Bulan Ramadan hadir sebagai ruang pemurnian ruhani yang berporos pada penguatan takwa, bukan sebagai arena pemuasan dorongan material maupun hasrat libidinal. Secara normatif, syariat puasa ditegaskan dalam Al-Qur’an (Q.S. al-Baqarah: 183) dengan orientasi membentuk pribadi yang bertakwa. Takwa inilah simpul konseptual yang menjiwai seluruh rangkaian ibadah di bulan Ramadan, baik ibadah vertikal—relasi hamba dengan Tuhan (ḥablun min Allāh)—maupun horizontal—relasi sosial antar manusia (ḥablun min al-nās).
Karakter asketis Ramadan tersebut juga dipertegas dalam sabda Nabi Muhammad yang mengafirmasi watak dasar Ramadan yang nirbendawi ini, “Barang siapa yang mendirikan (ibadah) Ramadan dengan penuh iman dan mengharap ridha Allah, maka segala dosanya akan diampuni”. Dalam hadis lain disebutkan, bulan Ramadan terdiri atas tiga keutamaan: ”permulaannya adalah rahmat, di tengahnya adalah ampunan (maghfirah), dan di akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” Lagi-lagi, tidak ada relevansi antara Ramadan dan materialisme libidinal.
Keseluruhan narasi normatif ini kembali menegaskan bahwa esensi Ramadan sepenuhnya berorientasi transendental, jauh dari logika materialisme dan sensualitas duniawi. Dalam konteks puasa, Allah sangat “posesif”, sangat memendam rasa memiliki, terhadap ibadah puasa hamba-hamba-Nya di bulan Ramadan. Jika shalat, zakat dan haji itu untuk (kembalinya pahalanya kepada) manusia, tapi “puasa untuk-Ku”, tegas Allah.
Spiritual Distancing
Dalam konteks ini, puasa dapat dibaca sebagai praktik spiritual distancing—sebuah disiplin asketik yang menuntut manusia mengambil jarak dari kenikmatan yang secara sah ia miliki. Ketika berpuasa, misalnya, kita harus meninggalkan sekian banyak kenikmatan meskipun sah memilikinya. Berhubungan intim dengan istri, misalnya, yang sesungguhnya istri kita adalah milik kita, itupun tidak boleh kita sentuh selama berpuasa.
Contoh berikutnya adalah makanan dan minuman yang ada di rumah, juga tidak boleh kita nikmati selama berpuasa, bahkan ketika berbuka pun kita hanya diperbolehkan menikmati secukupnya saja yang menjadi kebutuhan jasad, tidak boleh berlebih-lebihan.
Logika pengendalian diri itu beresonansi pula dalam ibadah finansial. Harta yang telah mencapai nisab tidak lagi sepenuhnya menjadi milik kita secara privat, ia mengandung hak sosial yang menuntut pelepasan sebagian darinya—2,5 persen—demi kemaslahatan yang lebih luas. Demikian pula zakat fitrah, yang ditunaikan dalam bentuk bahan pangan pokok, menegaskan bahwa solidaritas sosial adalah dimensi inheren dari kesalehan.
Dalam keseluruhan lanskap ibadah Ramadan, zakat tampil sebagai satu-satunya ritus yang secara eksplisit memuat unsur material. Namun justru melalui kalkulasi nominal itulah Islam memperlihatkan bahwa spiritualitas tidak menafikan materi, melainkan menundukkannya di bawah etika transendensi dan tanggung jawab sosial.
Bahkan dalam situasi provokatif sekalipun—ketika seseorang difitnah, disulut emosinya, atau digoda untuk membalas dengan kata-kata kasar dan tindakan destruktif—puasa menuntut agar kita menahan diri dan tidak terpancing atas godaan tersebut. Dalam hadis Nabi disebutkan, jika engkau digoda hal-hal semacam itu, maka katakanlah: inni ṣā’im—“aku sedang berpuasa.”
Puasa, dalam hal ini, mengajarkan kita untuk melakukan praktik spiritual distancing, yakni kemampuan menjaga jarak eksistensial antara dimensi ruhani dan dorongan naluriah, antara kedalaman batin dan rangsangan lahiriah. Dengan latihan ini, seseorang yang tengah berpuasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, akan tetapi juga menarik diri dari tarikan kenikmatan material dan libidinal menuju pusat kesadaran yang lebih jernih, lebih hening, dan lebih transenden.
Rasa Memiliki
Pada dasarnya, tidak ada satu pun di dunia ini yang benar-benar kita miliki. Kita hanya diberikan hak pengelola—harta, jabatan, bahkan tubuh kita sendiri sekalipun. Apa yang melekat dalam diri kita, nafas, aliran darah, organ-organ tubuh lainnya, semuanya milik Allah. Karena itu, kalimat innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn mengingatkan kepada kita bahwa semua berasal dari Allah dan pada akhirnya kembali kepada-Nya. Kesadaran ini membuat kita lebih rendah hati dan tidak mudah merasa paling berkuasa atas apapun yang kita punya.
Ramadan menjadi waktu yang sangat tepat untuk merasakan makna itu secara nyata. Bulan ini bukan hanya soal ibadah pribadi seperti salat dan puasa, tetapi juga momentum pembelajaran sosial. Saat kita menahan lapar dan haus, kita diajak merasakan sedikit saja dari apa yang setiap hari dirasakan oleh mereka yang kekurangan. Dari situ tumbuh kesadaran bahwa kita bukan hidup sendiri, melainkan bagian dari masyarakat yang saling terhubung.
Ketika rasa kebersamaan itu muncul, empati pun ikut tumbuh. Kita jadi lebih mudah tergerak untuk berbagi—baik melalui zakat, sedekah, maupun bantuan sederhana kepada sesama. Di sinilah Ramadan mengajarkan bahwa apa yang kita miliki sebenarnya juga terdapat hak orang lain di dalamnya. Jadi, Ramadan tidak hanya sekadar bulan menahan diri, melainkan bulan belajar melepaskan rasa kepemilikan secara berlebihan, agar kita semakin dekat kepada Allah dan semakin peduli kepada sesama.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini