Hakikat Beragama Yang Sering Dilupakan Manusia

Semakin dalam seseorang memahami agama, semestinya semakin lapang pula sikapnya terhadap sesama. Sebab, pada inti terdalam ajaran agama terletak pada kemanusiaan. Kemanusiaan merupakan landasan dari semua agama. Kemanusiaan menekankan cinta tanpa syarat kepada semua makhluk. Kemanusiaan mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan, latar komunitas, bahkan posisi kawan atau lawan, tidak pernah menjadi alasan untuk menafikan nilai hormat dan kasih.

Memuliakan manusia adalah ajaran mendasar dalam semua agama, tak terkecuali Islam. Islam hadir sebagai jalan hidup yang menautkan manusia dengan Allah SWT, Dzat Yang Maha Transenden, sekaligus menanamkan nilai-nilai moral yang membimbing relasi antar manusia. Agama merupakan institusi fundamental dalam hampir seluruh peradaban, karena praktik keagamaan pada dasarnya selalu melibatkan manusia—dalam hubungannya dengan Tuhan dan dengan sesamanya. 

Dalam bentuknya yang paling murni, agama memupuk rasa kemanusiaan, memperkuat solidaritas, dan mendorong persatuan umat manusia. Namun, ketika agama direduksi sekadar menjadi alat legitimasi ego dan kekuasaan, ia berpotensi berubah menjadi sumber keangkuhan dan perpecahan—digunakan oleh sebagian pihak untuk melegitimasi klaim kebenaran dan menegaskan superioritas atas kelompok lain.

Ḥablun min Allāh dan Ḥablun min al-Nās

Konsep kemanusiaan dalam Islam tidak berdiri di ruang hampa. Ia berakar pada dua relasi yang tak terpisahkan: hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya. Al-Qur’an menggambarkan alam semesta sebagai ciptaan yang ditundukkan untuk melayani manusia—khalifah Allah di bumi—namun sekaligus mengingatkan bahwa setiap unsur ciptaan memiliki tujuan ilahiah, termasuk manusia yang dipanggil untuk menunaikan kehendak-Nya dengan penuh tanggung jawab.

اَلَمْ تَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَاَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةً ۗ

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu. Dia (juga) menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin untukmu. (Q.S. Luqman [31]: 20)

Ayat di atas seakan Allah menegaskan kepada manusia untuk merenung lebih dalam tentang hakikat penciptaan alam semesta ini. Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi untuk kepentinganmu. Al-Ṭabarī dalam Jāmi‘ al-Bayān mengatakan, matahari yang setia menyinari, bulan yang mengatur waktu, bintang-bintang yang menjadi penunjuk arah, awan yang menurunkan hujan—semuanya bergerak dalam keteraturan yang bukan kebetulan.

Demikian pula di bumi, yakni makhluk-makhluk yang melata, pepohonan yang memberi kehidupan, air yang mengalir, lautan yang luas, hingga kapal-kapal yang mengarungi samudra, seluruhnya hadir sebagai sarana kemanfaatan bagi manusia. Semua itu bekerja dalam satu irama rahmat, mengalir demi kemaslahatan hidup manusia: sebagai sumber makanan, penopang kehidupan, pintu rezeki, dan aneka kenikmatan yang sering kali dinikmati tanpa disadari. 

Ada nikmat yang disentuh dan dirasakan secara langsung, ada pula yang manfaatnya menjangkau manusia secara menyeluruh, meski luput dari kesadaran indera. Karena itu, Allah menegaskan bahwa Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya bagi manusia, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Nikmat lahir hadir dalam bentuk kesehatan, rezeki, dan alam yang bersahabat; sementara nikmat batin menjelma sebagai akal, nurani, dan petunjuk iman. Keduanya saling melengkapi, mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar tentang menikmati karunia, melainkan tentang membaca makna di baliknya dan mensyukuri pemberian-Nya dalam kesadaran yang utuh.

Nilai Kemanusiaan

Al-Qur’an sejak awal sudah menekankan satu hal mendasar yang sering kita lupakan: alam melayani umat manusia. Manusia ditempatkan sebagai khalifah di bumi, bukan sebagai penguasa yang sewenang-wenang, tetapi sebagai wakil Tuhan yang bertugas menjaga keseimbangan dan menjaga tujuan-tujuan mulia dari ciptaan itu sendiri. Karena setiap yang diciptakan Allah tidak pernah sia-sia, itulah sebabnya, manusia—kata Tuhan sendiri—adalah makhluk yang dimuliakan. 

Al-Quran berkali-kali menyinggung manusia bahwa “Sungguh, Kami memuliakan anak-anak Adam” (wa laqad karramnā banī Ādam, QS. Al-Isra: 70). Bukan karena agamanya, sukunya, atau afiliasinya, namun semata-mata karena ia manusia. Mereka dibawa melintasi darat dan laut, diberi rezeki dari yang baik-baik, dan diunggulkan atas banyak ciptaan lainnya. Ayat ini, bagi Gus Dur, adalah fondasi etik paling dasar: siapa pun yang merendahkan manusia, berarti sedang berhadapan dengan kehendak Tuhan.

Agama, oleh karena itu, tidak pernah dimaksudkan untuk menambah kegelapan hidup. Al-Qur’an mendengungkan: li tukhrija al-nās min al-ẓulumāt ilā al-nūr—membebaskan manusia dari dunia yang gelap menuju dunia yang bercahaya. Dunia gelap adalah dunia yang dikuasai kebodohan, ketakutan, dan kezaliman; sementara dunia bercahaya adalah dunia yang ditopang oleh ilmu pengetahuan, keadilan, dan keberanian untuk bersikap manusiawi.

Maka, pekerjaan manusia yang paling utama—dan justru paling dicintai Tuhan—bukanlah sibuk menghakimi surga dan neraka orang lain, melainkan hadir di tengah manusia itu sendiri: melepaskan beban penderitaan mereka, menghilangkan rasa lapar dan haus lapar, membagi kegembiraan di hati mereka, merajut tali persaudaraan di tengah perbedaan, menegakkan keadilan, serta menebarkan jaring-jemaring perdamaian dan cinta. 

Dalam banyak hal, spiritualitas tidak boleh terhenti di atas sajadah, melainkan harus mengalir dalam bentuk empati dan kepedulian terhadap sesama. Kita harus mengaitkan esensi keberagamaan dengan aksi sosial. Hubungan dengan Tuhan tidaklah utuh jika tidak disertai dengan hubungan yang baik dengan manusia.

قال النبي صلى الله عليه وسلم : أحب العباد إلى الله تعالى أنفع الناس للناس، وأفضل الأعمال إدخال السرور على قلب المؤمن، يطرد عنه جوعا، أو يكشف عنه كربا، أو يقضى دينا

Rasulullah saw bersabda: Di antara hamba yang paling dicintai Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya, menggembirakan hati setiap mukmin, yang dapat mengobati rasa lapar, menghilangkan kesusahan dan melunasi hutangnya.

Begitulah semestinya kita menjadi manusia. Manusia yang memanusiakan manusia. Manusia yang menjaga dan merawat keseimbangan alam, karena sejatinya manusia adalah alam itu sendiri.

Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini