Manusia Diberi Segalanya, Tetapi Banyak Ingkarnya

Allah memberikan manusia bekak yang mencukupi segalanya. Mulai dari bumi dengan segala fasilitasnya, Langit dengan segala keteduhannya dan bahkan anatomi tubuh manusia itu sendiri yang penuh dengan hal-hal yang membuat takjub. Ini adalah fasilitas; agar manusia menjalani hidup  yang nyaman dan penuh kebaikan.

Namun, Al-Qur’an sebagai pedoman hidup menyebutkan bahwa manusia seringkali tertutupi mata dan hatinya dari nikmat-nikmat yang Allah berikan ini. Selalu merasa kurang dan mengingkari apa-apa yang sudah dimiliki. Allah Swt berfirman dalam QS. Ibrahim: 34

وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ    

Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.

Ayat ini, berkaitan erat dengan ayat sebelumnya. Di mana Allah Swt menyatakan bahwa Dia-lah yang menciptakan langut, menurunkan hujan dari langit dan darinya kita dapat menikmati buah-buahan. Menundukkan lautan dan sungai agar kita bisa mengambil kebaikan darinya.

Allah juga yang menundukkan matahari dan bulan agar tetap beredar sesuai porosnya, sehingga pergeseran malam dan siang berjalan proporsional. Andaikan, keteraturan ini Allah cabut, tercabut pula ketenangan hidup manusia di muka bumi. Tata surya juga ikut berantakan.

Namun, apakah ini cukup untuk mencerahkan dan menyadarkan hati manusia? belum tentu. Masih banyak dari kita yang baru bersyukur jika ada keinginan atau doa yang terkabul. Baru bahagia dan merasa diberi nikmat ketika ada harapan yang terwujud. Boleh saja, berbahagia atas nikmat; namun jangan sampai “hasrat” itu menutup segala nikmat-nikmat yang sudah kita nikmati.

Bahkan, dalam setiap pemberian nikmat yang ada; pasti Allah berikan pula nikmat-nikmat yang mengiringinya. Sehingga manusia tidak akan sanggup untuk menghitung segala nya.

Thalq Ibn Hubaib menyampaikan bahwa sesungguhnya hak-hak Allah sangat berat untuk ditunaikan oleh hamba-Nya. Inilah pentingnya kita untuk terus bersyukur dan bertaubat pada-Nya atas keingkaran kita. 

Muhammad bin Idris asy-Syafi’i berkata:

ألحمد لله الذي لا يُؤَدَّى شُكْرُ نِعْمَةٍ مِنْ نِعَمِهِ إِلَّا بِنعمةٍ حَادِثَةٍ تُوْجِبُ عَلَى مُؤَديٍَهَا شُكْرَهُ بِهَا

Segala puji bagi Allah yang setiap kali nikmat-Nya disyukuri, pasti ada nikmat lain lagi yang juga harus disyukuri

  1. Ibrahim: 34 ini memiliki munasabah  dengan QS. An-Nahl: 18. 

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ  

Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Perbedaannya terletak pada penutup ayat. Fakhruddin ar-Razy memberikan keterangan mengenai hubungan kedua ayat ini:

كأنه تعالى يقول: إذا حصلت النعم الكثيرة فأنت الذي أخخذتها, وأنا الذي أعطيتها, فحصل لك عن أخذها وصفان: وهما كونك ظلوما كفورا , ولي وصفان عند إعطائها, وهما كوني غفورا رحيما. والمصود كأنه يقول: إن كنت ظلوما فأنا غفور وإن كنت كفارا فأنا رحيم. أعلم عجزك وقصورك, فلا أقابل تقصيرك إلا بالتوقير, أجازي جفاء إلا بالوفاء.

Seolah-olah Allah Swt berfirman; jika ada nikmat yang banyak, kamu manusia yang mengambilnya dan Aku yang memberinya. Ketika ada nikmat maka muncul 2 sifat dalam dirimu; Dzhalim dan kufur. Sedang saat aku  memberikannya, ada dua sifat padaku; Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Maksudnya adalah seakan-akan Allah berfirman; Jika kamu sangat Dzhalim, maka aku Maha Pengampun. Jika kamu sangat kufur, Maka aku Maha Pengampun.

Aku mengetahui kelemahanmu, kepayahanmu, keteledoran dan kesilapanmu. Tidaklah aku balas kelemahan dan kepayahanmu itu dengan pemberian yang melimpah. Tidaklah pula aku balas sikap acuhmu dengan rasa sayang dan ketulusan. Sehingga Allah berkahi kita hati yang selamat; agar bisa lebih banyak bersyukur atas nikmat-nikmat yang sudah Allah Swt limpahkan serta dijauhi dari sifat ingkar. Wallahu A’lam.

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini