Ramadan selalu datang dengan suasana yang khas: hati terasa lebih lembut, masjid lebih hidup, dan meja makan menjelang magrib tampak lebih ramai dari biasanya. Namun di balik semarak itu, ada ironi yang kerap luput dari perhatian kita. Demi memuaskan hasrat sesaat setelah seharian menahan lapar, sebagian orang bahkan mungkin di antara kita, justru terjebak dalam euforia konsumsi—membeli aneka hidangan berbuka dalam jumlah berlimpah, tetapi tak semuanya tersentuh.
Piring boleh penuh, tetapi makna puasa terasa hampa. Puasa sekadar menjadi pelampiasan nafsu, bukan sarana syukur dan “hormat” terhadap makanan. Fenomena ini mudah ditemui setiap Ramadan. Pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan modern dipadati pemburu takjil, tangan-tangan menenteng kantong belanja berisi ragam sajian yang kadang melampaui kebutuhan.
Akibatnya, tak sedikit makanan berakhir sebagai limbah, menyisakan tumpukan sampah yang sebenarnya mencerminkan sikap berlebihan (israf). Padahal, esensi puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengajarkan keseimbangan, latihan mengelola hawa nafsu, serta kesederhanaan dalam hidup.
Adab Menghormati Makanan
Salah satu adab dalam berpuasa adalah menghormati makanan. Setiap makanan mengandung nilai kebaikan yang sangat besar bagi manusia. Makanan bukan sekadar sesuatu yang mengenyangkan perut. Makanan adalah anugerah dari Allah yang menghadirkan kekuatan, menopang tubuh, dan memberi tenaga bagi manusia untuk terus berikhtiar dalam hidupnya.
Karena itu, Islam memandang sikap memuliakan makanan sebagai perkara yang tak bisa ditawar. Apa yang bagi kita tampak biasa—bahkan kadang terbuang begitu saja—bisa jadi merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi sebagian saudara kita yang tengah kekurangan. Di situlah kepedulian kita diuji: apakah kita mampu melihat nilai nikmat di balik sebutir nasi, atau justru kita menutup mata dari kenyataan bahwa ada saudara kita yang menantikan rezeki serupa.
Gus Baha dalam salah satu pengajiannya pernah mengingatkan kita tentang rasa hormat terhadap makanan, terutama di bulan Ramadan. “Ketika puasa Ramadan, itu spesial semua. Bahkan air putih pun spesial, makanan seadanya tampak sesuatu yang tak ternilai harganya karena diiringi dengan kehangatan keluarga. Berbuka bersama keluarga. Itu adalah momen yang spesial”, ujar Gus Baha.
Sebagaimana pernah disampaikan Gus Baha “sekadar bertemu makanan itu senang sekali. Makanya ketika nabi memuji Ramadan, li al-shā’im farḥatān—orang yang berpuasa punya dua kebahagiaan. Salah satunya ya saat berbuka. Jadi nabi membayangkan manusia betapapun hebatnya, setinggi apapun ilmunya dan jabatannya, ternyata kebutuhan pokoknya ya makanan”.
Maka wajar jika momen berbuka menghadirkan kegembiraan yang tulus, karena di sanalah manusia merasakan kembali betapa berharganya nikmat yang sering dianggap sepele. Sebagaimana sabda Nabi saw, orang yang berpuasa mendapatkan dua kegembiraan, yaitu saat berbuka dan ketika bertemu dengan Allah di akhirat kelak.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ إِفْطَارِهِ وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهِ عَزَّ وَجَلَّ [رواه أحمد]
“Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw (bahwa) beliau bersabda: Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan: kegembiraan saat berbuka puasa dan kegembiraan ketika menghadap Tuhannya Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung.” [HR Ahmad].
Jadi, pujian Rasulullah saw. terhadap Ramadan menegaskan kemuliaan amal sosial yang bernilai tinggi di sisi-Nya. Bahkan, seseorang yang bisa menghormati makanan itu mendapat ridha Allah SWT. “Kalau seseorang sudah diridhai Allah, itu sudah di atas wali”, ujar Gus Baha. Jadi begitu mudahnya kita memaknai hakikat dari sesuatu yang acap kali kita anggap remeh-sepele yakni makanan.
Dalam hadis sahih, Rasulullah saw bersabda,
إنَّ اللَّهَ لَيَرضى عَنِ العبْدِ يأكُلُ الأكْلةَ فيحمَدُهُ عليها، ويشرَبُ الشَّرْبةَ فيحمَدُهُ عليها
“Sesungguhnya Allah betul-betul ridha pada seorang hamba yang makan lalu dia memuji Allah atas nikmat makanan tersebut dan dia minum lalu memuji Allah atas nikmat minuman tersebut”. (HR. Muslim – 2734)
Hadits ini menunjukkan betapa ekspresi syukur yang tampak sederhana sekalipun tetap bernilai tinggi di sisi Allah. Menafsirkan makna tersebut, Al-Qurthubi menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil penting bahwa mensyukuri nikmat – walaupun kecil dan tampak remeh – makanan, misalnya, merupakan sebab tercapainya ridha Allah Ta‘ala (fīhi dalālatun ‘alā anna syukra an-ni‘mah wa in qallat sababun nayli riḍā Allāh ta‘ālā).
Dengan demikian, betapa mudahnya sesungguhnya jalan menuju ridha Allah itu. Tidak harus menunggu menjadi tokoh besar, tidak harus menanti punya amal luar biasa. Cukup menikmati makanan lalu bersyukur, minum lalu memuji alhamdulillah. Hal yang setiap hari kita lakukan ternyata bernilai tinggi di sisi Allah SWT.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini