Haji, Qurban dan Perilaku Kita

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Haji adalah salah satu kewajiban umat Islam, bagi yang mampu. Ibadah haji ini adalah ibadah fisik, yang menuntut kita untuk selalu dalam kondisi fit. Karena semua perilaku ibadah haji ini hampir 90 %nya adalah ibadah fisik.
Wukuf di Arafah ini hanya sekedar kita berada di padang Arafah. Tidak membaca apapun tetap sah haji kita. Di Mina, juga begitu, hanya sekedar berada di Mina. Tidak membaca apapun masih sah haji kita. Tawaf pun kita harus mengelilingi Kabah 7 kali, itu nyata kegiatan fisik kita. Tanpa membaca apapun, sah haji kita. Termasuk sa’i, berjalan dari Safa dan Marwah sebanyak 7 kali, itupun ibadah fisik. Yang jika kita tidak membaca doa apapun, tetap sah haji kita.
Dan yang terpenting adalah keberadaan kita di Saudi Arabia itu adalah ibadah fisik yang harus kita tunaikan dari negara kita menuju Saudi Arabia.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Oleh karena itu maka ibadah haji ini harus diniatkan sejak kita masih dalam keadaan sehat wal afiat. Apalagi di negara kita yang antrian berhajinya sudah puluhan tahun, bahkan di beberapa daerah ada yang lebih dari 20 tahun. Di negara lain ada yang hampir 40 tahun antriannya. Jika tidak dari sekarang kita tidak menyetor setoran haji, maka beberapa puluh tahun lagi baru kita bisa berhaji.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullahh,
Hikmah dari ibadah haji ini adalah, yang pertama dan juga yang terpenting adalah, untuk menggugurkan dari dosa-dosa kita. Rasululloh saw. bersabda, ‘Haji yang mabrur, yang diterima Allah swt, tidak ada ganjarannya selain surga-Nya Allah swt.’ Haji dan umroh yang mabrur itu akan menghapuskan segala dosa-dosa, sebagaimana api dapat menghanguskan segala karat dari besi. Oleh karena itu, pada ibadah haji Akbar yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad saw. tersebut berdoa kepada Allah swt., ‘Ya Allah, ampunilah segala dosa mereka yang melaksanakan ibadah haji pada hari ini’.

Kemudian langsung dijawab oleh Allah swt. melalui malaikat Jibril, ‘semua yang berhaji pada hari ini akan diampuni, kecuali mereka yang zalim.’ Zalim disini diartikan mereka yang curang, mereka yang selalu merugikan orang lain, mereka yang suka mengambil harta/hak orang lain. Namun kemudian Rasul meminta kembali ‘Ya Allah, ampunilah mereka semua tanpa kecuali.’ Namun tidak diperkenankan oleh Allah, dan masih terus digantung jawabannya oleh Allah swt. Sampai hingga waktu beliau di Musdalifah, pagi-pagi sekali kala itu, Allah swt. berfirman ‘Aku ampuni semua mereka yang berhaji dan berumrah pada hari ini sekalipun itu orang yang menzalimi.’ Mendengarnya, Rasululloh saw. tersenyum lebar hingga memperlihatkan taringnya saking lebarnya.

Sahabat lalu bertanya ‘Ya Rasulullah mengapa engkau terlihat tersenyum begitu bahagia?’ Lalu Rasul menjawab ‘Kemarin aku berdoa pada Allah swt. agar diampuni dosanya mereka yang berhaji tersebut,namun Allah tidak mengampuni mereka yang zalim. Namun kali ini Allah menjawab dengan mengampuni semua dosa-dosa meskipun itu adalah bentuk kezaliman kepada orang lain. Walaupun itu adalah dosa sebesar apapun, itu akan diampuni oleh Allah swt, jika hajinya adalah haji yang mabrur. Maka pada saat itu aku melihat semua setan lari terbirit-birit, dan itulah mengapa aku tersenyum.’

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Oleh karena itu, maka pelaksanaan ibadah haji ini memerlukan ekonomi, keuangan, memerlukan pula kesehatan. Dan dengan kesehatan tersebut, kita dapat melaksanakan ibadah haji tersebut dengan sebaik-baiknya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Haji juga memerlukan kesabaran. Karena dengan sejumlah uang yang harus kita keluarkan tersebut ini juga menguji kesabaran kita. Dalam salah satu hadits Rasulullah saw. bersabda ‘Apabila ada orang yang dianggap mampu berhaji namun dia tidak berhaji, maka dia boleh meninggal dalam keadaan Yahudi atau Nasrani’. Artinya, apabila ada orang yang secara finansial sudah mampu membayar setoran ibadah Haji, maka hendaklah dia menyetorkan uang tersebut. Karena sudah lama sekali antrian di negara kita ini.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kita doakan semoga ibadah haji dari negara kita menjadi haji yang mabrur, mudah-mudahan mereka sehat wal afiat sehingga dapat melaksanakan ibadah haji dengan sebaik-baiknya. Karena pahala ibdah haji yang mabrur itu tidak ada lain kecuali surga-Nya Allah swt.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Yang kedua, kita juga disunahkan untuk melaksanakan ibadah kurban. Kurban berasal dari kata koroba, yang artinya dekat. Kurban itu artinya mendekatkan diri kepada Allah swt. Kita sering mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara salat, zikir atau puasa. Tapi khusus untuk kurban yang satu ini, hanya berlaku pada tanggal yang ditentukan. Yakni pada tanggal 10 , 11,12 dan 13 Dzulhijah. Kita disunahkan berqurban dalam bentuk menyembelih baik itu unta atau sapi atau kambing atau domba yang diperbolehkan darinya berkurban.
Salah satu syarat untuk dapat melaksanakannya adalah ikhlas. Kita diperintahkan dalam rangka mendekatkan diri kita kepada Allah swt. terutama dalam kurban ini adalah dengan penuh keikhlasan kepada Allah swt.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullahh,
Ada beberapa kebiasaan kita dalam mengurbankan kambing tersebut yang mungkin kurang sesuai dengan tuntunan nabi kita Muhammad aw. Yang pertama, hendaknya ditajamkan pisau untuk menyembelih kurban tersebut. Ini tidak sesuai dengan hadits yang menyatakan ‘maka tajamkanlah mata pisau dan hendaknya dibuat nyaman kurban tersebut.’

Di dalam kitab-kita fiqih disebutkan bahwa sunahnya dalam menyembelih kambing itu dalam sekali jalan, dan paling lama tiga kali gorokan sudah harus terputus.

Kadang-kadang juga kita mengasah pisau kita di hadapan hewan kurban, hal ini jelas tidak sesuai. Karena tidak membuat nyaman. Atau misalnya kita menyembelih kambing tepat di depan kawanan kambing yang hendak menunggu giliran dipotong, itu juga tergolong tidak membuat nyaman kambing tersebut. Atau kadang malah mengulitinya di depan temannya, itu yang dalam kitab fiqih disebutkan untuk dihindari melakukannya. Ini berdasarkan hadits Rasulullah saw. ‘Hendaknya ditajamkan mata pisaunya dan dinyamankan kurbannya.’

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Yang ketiga, kadang-kadang setelah disembelih hewan tersebut, belum sampai mati, lalu dipotong kakinya, atau kadang dipotong bagian betisnya agar lebih cepat kematiannya. Ini sebagian ulama mengatakan, ini kalau hewan kurban ini meninggal karena dipotong kakinya tersebut, maka hewan itu termasuk bangkai dan haram baginya dimakan. Maka hendaknya dibiarkan terlebih dahulu setelah disembelih hendaknya dilepaskan dan dibiarkan hingga betul-betul tidak ada lagi nyawanya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kemudian dari daging kurban tersebut maka disunahkan kepada si pengurban tersebut untuk dikonsumsi dan dengan demikian maka kurban itu menjadi salah satu implementasi tingkah laku sosial kita kepada sekitar.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Yang terakhir adalah bahwa Allah swt. dan Rasulullah saw. telah mengagungkan bahkan meninggikan, menjadikannya sesuatu yang spesial 10 hari pertama di bulan Dzulhijah ini. Allah swt. dalam al-Qur’an bahkan sampai bersumpah demi 10 hari pertama pada bulan tersebut. Ini menunjukan bahwa 10 hari tersebut adalah hari-hari spesial di sisi Allah swt.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Salah satu amal sholeh yang paling bermanfaat atau paling tinggi nilainya di sisi Allah swt. selain puasa pada hari tersebut adalah bersedekah. Sedekah ini dapat menaungi kita di akhirat kelak, terutama dari kesulitan-kesulitan di hari akhirat nanti terutama dari teriknya panas di padang masyar nanti. Dan yang terakhir yang paling dicintai oleh Allah swt. adalah pada tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijah, yang biasa disebut sebagai hari tasyrik, disitu amal ibadah yang paling diridhai Allah swt. adalah menyembelih kurban.

Disampaikan oleh Dr. Syaerozi Dimyati,MA pada 9 September 2016 di Bellagio Mall, Kuningan, Jakarta.