Menyambut Ramadan dengan suka cita adalah bagian dari keimanan. Rasulullah Saw dahulu sering memberi kabar gembira kepada para sahabat ketika bulan mulia itu tiba. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Dibukakan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)
Kegembiraan menyambut Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ekspresi syukur atas kesempatan beribadah di bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Di tengah masyarakat, semangat ini tampak dalam berbagai bentuk: membersihkan masjid, memperbanyak tilawah, mempererat silaturahmi, dan tentu saja membangunkan orang untuk sahur.
Tradisi membangunkan sahur telah menjadi bagian dari budaya Ramadan di banyak tempat. Niatnya baik: agar kaum muslimin tidak melewatkan sahur, karena di dalamnya terdapat keberkahan, sebagaimana sabda Nabi
“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Semangat membangunkan sahur adalah bentuk kepedulian sosial. Ia lahir dari keinginan agar orang lain tidak kehilangan keberkahan.
Namun, di sinilah kita perlu berhenti sejenak untuk bercermin.
Ironi Setelah Sahur: Ketika Subuh Terlalaikan
Tidak sedikit yang begitu bersemangat membangunkan orang untuk sahur—berkeliling kampung, memukul beduk, menggunakan pengeras suara, atau membagikan pesan di grup WhatsApp. Akan tetapi setelah itu, mereka justru kembali tidur. Ketika adzan Subuh berkumandang, tubuh masih terlelap. Shalat Subuh yang hukumnya wajib terlewat atau ditunaikan setelah matahari terbit.
Inilah ironi yang patut direnungkan. Sahur hukumnya sunnah, sementara shalat subuh hukumnya wajib. Dalam kaidah syariat, kewajiban selalu lebih utama daripada amalan sunnah. Bahkan dalam hadis qudsi Allah berfirman:
“…Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya…” (HR. Sahih al-Bukhari)
Ayat Al-Qur’an pun memberi peringatan keras tentang kelalaian terhadap shalat:
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)
Ayat ini tidak berbicara tentang orang yang tidak shalat sama sekali, tetapi tentang mereka yang lalai—menunda, meremehkan, atau tidak menjaga waktunya.
Maka bagaimana mungkin kita begitu bersemangat dalam amalan tambahan, tetapi lalai terhadap fondasi utama agama?
Kekeliruan dalam Membiasakan Sahur
Selain persoalan kelalaian shalat, ada pula kekeliruan dalam praktik membangunkan sahur. Salah satunya adalah melakukannya terlalu dini, misalnya pukul dua dini hari, padahal waktu subuh masih tiga jam lagi.
Niatnya baik, tetapi dampaknya perlu dipertimbangkan. Ada orang yang membutuhkan istirahat karena bekerja seharian. Ada pula yang sedang melaksanakan qiyamul lail dan ingin menjaga kekhusyukan ibadahnya. Ketika suara terlalu keras atau waktunya terlalu awal, yang terjadi justru gangguan, bukan kemaslahatan.
Membangunkan sahur di waktu yang terlalu dini sejatinya juga bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Salah satu sunah dalam hal ini adalah mengakhirkan waktu makan sahur, sebagaiman sabda Nabi, “Umatku akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan waktu makan sahur” (HR. Ahmad).
Ada beberapa hikmah mengapa sunah sahur justru dengan mengakhirkan waktunya. Pertama, agar seseorang bisa lebih kuat (tidak cepat lapar) berpuasa. Dan kedua, jarak antara selesai makan sahur dan waktu salah subuh tidak jauh, sehingga orang tidak perlu tidur lagi yang dapat menyebabkan terlalaikannya shalat.
Islam adalah agama yang menjunjung adab dan keseimbangan. Dalam sebuah kaidah disebutkan bahwa menghindari mudarat lebih diutamakan daripada meraih maslahat yang belum tentu besar. Membantu orang bersahur adalah maslahat, tetapi mengganggu banyak orang tanpa pertimbangan waktu adalah mudarat yang nyata.
Fikih Prioritas dalam Ibadah Ramadan
Ramadan seharusnya mendidik kita tentang fikih prioritas (fiqh al-awlawiyat). Mendahulukan yang wajib sebelum memperbanyak yang sunnah. Menjaga kualitas sebelum memperluas kuantitas.
Jika seseorang mampu membangunkan satu kampung untuk sahur, tetapi tidak mampu menjaga shalat subuhnya sendiri, maka ada yang perlu diluruskan dalam pemahaman prioritas ibadahnya.
Shalat lima waktu adalah tiang agama. Ia bukan sekadar rutinitas, melainkan penentu keselamatan amal. Nabi Muhammad Saw bersabda bahwa amalan pertama yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya.
Ramadan bukan hanya tentang semarak suara, tetapi tentang peningkatan kualitas ketakwaan. Bukan hanya tentang membangunkan orang lain, tetapi juga tentang membangunkan diri sendiri dari kelalaian.
Menyemarakkan Ramadan dengan Kesadaran
Tradisi membangunkan sahur tidak perlu dihapus. Ia adalah bagian dari semangat kebersamaan umat. Namun ia perlu ditata dengan bijak: waktu yang proporsional, cara yang santun, dan niat yang lurus.
Yang lebih penting lagi, jangan sampai kita sibuk mengingatkan orang lain, tetapi lupa mengingatkan diri sendiri. Jangan sampai kita menjadi sebab orang lain terjaga untuk makan sahur, sementara kita sendiri tertidur dari panggilan Allah.
Ramadan adalah bulan pendidikan jiwa. Ia mengajarkan bahwa ukuran ibadah bukan sekadar semangat, tetapi ketaatan pada yang diwajibkan. Maka sebelum membangunkan orang lain, pastikan kita telah membangunkan hati sendiri—untuk menjaga shalat, menepati waktu, dan memenuhi kewajiban.
Karena pada akhirnya, yang akan ditimbang bukan seberapa keras suara kita membangunkan sahur, melainkan seberapa taat kita menjawab panggilan-Nya.
Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini