Menjaga Lisan dan Puasa Ramadan

Setiap bulan Ramadan tiba, umat Islam begitu semangat menjalankan ketaatan dan gigih menjaga diri dari berbagai kemaksiatan. Semangat ini menjadi kekhasan tersendiri di bulan Ramadan. Masjid menjadi lebih ramai, tadarus Al-Quran semarak di malam hari, intensitas sedekah meningkat, dan kesadaran moral terasa lebih hidup. 

Berkat puasa Ramadan, seseorang lebih bisa mengendalikan syahwat sehingga segala potensi untuk melakukan ketaatan semakin meningkat. Sebaliknya, potensi melakukan kemaksiatan turun signifikan. Namun hakikat puasa tidak berhenti pada dimensi fisik; menahan makan dan minum semata, akan tetapi puasa merupakan latihan komprehensif pengendalian diri—riyāḍah al-nafs—yang mendidik manusia menata seluruh perangkat moralnya, termasuk yang paling kecil sekaligus paling berbahaya, yaitu lisan. 

Dalam etika Isam, banyak dosa sosial berawal dari kata-kata. Ghibah, misalnya, merusak kehormatan, fitnah menghancurkan kepercayaan, hoaks dan provokasi memecah belah masyarakat, sementara ucapan kasar melukai hati sesama. Karena itu, keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari lapar dan dahaga yang tertahan, melainkan sejauh mana lidah ikut “berpuasa”.

Secara normatif, hadis Nabi menegaskan bahwa siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minum. Ini menunjukkan hierarki nilai yakni pengendalian lidah lebih substansial daripada sekadar menahan lapar.

Lisan: Seribu Pintu Kebaikan

Kalau kita memiliki banyak keterbatasan untuk melakukan kebaikan, maka lakukan satu macam kebaikan yang tidak memerlukan modal apapun, ia hanya memerlukan pengendalian diri kita yaitu al- al-kaff ‘an al-adzā. Pengendalian ini menjadi penting di bulan suci Ramadan. Sebab, tatkala seseorang mampu menahan lapar dan dahaga, semestinya ia juga mampu menahan kata-kata yang melukai, dan menahan hasrat membicarakan aib orang lain.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Al-insān makhbū’un taḥta lisānihi”— manusia tersembunyi di balik lidahnya. Artinya, karakter, kepribadian, dan intelektualitas seseorang tercermin dari ucapannya. Dalam bahasa yang lebih luas, pribadi seseorang itu akan tampak tatkala ia berbicara, apabila terucap perkataan yang baik dari lisannya maka baiklah ia, begitu pula sebaliknya.

Orang berilmu biasanya berbicara dengan pertimbangan, orang bijak berbicara dengan ketenangan, sementara orang yang dikuasai nafsu cenderung berbicara tanpa kendali. Dalam tradisi tasawuf, disiplin lisan bahkan dipandang sebagai salah satu maqām awal bagi siapa pun yang ingin meniti jalan penyucian jiwa.

Tentu, dalam suasana Ramadan, seorang Muslim dituntut menjaga mutu ibadahnya dengan menahan diri dari ghibah, dusta, adu domba, makian, dan ucapan sia-sia. Sebab perilaku lisan semacam ini dapat menggerus pahala puasa, walaupun secara hukum fikih puasanya tetap sah. Nabi ﷺ mengajarkan prinsip sederhana namun mendalam: berbicaralah yang baik atau diam; dan ketika diprovokasi, cukup katakan, “Aku sedang berpuasa.” Inilah adab lisan yang menjadi penjaga nilai spiritual puasa.

Dalam penjelasan hadis tersebut, Mulla Ali al-Qari menukil keterangan dari At-Thibi bahwa orang berpuasa yang tidak menghadirkan keikhlasan atau tidak meninggalkan dosa—seperti kebohongan, fitnah, dan ghibah—pada hakikatnya tidak memperoleh apa pun dari puasanya selain lapar dan haus.

قَالَ الطِّيبِيُّ: فَإِنَّ الصَّائِمَ إِذَا لَمْ يَكُنْ مُحْتَسِبًا أَوْ لَمْ يَكُنْ مُجْتَنِبًا عَنِ الْفَوَاحِشِ مِنَ الزُّورِ وَالْبُهْتَانِ وَالْغِيبَةِ وَنَحْوِهَا مِنَ الْمَنَاهِي فَلَا حَاصِلَ لَهُ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَإِنْ سَقَطَ الْقَضَاءُ

“Orang yang berpuasa bila tidak ikhlas atau tidak menjauhi kemaksiatan seperti dusta, kebohongan, ghibah, dan larangan lainnya, maka ia tidak mendapatkan hasil kecuali lapar dan haus, meskipun kewajiban qadha’ gugur darinya.”

Masih dalam makna hadis yang sama, riwayat dari Abu Hurairah yang dicatat oleh Abu Dawud menegaskan bahwa puasa adalah tameng. Karena itu, orang yang berpuasa tidak boleh berkata kotor atau bertindak bodoh; jika ada yang mencaci atau memusuhinya, hendaklah ia berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Pesan ini menunjukkan bahwa inti puasa tidak sekadar menahan lapar, melainkan menjaga akhlak lisan di tengah ujian interaksi sosial.

Sederhananya, ucapan memiliki pengaruh yang besar terhadap kondisi jiwa, baik secara personal maupun kolektif. Bahasa bukan hanya seakdar alat komunikasi, melainkan instrumen pembentuk kepribadian. Bahkan jauh sebelum teori linguistik modern berkembang, Nabi Ibrahim telah mencontohkan etika tutur kata melalui doanya:

وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَ

“Jadikanlah aku buah tutur yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (Q.S. Asy-Syu’ara [26]: 84)

Doa ini menegaskan bahwa reputasi moral seseorang tidak hanya ditentukan oleh amal perbuatannya, melainkan oleh rekam jejak kata-katanya. Ramadan, dengan demikian, adalah madrasah tahunan yang mendidik lisan kita agar menjadi sumber kebaikan, bukan sebab kebinasaan. Dalam hal ini, puasa Ramadan menjadi satu momentum untuk membiasakan diri berkata dan berbuat baik.

Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini