Makna Memakmurkan Masjid dalam QS. At-Taubah: 18

Kita sering mendengar ajakan untuk memakmurkan masjid; bahkan, kita tak jarang melihat manusia berlomba-lomba membangun dan memugar masjid. Selain berniat untuk berkhidmat pada umat, hal ini dilakukan juga dengan tujuan mendapatkan kebaikan di sisi Allah SWT. 

Terlebih lagi, dalam kitab Dalil as-Sailin karya Anas Abu Dawud, ia mengutip satu perkataan dari Tabi’in yakni Qatadah Ibn Di’amah, seorang Tabi’in yang tuna netra tapi mendapat julukan sebagai Qudwatul Mufassirin. Ia berkata:

ما كان للمؤمن أن يرى إلا في ثلاثة مواطن: في مسجد يعمله أوبيت يستره وحاجة لابأس بها

Tidaklah seorang mukmin dipandang kecuali dalam tiga tempat: Masjid yang dimakmurkannya, rumah yang dibangunnya dan keperluan yang dibolehkan. 

Adapun, firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah: 18 adalah:

{ إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ }

Artinya:

Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.

Adapun definisi memakmurkan Masjid dari ayat Ini menurut Wahbah al-Zuhaili adalah:

لزومه و الإقامة فيه وعبادة الله فيه، وبناؤه وترميمه

“Memakmurkan masjid adalah dengan senantiasa menghadirinya dan menetap (beraktivitas) di dalamnya, beribadah kepada Allah di dalamnya, serta membangun dan memeliharanya (merenovasi atau memperbaikinya).”

Dua Jalan Memakmurkan Masjid

Pada penjelasan lanjutannya, ada dua jalan memakmurkan Masjid. Pertama secara Hissiyyah atau pemakmuran fisik dan yang kedua adalah secara ma’nawiyah atau non-fisik. 

Adapun memakmurkan Masjid dengan jalur fisik diantaranya adalah membangun, memugar, membersihkan, memerhatikan akomodasi dan juga turut meng-upgrade fasilitas ibadah. 

Hal ini juga turut di-apresiasi oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana dikisahkan ada sahabat yang memberi lentera untuk kemudahan proses Ta’lim di Masjid Nabawi. Sehingga, ketika kita membantu untuk fasilitas Masjid, kita juga bisa mendapatkan kemuliaan yang demikian. 

Selanjutnya, pemakmuran secara non-fisik bisa dengan beri’tikaf, shalat, dzikir. Satu penjelasan menarik dari Wahbah az-Zuhaili menyampaikan:

درس العلم، بل هو أجله وأعظمه

Bahwa ta’lim adalah hal bentuk dzikir yang paling utama di masjid. 

Hal ini sudah kita bisa rasakan bahwa masjid-masjid saling berlomba untuk mencerdaskan umat dengan mengadakan ta’lim-ta’lim rutin. Tentu, hal ini adalah hal yang harus diapresiasi dan dilanjutkan. 

Sebagai penutup, secara mayor nilai-nilai pemakmuran Masjid yang dijelaskan pada poin-poin ini sudah dilaksanakan. Kita butuh Meng-optimasi kegiatan dengan peningkatan kualitas dan kolaborasi. Kelak, Masjid akan kembali lahir sebagai pusat peradaban Islam.

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini