Empat Adab Penting saat Duduk di Majelis Ilmu

Majelis ilmu adalah taman surga yang ada di bumi, melalui majelis-majelis ini pula terjadi proses transfer keilmuan, keteladanan dan keterjagaan mata rantai sanad dari guru ke murid. Melalui keberkahan ini pula, kita yang hidup pada hari ini bisa menikmati warisan keilmuan untuk menghadapi berbagai tantangan zaman.

Namun, dalam proses belajar dan bermajelis kita juga tidak bisa bertindak sesuka hati atau semena-mena. Ada adab yang harus dijaga untuk melindungi keberkahan ilmu yang kita terima. 

Para ‘Ulama turut memberikan perhatian penting pada aspek adab ini; sebut saja kitab-kitab klasik seperti Ta’lim al-Muta’allim ditulis oleh Burhanuddin az-Zarnuji (w. 620H), Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya Ulama Nusantara Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari (w. 1366H), At-Tibyan fi Adab al-Hamalat al-Qur’an ditulis oleh Abu Zakariyya an-Nawawi (w. 676H)

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dalam kitab-kitab tersebut mengenai adab-adab dalam belajar atau bermajelis. Namun pada tulisan ini, kami ingin mengutarakan 2 adab yang perlu diperhatikan dalam bermajelis.

Datang Tepat Waktu Dan Jangan Menggeser Tempat Duduk Orang Lain

Jika kita ingin duduk pada posisi yang kita inginkan, maka datanglah lebih awal dan jangan meminta orang lain untuk berdiri lalu memberikan tempatnya buat kita. Dalam hadis yang bersumber dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah Saw bersabda: 

لا يقيمنّ أحدكم رجلا من مجلسه ثم يجلس فيه. ولكن توسّعوا وتفسّحو

Janganlah salah seorang di antara kalian menyuruh orang lain agar berdiri dari tempat duduknya lalu dia duduk di sana. Namun hendaklah kalian meluaskan dan melapangkan ruang (HR. Bukhari (6269) & Muslim (2177))

Kita perlu menjaga hak dan kenyamanan sesama pelajar, berlomba dalam kebaikan yang termasuk di dalamnya adalah adab dan etika bermajlis. Sebagai poin tambahan dalam proses belajar; bawalah buku catatan dan tulis apa yang disampaikan oleh guru agar kita tidak mudah kehilangan ataupun lupa dengan pelajaran.

Fokus dan Tutup Majelis Dengan Doa

Syaikh Ali Jum’ah menjelaskan, bahwa fokus ketika belajar ditandai dengan tidak membawa pikiran-pikiran lain selain untuk belajar. Saat belajar, tujukan pikiran untuk menerima ilmu. Sebab jika pikiran tumpang tindih akan mencegah ilmu untuk mudah diserap. 

Selanjutnya, kurangilah obrolan-obrolan tak berguna saat bermajelis. Belajar memang butuh pengorbanan; suntuk, letih dan rasa bosan harus bisa dilawan. Saat kita membiarkan diri untuk tunduk pada rasa bosan sesaat, maka kita akan semakin sulit melatih diri untuk fokus dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Setelah proses belajar dijalani, maka tutuplah dengan do’a. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas kita sebagai pelajar adalah berupaya mendatangi majelis ilmu, menyimak, mencatat dan mengulanginya di lain waktu. Persoalan kecerdasan maupun kecepatan dalam memahami adalah hak Allah untuk memberikan ilmu kepada kita.

Selain itu, doa di penghujung proses bermajelis juga membawa kita menuju ampunan-Nya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang bersumber dari Abu Hurairah RA:

من جلس في مجلس فكثُر فيه لغظه. فقال قبل أن يقوم من مجلسه ذالك: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ. إلّا غفر له ما كان في مجلسه ذالك.

Siapa yang duduk dalam suatu majlis dan banyak berbicara tidak penting, lalu sebelum berdiri dari majelis tersebut dia mengucapkan: Subānaka Allāhumma wa biamdika, asyhadu an lā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaik. Niscaya apa yang terjadi dalam majelisnya tersebut diampuni (HR. At-Tirmidzi No. 3433)

Demikianlah 4 poin kecil yang bisa kita perhatikan. Sejatinya, banyak sekali yang bisa kita pelajari mengenai adab-adab dalam bermajelis. Dimulai sedikit-sedikit tapi bisa dipraktikkan secara perlahan. Wallahu A’lam.

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini