Meluruskan Cara Pandang atas Nikmat dan Ujian

Di antara ujian terbesar dalam kehidupan seorang hamba bukan sekadar menghadapi musibah, melainkan memahami hikmah di balik setiap takdir. Sebab pandangan manusia sering kali berhenti pada apa yang tampak, sedangkan hikmah yang Allah berikan jauh melampaui apa yang dijangkau oleh akal manusia.

Tidak sedikit perkara yang dianggap nikmat dan kesenangan justru menjadi sebab kelalaian, sementara sesuatu yang dipandang sebagai musibah ternyata menjadi jalan datangnya keberkahan dan rahmatNya. Yaser Auda mengutip ungkapan Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitabnya Al-Ijtihad Al-Maqashidi: Minat Tashawwuril Ushuli ilat Tanzilil ‘Amali dikatakan:

رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ

Boleh jadi Allah memberimu, tetapi hakikatnya Dia sedang menghalangimu

وَرُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ

Dan boleh jadi Allah menghalangimu, padahal sesungguhnya Dia sedang memberimu.

Ungkapan ini mengajarkan bahwa tidak setiap pemberian adalah tanda kasih sayang, dan tidak setiap penolakan merupakan bentuk murka Allah.  Nilai sebuah pemberian bukan terletak pada banyaknya, tetapi pada sejauh mana pemberian itu mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya dan makin dekat pada kebaikan.

Misalnya, ada orang yang memperoleh jabatan tinggi. Semula ia berharap jabatan itu akan membawanya kepada kebahagiaan.  Namun setelah jabatan itu diraih, waktunya habis untuk pekerjaan, shalat berjamaah mulai ditinggalkan, keluarga terabaikan, bahkan hati menjadi sibuk mengejar pujian manusia.  Secara lahiriah ia memperoleh banyak, tetapi secara ruhani ia justru kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Sebaliknya, ada seseorang yang gagal memperoleh jabatan yang diinginkannya. Pada awalnya ia kecewa dan menganggap kegagalan itu sebagai musibah.  Namun kegagalan tersebut membuatnya memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga, lebih rajin menghadiri majelis ilmu, lebih khusyuk dalam ibadah, dan lebih tenang menjalani hidup. Apa yang tampak sebagai penolakan ternyata menjadi jalan datangnya keberkahan.

Di sinilah pentingnya, berprasangka baik kepada Allah, bahwa Allah tidak pernah menolak apa yang kita inginkan tapi ia sedang memberi yang kita butuhkan Imam Ibnu Athaillah berkata:

إِنْ فُتِحَ لَكَ بَابُ الْفَهْمِ فِي الْمَنْعِ، عَادَ الْمَنْعُ عَيْنَ الْعَطَاءِ

Apabila Allah membukakan bagimu pemahaman di balik suatu penolakan, maka penolakan itu sendiri menjadi sebuah pemberian.”

Sering kali seseorang baru memahami hikmah sebuah penolakan setelah waktu berlalu. Gagal memperoleh pekerjaan, tidak jadi menikah dengan orang yang diinginkan, atau usaha yang tidak berjalan sesuai harapan, pada awalnya terasa sebagai musibah.  Namun setelah beberapa tahun, barulah disadari bahwa Allah sedang menyelamatkan dari pilihan yang tidak terbaik dan mengarahkan kepada jalan yang lebih baik.

Karena itu, Ibn Athaillah mengajak kita jangan hanya bertanya, Mengapa Allah menolak keinginan kita? Tetapi tanyakanlah, apa yang sedang Allah ajarkan melalui penolakan tersebut. Bisa jadi, penolakan hari ini adalah pemberian yang baru dipahami pada kemudian hari.

Cara pandang manusia yang kerap memandangan kesenangan adalah wujud kenikmatan sedangkan cobaan adalah derita, Allah tegaskan karakter demikian dalam firman-Nya:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, ia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.

 وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ , كَلَّا

Tetapi apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, ia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17).

Ayat ini meluruskan cara pandang manusia yang sering menjadikan materi, fisik dan kesenangan sebagai ukuran kasih sayang Allah.  Kalau merasa rezeki dilapangkan, manusia merasa dirinya dimuliakan. Sebaliknya, jika rezekinya merasa lagi susah, ia mengira Allah menghinakannya. Padahal Allah menegaskan dengan satu kata yang sangat tegas, كَلَّا“Sekali-kali tidak.” 

Allah ingin tegaskan Kemuliaan tidakk selalu hadir dalam kelapangan, sebagaimana kesempitan bukan berarti kehinaan. Keduanya adalah ujian yang mengandung hikmah sesuai dengan keadaan setiap hamba. Boleh jadi kelapangan adalah ujian, dan boleh jadi kesempitan adalah kasih sayang yang belum dipahami. Ada ungkapan hikmah yang mengatakan

لَيْسَ الْخَيْرُ كُلُّ مَا أَحْبَبْتَ، وَلَا الشَّرُّ كُلُّ مَا كَرِهْتَ

Tak semua yang engkau sukai adalah kebaikan, dan tak semua yang engkau benci adalah keburukan.

Ungkapan ini seolah menasehati kita semua bahwa Allah tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, tetapi selalu memberi apa yang kita butuhkan.

Mabrur Inwan, M.Ag, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Mabrur Inwan, M.Ag? Silakan Klik disini.