Hati Sebagai Ukuruan Ketenangan Batin

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tuntutan, banyak orang merasa lelah secara batin. Bukan karena kekurangan fasilitas, melainkan karena hati yang terus gelisah. 

Islam, sejak awal, tidak hanya menawarkan aturan lahiriah, tetapi juga jalan menuju ketenangan jiwa—ketenangan yang tidak bergantung pada keadaan luar, melainkan pada kedalaman hubungan dengan Allah dan kualitas relasi dengan sesama manusia.

Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad Saw, dan suara nurani manusia yang jujur sesungguhnya berbicara dalam satu frekuensi: ketenangan hati lahir dari keselarasan iman, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Tiga dalil berikut memberi gambaran tersinergi tentang hal tersebut, masing-masing dengan sudut pandangnya sendiri.

Jiwa yang Tenang: Rida dan Diridai 

Allah berfirman dalam surah al-Fajr ayat 27-28:

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.”

Dua ayat ini menggambarkan puncak ketenangan seorang hamba melalui panggilan kepada an-nafs al-muthma’innah—jiwa yang tenang. Allah mempersilakan jiwa ini kembali kepada-Nya dengan dua kondisi: rida kepada Allah dan diridai oleh Allah. Ini bukan sekadar gambaran akhir kehidupan, tetapi juga potret kualitas batin seorang mukmin selama hidup di dunia.

Rida kepada Allah berarti menerima ketetapan-Nya dengan lapang dada, tanpa pemberontakan batin yang berlarut-larut. Seorang hamba boleh bersedih dan berduka, tetapi ia tidak menuduh Allah tidak adil. 

Dalam kerangka ini, sebuah nasihat terasa sangat relevan: “Jangan meminta rida Allah terlebih dahulu sebelum rida akan ketetapan Allah.” Ketenangan hati lahir ketika seseorang berhenti memusuhi takdir dan mulai memaknainya sebagai jalan pendidikan dari Allah Swt sambil terus berusaha dalam kapasitasnya sebagai seorang hamba.

Ketika rida telah tumbuh dalam hati, ketenangan tidak lagi bergantung pada kondisi luar. Masalah tetap ada, ujian tetap datang, tetapi jiwa tidak tercerai-berai. Inilah fondasi ketenangan yang kemudian memancar ke dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Akhlak Mulia sebagai Sumber Ketenangan Batin

Rasulullah Saw menegaskan hubungan langsung antara kebaikan dan ketenangan hati dalam hadis: 

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Kebaikan itu adalah akhlak yang mulia, dan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan hatimu dan engkau tidak suka jika orang lain mengetahuinya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kebaikan sejati selalu selaras dengan ketenangan batin, bukan sekadar penilaian lahiriah. Akhlak yang mulia—seperti jujur, adil, amanah, dan menghargai orang lain—menciptakan ketenangan, baik bagi pelakunya maupun bagi lingkungan sosialnya. 

Sebaliknya, perilaku yang melanggar nilai moral sering kali meninggalkan kegelisahan, meskipun ditutupi dengan berbagai pembenaran. Hati yang sehat sulit berdamai dengan keburukan, sekecil apa pun.

Dalam kehidupan sosial, kegelisahan hati berfungsi sebagai pengingat. Ia menjaga seseorang agar tidak menormalisasi kebohongan, manipulasi, atau kedzaliman. Dengan demikian, hadis ini menegaskan bahwa ketenangan hati bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga fondasi penting bagi tatanan sosial yang beradab.

Nurani sebagai Kompas Moral 

Pesan tentang ketenangan hati diperdalam oleh Rasulullah Saw dalam hadis lain, ketika Wabishah al-Asadi bertanya kepada Rasulullah mengenai kebaikan dan dosa. Beliau bersabda: 

“Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah sesuatu yang menenteramkan jiwa dan menenangkan hati, sedangkan dosa adalah sesuatu yang membuat jiwa gelisah dan ragu di dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu.” 

Hadis ini menegaskan peran nurani yang hidup dalam menilai sebuah perbuatan. Ia tidak menafikan pentingnya syariat dan panduan ulama, tetapi mengingatkan bahwa hati yang bersih memiliki sensitivitas moral. 

Tidak semua yang tampak boleh secara formal otomatis membawa kebaikan sosial. Banyak fatwa dan aturan hukum dibuat demi dan untuk kepentingan segelintir orang. Ia boleh jadi benar dari sudut pandang hukum, tetapi hati yang jujur akan merasakan keganjilan. Hati berbicara ketika sebuah tindakan merugikan orang lain, meskipun dibungkus dalih hukum atau kepentingan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, ketenangan hati melahirkan empati, kehati-hatian, dan rasa tanggung jawab. Orang yang terbiasa mendengar suara nuraninya akan lebih bijak dalam bertindak, karena ia tidak hanya mengejar pembenaran, tetapi juga menjaga keadilan dan kemanusiaan. Dari sinilah lahir masyarakat yang tenang—bukan karena bebas konflik, tetapi karena warganya memiliki hati yang hidup.

Ketenangan jiwa, pada akhirnya, adalah buah dari keselarasan: rida kepada Allah, akhlak yang mulia, dan nurani yang jujur dalam kehidupan sosial. Ketika ketiganya bertemu, maka panggilan “kembalilah kepada Tuhanmu” bukan lagi panggilan yang menakutkan, melainkan undangan penuh kemuliaan bagi jiwa yang telah tenang sejak di dunia.

Jiwa yang tenang, yang rida dan diridai oleh Allah Swt, diperintahkan-Nya untuk masuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya (al-Fajr: 29), “yang taat dan memperoleh kehormatan dari-Ku,” tulis Quraish Shihab dalam al-Mishbah

Allah kemudian menutup surah al-Fajr dengan lanjutan janjinya dengan perintah kepada jiwa yang tenang untuk masuk ke dalam surga-Nya (al-Fajr: 30), “yang telah Ku-persiapkan bagi mereka yang taat,” tulis Quraish Shihab.

Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini