Hari Kartini: Memperingati atau Sekadar Meramaikan?

Setiap tanggal 21 April di Indonesia, suasana sekolah, kantor, dan beberapa tempat lainnya berubah menjadi lebih semarak. Anak-anak dan ibu-ibu mengenakan kebaya, baju adat, atau pakaian rapi penuh warna. Sekolah, tempat kerja, hingga fasilitas umum terasa lebih hidup. Dekorasi sederhana hingga meriah disiapkan untuk berbagai kegiatan: fashion show, lomba, hingga spot untuk berfoto.

Semua ini disiapkan untuk memperingati semangat yang dibawa seorang perempuan besar dalam sejarah Indonesia, yaitu Raden Ajeng Kartini. Namun, di tengah kemeriahan itu, muncul satu pertanyaan sederhana yang jarang benar-benar dipikirkan: apakah semua ini benar-benar mencerminkan semangat Kartini itu sendiri?

Kecantikan yang Melampaui Penampilan

Kartini adalah perempuan cantik. Tapi kecantikannya tidak sebatas penampilan lahiriah, yang identik dengan dandanan dan busana semata. Kecantikannya juga terpancar dari cara berpikirnya, dari keberaniannya mempertanyakan keadaan, dan dari keinginannya untuk melihat perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan dan kehidupan.

Kartini bukanlah sosok yang dikenal karena pakaian atau seremoni. Ia dikenal karena gagasannya. Di tengah keterbatasan zamannya, ia mempertanyakan banyak hal yang dianggap wajar, terutama terkait posisi perempuan dalam masyarakat. Ia melihat bagaimana akses terhadap pendidikan sangat terbatas, dan bagaimana perempuan sering kali diposisikan hanya dalam ruang domestik. 

Dari situlah muncul keinginannya untuk membuka jalan—agar perempuan bisa belajar, berpikir, dan menentukan masa depannya sendiri. Bagi Kartini, kemajuan tidak lahir dari apa yang tampak di luar, melainkan dari apa yang tumbuh di dalam: cara berpikir, keberanian bertanya, dan kesempatan untuk belajar.

Ketika Perayaan Kehilangan Arah

Dalam banyak perayaan Hari Kartini hari ini, yang justru lebih menonjol adalah aspek seremonial. Kegiatan belajar mengajar sering kali ditiadakan, lalu diganti dengan berbagai aktivitas seperti fashion show, lomba busana, atau pawai. Anak-anak tampil rapi, cantik dan ganteng, tetapi tidak selalu memahami mengapa mereka melakukan itu semua.

Di titik ini, perayaan mulai bergeser. Dari yang seharusnya menjadi ruang refleksi, ia berubah menjadi rutinitas tahunan. Dari yang seharusnya menumbuhkan pemahaman, ia menjadi sekadar aktivitas yang dijalankan.

Masalahnya sebenarnya bukan pada jenis kegiatannya. Fashion show, lomba, atau pawai bukanlah sesuatu yang keliru. Dalam banyak hal, kegiatan tersebut justru bisa membawa manfaat. Anak-anak belajar percaya diri, berani tampil di depan umum, dan mengenal keberagaman budaya melalui pakaian yang mereka kenakan.

Namun, persoalan muncul ketika kegiatan tersebut berdiri tanpa makna yang menyertainya.

Ketika fashion show hanya menjadi ajang berjalan di atas panggung tanpa penjelasan, ia kehilangan arah. Ketika lomba lebih menekankan pada siapa yang paling menarik secara visual, tanpa ruang untuk berpikir atau berbicara, maka pesan yang sampai menjadi dangkal. Tanpa disadari, nilai yang muncul justru berlawanan: seolah-olah penampilan menjadi hal utama, sementara gagasan dan pemahaman menjadi hal yang dapat dikesampingkan.

Lebih jauh lagi, dalam beberapa kasus, kegiatan yang diadakan justru berpotensi memperkuat stereotip yang selama ini ingin dilampaui. Misalnya, ketika perempuan hanya diidentikkan dengan kegiatan tertentu, atau ketika penilaian lebih banyak bertumpu pada aspek estetika. Hal-hal seperti ini mungkin tampak sepele, tetapi jika terus diulang tanpa refleksi, ia bisa membentuk cara pandang yang keliru.

Mengembalikan Makna Tanpa Menghilangkan Keceriaan

Lalu, mengapa perayaan seperti ini terus berlangsung?

Salah satu alasannya adalah karena kegiatan seremonial lebih mudah diorganisasi. Ia tidak membutuhkan banyak persiapan konseptual, cukup persiapan teknis. Selain itu, kegiatan seperti ini cepat menciptakan suasana meriah yang terlihat “hidup” secara kasat mata. Dalam konteks sekolah, hal ini sering kali dianggap cukup untuk menandai sebuah peringatan.

Di sisi lain, pemahaman tentang Kartini sendiri kerap disederhanakan. Ia lebih dikenal sebagai simbol budaya daripada sebagai pemikir. Akibatnya, perayaan pun lebih menekankan simbol daripada substansi.

Padahal, perayaan yang lebih bermakna tidak harus rumit atau menghilangkan unsur kesenangan. Yang dibutuhkan hanyalah sedikit perubahan arah.

Misalnya, sebelum kegiatan dimulai, siswa bisa diajak memahami secara singkat siapa Kartini dan apa yang ia perjuangkan. Tidak perlu panjang, cukup beberapa menit yang memberi konteks. Dengan begitu, kegiatan yang dilakukan tidak berdiri di ruang kosong.

Fashion show pun bisa tetap dilakukan, tetapi dengan pendekatan yang berbeda. Anak-anak bisa diminta menceritakan pakaian yang mereka kenakan, asal-usulnya, atau makna di baliknya. Mereka juga bisa diberi kesempatan untuk menyampaikan cita-cita atau pandangan mereka tentang masa depan. Dengan cara ini, kegiatan tidak hanya melibatkan tubuh, tetapi juga pikiran.

Selain itu, kegiatan belajar tidak harus sepenuhnya ditiadakan. Ia bisa tetap berjalan dengan pendekatan tematik, misalnya dengan diskusi ringan, membaca, atau menulis refleksi. Dengan begitu, semangat pendidikan yang diperjuangkan Kartini tetap hadir, bahkan di hari perayaannya.

Mengingat, Bukan Sekadar Merayakan

Pada akhirnya, Hari Kartini seharusnya bukan hanya tentang mengenakan kebaya atau berjalan di atas panggung. Ia adalah momen untuk mengingat kembali nilai-nilai yang diperjuangkan: pentingnya pendidikan, keberanian untuk berpikir, dan kesempatan yang setara bagi setiap orang untuk berkembang.

Jika tidak, kita berisiko merayakan sesuatu yang hanya tampak di permukaan. Kita mungkin merasa telah memperingati, padahal yang kita lakukan hanyalah mengulang rutinitas tanpa benar-benar memahami.

Pertanyaannya pun kembali menjadi sederhana, tetapi penting: apakah kita ingin Kartini dikenang sebagai bagian dari seremoni tahunan, yang sering kali ditampilkan dengan perayaan busana dan kecantikan, atau sebagai gagasan yang terus hidup dan relevan dalam kehidupan sehari-hari?

Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini