Rukun Islam kelima adalah melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu. Ibadah haji merupakan ibadah yang sarat akan makna spiritual. Berbagai ritual atau manasik yang berada di dalamnya bernilai spiritual dan sesungguhnya sangatlah filosofis. Hakikat haji, dalam pandangan Al-Quran dan ulama sufi, adalah kembali menuju kepada Allah SWT, namun disimbolisasikan dengan menuju kepada Baitullah.
Dengan begitu, orang yang menunaikan ibadah haji diharapkan kembali mendekat kepada Allah, baik secara lahiriah maupun batiniah, serta lebih memiliki kepedulian sosial. Allah swt berfirman,
وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ ۗ ࣖ
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah…”
(QS. Al-Baqarah [2]: 196)
Ayat ini menegaskan bahwa orientasi utama haji adalah lillah (karena Allah). Haji bukan wisata spiritual, bukan pula simbol status sosial, melainkan ibadah total yang mengarahkan seluruh dimensi manusia kepada Tuhan. Dalam konteks ini, Ka’bah sejatinya hanyalah simbol lahiriah, sementara hakikat tujuan sejati ialah Allah Swt sendiri.
Dalam ayat yang lain, Allah swt juga berfirman,
وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙ
(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. Al-Hajj [22]: 27)
Ayat ini menunjukkan panggilan fitrah manusia untuk kembali kepada asal spiritualnya. Haji adalah jawaban atas panggilan Tuhan kepada jiwa-jiwa yang rindu kepada-Nya. Dalam bahasa tasawuf, haji merupakan ruju’ ilallah (kembali menuju Allah).
Kembalilah kepada-Ku
Makna haji yang sesungguhnya adalah kembalilah kepada-Ku, kata Allah SWT. Haji merupakan simbol perjumpaan (liqa’) antara seorang hamba dengan Tuhannya, di mana Ka’bah dimaknai sebagai titik orientasi hati, dan wukuf di Arafah melambangkan puncak ma’rifat (mengenal Allah).
Karena itu, para ulama tasawuf memandang ibadah haji sebagai momentum tazkiyatun nafsi, yakni proses penyucian batin dari berbagai penyakit ruhani seperti kesombongan, egoisme, cinta berlebihan kepada dunia, dan merasa diri lebih mulia daripada orang lain. Ketika seorang jamaah mengenakan ihram, sesungguhnya ia sedang menanggalkan simbol-simbol kebesaran duniawi yang selama ini melekat pada dirinya. Pakaian ihram melambangkan pelepasan identitas duniawi.
Dalam pandangan sufi, ihram adalah simbol mati sebelum mati (al-mautu qabla al-maut), yakni mematikan hawa nafsu dan kesombongan sebelum kematian sejati datang. Tidak ada lagi perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, terpandang atau biasa. Semua berdiri sama di hadapan Allah dengan pakaian putih sederhana yang menyerupai kain kafan. Haji menjadi pengingat bahwa manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah tanpa membawa apapun selain amal.
Lebih dari itu, dalam pandangan sufi, seluruh rangkaian manasik haji sejatinya mengandung simbol-simbol spiritual yang mendalam. Tawaf, misalnya, tidak sekadar mengelilingi Ka’bah secara fisik, melainkan melambangkan hati yang senantiasa berputar mengitari dzikir dan cinta kepada Allah. Sebab Ka’bah sejati, menurut para al-‘arif billah, adalah hati manusia yang dipenuhi cahaya ketuhanan. Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengingatkan bahwa yang paling utama bukanlah membawa tubuh sampai ke Makkah, namun membawa hati sampai ke hadirat Allah.
Demikian pula wukuf di Arafah, ia tidak sekadar berhenti di sebuah padang luas, melainkan momentum perenungan mendalam untuk mengenali diri sendiri sekaligus mengenali kebesaran Tuhan. Adapun sa’i antara Shafa dan Marwah menggambarkan ikhtiar manusia yang tiada henti dalam mencari rahmat dan ampunan Allah. Semua ritual tersebut pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: mematikan hawa nafsu dan menghidupkan hati dengan kehadiran Allah.
Arafah: Inti dari Ibadah Haji
Nama Arafah memiliki makna yang sangat mendalam dalam sejarah spiritual manusia. Dalam beberapa kitab klasik seperti Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, Akhbar Makkah karya Al-Azraqi, serta Tafsir Al-Qurthubi karya Al-Qurthubi, diceritakan bahwa nama Arafah berkaitan dengan perjumpaan Nabi Adam dengan malaikat Jibril setelah Nabi Adam diturunkan ke bumi. Setelah keluar dari surga, Nabi Adam merasakan kesedihan yang mendalam. Ia kehilangan kenyamanan, kemuliaan, dan kedekatan yang dahulu ia rasakan.
Dalam keadaan penuh penyesalan, Nabi Adam terus memohon ampun kepada Allah. Kemudian malaikat Jibril datang membimbing Nabi Adam menjalani manasik haji. Jibril mengajarkan setiap gerakannya hingga sampailah di sebuah padang yang luas. Jibril bertanya kepada Nabi Adam, “Hal ‘arafta?” yang berarti, “Apakah engkau sudah mengerti? Apakah engkau sudah mengenal Tuhanmu dan menyadari kesalahanmu?”
Dengan penuh haru dan tangisan, Nabi Adam menjawab, “Araftu,” aku mengerti, aku mengenal-Mu ya Allah.” Dari jawaban inilah nama Arafah disebut berasal. Karena itu, Arafah bukan sekadar tempat berkumpulnya jamaah haji, akan tetapi simbol kesadaran manusia di hadapan Allah.
Di tempat ini pula manusia belajar mengenali dirinya, menyadari dosa-dosanya, meninggalkan kesombongan, lalu kembali mendekat kepada Tuhannya. Hingga hari ini, jutaan umat Islam datang ke Padang Arafah untuk meneladani pengakuan Nabi Adam: mengakui kelemahan diri, membuang kesombongan dan keangkuhan diri, dan berharap ampunan Allah Swt.
Bagi para pencari hakikat, mereka tidak hanya menghadap Ka’bah sebagai bangunan suci, namun juga menghadapkan hati kepada Sang Pemilik Ka’bah. Karenanya, tatkala membaca ayat iyyaka na‘budu wa iyyaka nasta‘in dalam Surah Al-Fatihah, seorang hamba merasakan kedekatan yang sangat intim dengan Allah. Ia tidak berbicara tentang Tuhan sebagai “Dia” yang jauh, tetapi berbicara langsung kepada-Nya sebagai Tuhan yang dekat dan hadir dalam hatinya.
Dalam suasana spiritual seperti itu, ibadah menjadi sebuah perjumpaan. Tatkala seorang hamba bersungguh-sungguh mendekat kepada Allah melalui doa, dzikir, dan penghambaan, maka Allah pun mendekatinya dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Para sufi menggambarkan keadaan ini sebagai taraqqi, yakni naiknya ruh manusia menuju Allah, dan tanazul, yaitu turunnya rahmat Allah menyambut hamba-Nya.
Karena itu, tidak mengherankan bila banyak jamaah menangis saat berhaji. Air mata itu bukan sekadar luapan emosi, namun tanda hati yang merasa dekat dengan Tuhannya. Haji, pada akhirnya menjadi perjalanan untuk mengenal diri, membersihkan jiwa, dan menyadari bahwa kita sebagai manusia pada hakikatnya hanyalah hamba yang selalu membutuhkan Allah dalam setiap langkah kehidupan kita.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini