Hidup adalah Perjalanan; Jangan Berlebihan dalam Perayaan

Perjalanan hidup, tidak berakhir setelah kelulusan. Baik lulus dari sekolah menengah, sekolah tinggi atau bahkan lulus doktoral. Hidup akan terus berlanjut; siapa yang merasa cukup dengan pencapaiannya lalu tidak berkembang, maka ia akan habis dilibas cepatnya perputaran roda kehidupan. Kematangan skill, kekayaan pengalaman dan keahlian yang mendalam bukanlah hal instan. Ia harus dipahat secara konsisten dan teliti. Kalau euforia sesaat sampai membuat terlena, atau bahkan membuat kita merasa “cukup” maka saat itu pula hidup terhenti.

Konvoi berlebihan, perayaan ugal-ugalan atau pesta pora yang tak terkendali memiliki banyak mudharat. Selain mubazir; ini juga bisa mengganggu ketertiban umum dan memicu banyak keburukan lain. Serta bertolak belakang dengan ajaran Islam yang mengajak umatnya untuk bersikap produktif dan menebar kemanfaatan. Allah berfirman dalam QS. Al-Insyirah: 7

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ

Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain)

Anjuran Hidup Produktif 

Membahas ayat ini, ada penjelasan menarik dan relevan dari Abi al-Fida Isma’il Ibn Katsir ad-Dimasyqi (w. 774H) dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim. Ia menyampaikan:

إذا فرغت من أمور الدنيا وأشغالها وقطعت علائقها, فانصب في العبادة, وقم إليها ناشطا فارغ البال, وأخلص لربّك النية والرغبة

Jika kalian selesai dari urusan dan kesibukan dunia dan segala yang berkaitan dengan dunia telah putus, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh ibadah kepada Allah, laksanakan dengan giat tanpa pikiran dunia. Ikhlaskanlah niat dan harapan untuk Tuhanmu.

Penting bagi kita untuk terus melanjutkan hidup dengan hal-hal positif. Tentu, bukan berarti kita tidak boleh mengerjakan amal-amal dunia; tapi selalu niatkanlah apapun yang kita lakukan dengan tujuan beribadah kepada Allah. Bekerja, niat mencari rezeki dan nafkah halal. Mengajar, niat memberikan ilmu manfaat dan amal jariyah. Berdagang, berniatlah meniagakan barang terbaik dengan tujuan tercapainya rasa saling ridho.

Sehingga, hidup kita akan kaya dengan makna dan terhindar jauh dari hal-hal yang sia-sia. Bayangkan betapa meruginya ketika kita melaksanakan euforia dengan cara tidak terpuji. Corat-coret baju seragam, padahal bisa disedekahkan. Konvoi ugal-ugalan yang seharusnya bisa digunakan waktunya buat mempersiapkan jenjang selanjutnya. Serta berbagai contoh lain yang bisa pembaca lihat sendiri

Ciri-ciri Baiknya Keislaman Seseorang

Kemanfaatan adalah unsur yang sangat penting untuk dimiliki seorang muslim. Bahkan Abu Zakariya An-Nawawi (w. 676H) mengutip satu hadis dalam Arba’in yang relevan dengan pembahasan ini:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلّم : (مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَيَعْنِيْهِ) حَدِيْثٌ حَسَنٌ، رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَغَيْرُهُ هَكَذَا.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan selainnya seperti ini)

Musthafa Dib al-Bugha dalam Al-Wafi Syarh Arba’in Nawawi mengenai penjelasan hadis ini mengutip satu kisah; bahwa seseorang bertanya kepada Luqman al-Hakim; Apa yang menjadikanmu memiliki derajat seperti ini? Luqman menjawab: Kejujuran, menepati janji dan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat.

Dibanding harus menguras tenaga dan biaya untuk euforia sesaat, distribusikanlah tenaga dan biaya yang kita punya pada hal-hal yang tepat. Memperkuat kemampuan, menambah pengalaman atau belajar mengelola diri lebih bijaksana. Semoga Allah hindarkan kita dari perilaku yang tidak terbuji, dijauhkan dari kesia-siaan. Wallahu A’lam

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini