Lebaran Adalah Ajang Silaturahmi, Bukan Pamer dan Nyinyir

Hari Raya Idul Fitri merupakan momen yang sangat dinanti oleh umat Islam setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan. Hari raya ini sering disebut sebagai hari kemenangan, karena kaum muslimin berhasil menundukkan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah. 

Namun, kemenangan itu tidak hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, melainkan juga melalui akhlak sosial yang baik, salah satunya dengan mempererat silaturahmi. Tradisi saling berkunjung, saling memaafkan, dan berkumpul bersama keluarga telah menjadi ciri khas perayaan lebaran di berbagai negeri muslim, termasuk di Indonesia. 

Pada momen inilah hati yang sebelumnya mungkin dipenuhi kesalahpahaman dibersihkan kembali. Permintaan maaf dan kehangatan pertemuan menjadi sarana untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang. Oleh karena itu, lebaran sejatinya adalah perayaan ukhuwah, bukan sekadar perayaan seremonial.

Perintah Menjaga Silaturahmi

Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap hubungan sosial antarmanusia. Bahkan, menjaga silaturahmi termasuk amalan yang sangat dianjurkan dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT berfirman:

“… Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan (silaturahmi).” (QS. An-Nisa: 1)

Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga hubungan kekeluargaan merupakan bagian dari ketakwaan kepada Allah. Memelihara silaturahmi bukan sekadar tradisi budaya, tetapi juga perintah agama yang bernilai ibadah.

Rasulullah Saw juga bersabda:

Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa silaturahmi bukan hanya membawa kebaikan spiritual, tetapi juga keberkahan dalam kehidupan dunia. Bahkan, Rasulullah Saw menyebut silaturahmi sebagai salah satu amalan yang dapat mengantarkan seseorang kepada kebaikan besar di akhirat. Dalam berbagai riwayat, beliau menegaskan bahwa orang yang menjaga hubungan kekerabatan akan mendapatkan rahmat dan pertolongan dari Allah.

Lebaran: Momentum Memperbaiki Hubungan

Karena itulah, tradisi silaturahmi pada hari lebaran sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam. Ia bukan sekadar kunjungan sosial, tetapi juga sarana memperbaiki hubungan dan membersihkan hati dari dendam serta kebencian.

Dalam suasana Idul Fitri, orang-orang saling berjabat tangan, saling memaafkan, dan berusaha memulai lembaran baru dalam hubungan mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:

Tidaklah dua orang Muslim bertemu lalu berjabat tangan, kecuali diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud)

Hadis ini menunjukkan bahwa pertemuan yang dilandasi dengan niat baik dapat menjadi sebab turunnya ampunan Allah. Oleh karena itu, silaturahmi pada hari lebaran seharusnya dipenuhi dengan kehangatan, kerendahan hati, dan rasa persaudaraan.

Bahaya Pamer dan Nyinyir Saat Lebaran

Sayangnya, dalam sebagian kondisi, makna lebaran sering kali bergeser. Tidak sedikit orang yang menjadikan hari raya sebagai ajang pamer kekayaan atau keberhasilan duniawi, baik disengaja mau pun tidak. Pakaian baru, gadget baru, kendaraan baru, atau pencapaian hidup kadang ditampilkan secara berlebihan demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Padahal, semangat Idul Fitri justru menuntun seorang muslim untuk menjadi lebih tawadhu (rendah hati). Ramadan yang telah dilalui seharusnya melatih hati agar tidak terjebak dalam kesombongan. Jika lebaran justru dijadikan ajang pamer, maka hal itu menunjukkan bahwa pelajaran Ramadan belum benar-benar meresap dalam diri.

Selain pamer, fenomena lain yang sering muncul saat berkumpul di hari raya adalah “nyinyir” atau komentar yang menyakitkan. Misalnya pertanyaan yang menyinggung pekerjaan, kondisi ekonomi, status pernikahan, atau kehidupan pribadi seseorang. Meskipun sering dianggap sekadar candaan, ucapan seperti ini bisa melukai perasaan orang lain.

Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan. Rasulullah Saw bersabda:

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Hadis ini menjadi prinsip penting dalam etika berbicara. Seorang muslim seharusnya menimbang setiap ucapan sebelum mengatakannya. Jika perkataan itu tidak membawa kebaikan, maka lebih baik ditinggalkan. 

Banyak dosa justru berawal dari lisan, seperti menggunjing, menyindir, merendahkan orang lain, atau membicarakan hal yang tidak bermanfaat. Dan pada akhirnya dapat berujung pada pertengkaran. 

Karena itu, menjaga ucapan merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Bahkan Nabi Saw menyebut bahwa seorang Muslim yang baik adalah orang yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya. 

Jika prinsip ini dipegang, maka suasana silaturahmi akan terasa jauh lebih nyaman. Orang yang datang berkunjung tidak merasa dihakimi atau dibanding-bandingkan, melainkan merasa dihargai dan diterima dengan baik.

Menghidupkan Kembali Makna Lebaran

Karena itu, penting bagi kita untuk menghidupkan kembali makna sejati lebaran. Saat berkunjung ke rumah keluarga atau kerabat, yang paling penting bukanlah apa yang kita kenakan atau apa yang kita miliki, melainkan bagaimana kita membawa akhlak yang baik.

Senyum yang tulus, kata-kata yang lembut, dan sikap menghargai orang lain sering kali jauh lebih berharga daripada kemewahan yang dipamerkan. Silaturahmi yang dipenuhi dengan doa, nasihat yang baik, dan percakapan yang menenangkan hati akan membuat lebaran benar-benar menjadi hari yang penuh berkah.

Ramadan telah melatih kita untuk menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Maka Idul Fitri seharusnya menjadi bukti bahwa latihan itu berhasil. Kita tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari kesombongan, ucapan yang menyakitkan, dan sikap merendahkan orang lain.

Akhirnya, marilah kita menjadikan lebaran sebagai ajang silaturahmi yang penuh kehangatan, bukan sebagai tempat pamer dan saling menyindir. Dengan demikian, hari raya benar-benar menjadi hari kemenangan—kemenangan atas ego, kesombongan, dan kebiasaan buruk yang dapat merusak persaudaraan.

Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini