Qana’ah sebagai Bentuk Self Acceptance Perspektif Al-Qur’an

Self acceptance atau penerimaan diri merupakan kemampuan seseorang untuk menerima kondisi dirinya secara utuh, baik kelebihan maupun kekurangannya. Penerimaan diri menjadi bagian penting dalam kesehatan mental karena membantu individu terhindar dari rasa rendah diri, kecemasan sosial, dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Individu yang mampu menerima dirinya cenderung lebih tenang secara emosional dan mampu menjalani hidup dengan lebih positif.

Sementara dalam Islam, konsep yang berkaitan erat dengan penerimaan diri adalah qana’ah, yaitu sikap merasa cukup dan menerima ketetapan Allah dengan penuh syukur. Qana’ah bukan berarti menyerah tanpa usaha, tetapi kemampuan untuk menerima hidup secara seimbang tanpa dipenuhi iri, gelisah, dan ketidakpuasan. Nilai ini dapat ditemukan dalam QS. Al-Ḥadid [57]: 23 sebagai berikut.

Al-Ḥadid [57]: 23 tentang Isyarat Self Acceptance

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ

Terjemah:

“23.  (Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Menurut Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini mengajarkan manusia agar tidak larut dalam kesedihan terhadap sesuatu yang hilang dan tidak berlebihan dalam menyikapi kenikmatan dunia. Sikap tersebut menunjukkan keseimbangan hati dalam menerima ketentuan Allah (tafsir-ibnu-katsir-juz- [Jilid 8]: 62-63).

Imam Al-Qurthubi juga menerangkan bahwa ayat ini mengandung pendidikan akhlak agar manusia tidak terikat secara berlebihan pada urusan dunia. Ketika seseorang memahami bahwa segala sesuatu berada dalam ketetapan Allah, maka ia akan lebih mudah menerima keadaan hidupnya (tafsir-qurthubi- [Jilid 18]: 75).

Prof. Wahbah az-Zuhaili kemudian menambahkan dalam Tafsir Al-Munir bahwa ayat ini mengajarkan sikap ridha terhadap segala hal yang diterima dalam kehidupan dengan porsi yang seimbang, yaitu tidak terlalu bersedih ketika menghadapi musibah, sebaliknya tidak terlalu bergembira hingga lupa diri (tafsir-al-munir- [Jilid 14]: 359-360).

Sikap ridha tersebut mengindikasikan perasaan merasa cukup atau bisa kita sebut sebagai qana’ah, yaitu menerima ketentuan Allah dengan hati yang tenang tanpa berlebihan dalam kesedihan maupun kegembiraan Mengacu pada penafsiran tersebut, QS. Al-Ḥadid [57]: 23 menunjukkan bahwa ketenangan hidup lahir dari kemampuan menerima diri dan ketetapan Allah secara seimbang.

Hubungan Qana’ah dan Self Acceptance

Self acceptance membantu seseorang menerima dirinya tanpa harus bergantung pada validasi orang lain. Individu yang memiliki penerimaan diri mampu memahami bahwa setiap manusia memiliki kelebihan, kekurangan, dan jalan hidup yang berbeda.

Konsep ini sangat berkaitan dengan qana’ah dalam Islam. Sikap qana’ah membuat seseorang tidak terus-menerus membandingkan hidupnya dengan orang lain karena ia percaya bahwa setiap ketentuan Allah memiliki hikmah. Dengan demikian, qana’ah dapat membantu individu mengurangi kecemasan sosial dan tekanan psikologis akibat budaya kompetisi modern.

Selain itu, qana’ah juga berkaitan dengan rasa syukur dan pengendalian diri. Individu yang memiliki qana’ah cenderung lebih tenang, tidak mudah iri, dan tidak menggantungkan kebahagiaannya pada pengakuan sosial atau materi. Kondisi ini berhubungan dengan meningkatnya kesejahteraan psikologis (well-being).

Sebaliknya, rendahnya penerimaan diri sering membuat seseorang merasa hidupnya kurang dibanding orang lain. Media sosial memperparah kondisi ini melalui budaya pencitraan dan perbandingan sosial. Akibatnya, individu merasa tidak cukup baik, tidak cukup sukses, atau tidak cukup bahagia.

Penutup

Qana’ah dalam Islam merupakan bentuk penerimaan diri yang membantu manusia mencapai ketenangan batin dan keseimbangan psikologis. Melalui QS. Al-Ḥadid [57]: 23, Al-Qur’an mengajarkan agar manusia tidak berlebihan dalam kesedihan maupun kebahagiaan terhadap urusan dunia. Dengan demikian, qana’ah menjadi sikap penting dalam menghadapi budaya modern yang sering mendorong manusia untuk terus membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa tidak pernah cukup. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini