Dengan kita berpuasa di bulan Ramadhan, idealnya kegiatan konsumtif kita berkurang. Jam makan lebih sempit, dan secara pengeluaran seharusnya lebih hemat. Itu di atas kertas.
Faktanya, realitas di lapangan justru berkata lain. Setiap tahun menjelang Ramadhan, harga pangan hampir selalu naik. Ini menandakan bahwa terjadi peningkatan permintaan yang tidak kecil dibanding bulan-bulan lain. Bahkan, Menteri Purbaya menyebut bahwa dalam satu bulan Ramadhan terjadi perputaran uang tidak kurang dari 180 triliun rupiah. Angka ini terasa ironis untuk sebuah bulan yang sejatinya didefinisikan sebagai bulan pengendalian diri.
Fenomena ini mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Kaum muslimin ramai-ramai mengadakan buka bersama di luar rumah. Restoran penuh reservasi, kalau perlu yang berkonsep all you can eat. Yang berbuka di rumah pun tidak kalah kreatif. Kita menyortir mana takjil, mana menu pembuka, dan mana menu penutup. Di bulan selain Ramadhan, kita hampir tidak pernah makan gorengan, buah, es pisang hijau, dan nasi dengan lauk berat di waktu yang sama. Namun di bulan puasa, semua itu bisa hadir sekaligus dalam satu waktu berbuka.
Tentu saja kita bisa berhusnuzan. Melonjaknya harga pangan di bulan suci ini bisa jadi dipicu oleh semangat para dermawan, para muhsinin, dalam mengamalkan hadis Nabi SAW tentang memperbanyak sedekah. Rasulullah adalah manusia paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin menjadi-jadi di bulan Ramadhan (HR. Muslim no. 2308). Dalam hadis lain, Nabi juga bersabda bahwa siapa pun yang memberi makan orang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut (HR. Ibnu Majah no. 1746).
Namun pada titik ini, kita tetap perlu berkaca dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri. Kira-kira, kenaikan harga pangan di bulan puasa ini lebih banyak disebabkan oleh semangat sedekah kita, atau justru oleh kontribusi kulineran kita?
Puasa dan Problem Mengukur Takwa
Allah menegaskan bahwa puasa diwajibkan agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Persoalannya, takwa tidak memiliki alat ukur yang pasti. Tidak ada instrumen bernama taqwa meter. Definisi takwa pun beragam: mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, konsisten dalam kebaikan, menambah ibadah-ibadah sunnah, taqwa juga bisa berarti menghilangkan ego dan keakuan.
Semua penjelasan itu benar, tetapi sulit dijadikan alat evaluasi praktis karena variabelnya terlalu banyak. Karena itu, tulisan ini ingin menawarkan satu cara sederhana yang, insyaAllah, bisa memberikan gambaran apakah puasa kita benar-benar menambah ketakwaan atau justru sebaliknya. Caranya sederhana: di hari ke-30 Ramadhan atau 1 Syawal nanti, silakan ambil timbangan dan timbang berat badan kita masing-masing.
Jika puasa kita benar-benar menjadi sarana pengendalian hawa nafsu, jika puasa kita bukan sekadar pemindahan jam makan, jika puasa kita adalah puncak pengamalan empati sosial, dan jika puasa kita membuat kita merasakan apa yang dialami oleh saudara-saudara kita yang kurang beruntung, maka idealnya, berat badan kita turun atau setidaknya stabil.
InsyaAllah, ini bisa menjadi salah satu checklist kecil keberhasilan puasa dalam membentuk takwa.
Namun ndilalah, jika di 1 Syawal nanti berat badan kita justru naik, maka barangkali perlu segera dilakukan evaluasi serius tentang apa yang keliru dari puasa yang kita jalani.
Penutup
Refleksi ini sama sekali bukan bentuk body shaming. Tulisan ini juga tidak menunjuk hidung siapa pun yang kebetulan sedang struggle dengan berat badannya. Justru Ramadhan hadir sebagai ruang latihan yang penuh rahmat, tempat kita boleh jatuh, menyadari kekeliruan, lalu memperbaiki diri. Karena keberhasilan puasa tidak diukur dari kesempurnaan, melainkan dari kejujuran kita untuk mengevaluasi dan kemauan untuk berubah.
Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag, Ustadz di Cariustadz.id
Tertarik mengundang Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag? Silakan klik disini