (Qs. Al-Baqarah/2: 271). Sebagaimana dianjurkan juga menjauhi popularitas atau pujian berlebihan dan selalu menganggap diri masih berkekurangan.

Sejumlah ayat suci Al-Quran dan hadits di atas memberikan tuntunan pada kita bahwa Ikhlas ialah belajar memurnikan amal dari segala niat yang kurang baik. Dalam konteks Ikhlas di era masifnya validasi dewasa ini, Ikhlas menjadi kunci untuk berefleksi. Ikhlas menuntun kita untuk mempertimbangkan secara matang sebelum kita memosting sesuatu atau amal, “Apakah ada manfaatnya? Apakah Allah Ridha?”

Sharing is caring memang penting, tapi saring sebelum sharing jauh lebih penting. Semoga puasa mampu menjadi momen pause untuk merenung dan melatih keikhlasan hati di bulan suci ini. Demikian, Allahu A’lam.

Dr. Ina Salmah Febriani, M.A., Ustadzah di Cariustadz.id

Tertarik mengundang ustadz Dr. Ina Salmah Febriani, M.A? Silahkan klik disini