Islam mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Seorang muslim tidak hanya diperintahkan untuk beribadah, tetapi juga dituntut untuk bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal. Karena itu, Islam tidak menghendaki sikap berlebihan dalam salah satu sisi dengan mengabaikan sisi yang lain.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا﴾
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang pertengahan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)
Ayat ini menunjukkan bahwa umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat yang seimbang, tidak hanya memperhatikan urusan akhirat semata, tetapi juga menunaikan tanggung jawab duniawi yang dibenarkan syariat.
Allah Ta’ala juga berfirman:
﴿وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا﴾
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’: 70)
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa di antara bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia adalah kemampuan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, bekerja dan berusaha merupakan bagian dari kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada manusia. Seorang muslim yang produktif adalah mereka yang mampu menggabungkan kesalehan ibadah dengan kesungguhan bekerja, sehingga urusan dunia dan akhirat dapat berjalan secara seimbang.
Bekerja Tidak Bertentangan dengan Kesalehan
Islam tidak memandang bahwa kesalehan hanya diwujudkan dengan memperbanyak ibadah solat dan dzikir dan meninggalkan aktivitas dunia. Justru seorang muslim yang ideal adalah mereka yang mampu menjadikan pekerjaannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mempersiapkan bekal akhirat.
Sebagian ulama mengatakan manusia itu ada tiga golongan:
Inilah sikap yang paling dekat dengan keseimbangan yang diajarkan Islam, yaitu menjadikan pekerjaan, usaha, dan pencarian nafkah sebagai sarana untuk meraih ridha Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ﴾
“Di masjid-masjid yang telah diperintahkan Allah untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan salat, dan menunaikan zakat.” (QS. An-Nur: 36–37)
Perhatikan bahwa Allah tidak mencela perdagangan dan jual beli. Yang dipuji adalah mereka yang tetap berzikir, mendirikan salat, dan menunaikan kewajiban kepada Allah meskipun sibuk dengan aktivitas ekonomi.
Diriwayatkan pula bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam pernah melewati seseorang yang hanya duduk beribadah. Ketika ditanya siapa yang menanggung kebutuhannya, orang itu menjawab, “Saudaraku.” Maka Nabi Isa berkata, “Saudaramu lebih ahli ibadah darimu.” Sebab ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan saudaranya.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga pernah ditanya tentang seseorang yang duduk di rumah atau masjid sambil berkata, “Aku tidak akan bekerja sampai Allah memberiku rezeki.” Beliau menjawab, “Orang ini tidak memahami ilmu.”
Karena itu, para ulama salaf memandang bahwa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarga merupakan amal yang mulia. Bahkan sebagian mereka berkata:
“Ada dosa-dosa yang tidak dapat dihapus kecuali dengan kesusahan dan keletihan dalam menafkahi keluarga.”
Dengan demikian, bekerja bukanlah lawan dari ibadah. Selama dilakukan dengan cara yang halal dan niat yang benar, bekerja justru menjadi bagian dari penghambaan seorang muslim kepada Allah Ta’ala. Wallahu A’lam.
Muhammad Fadli, Lc., MA., Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Muhammad Fadli, Lc., MA.? Silakan Klik disini